Soal IPO, Direksi PLN Belum Membahas Secara Serius

135
ilustrasi bisnis.com

JAKARTA-Manajemen PT Perusahaan Listrik Negara (Persero) belum membahas rencana PT PLN melakukan penawaran umum saham ke pasar modal atau initial public offering (IPO). Kendati Menteri BUMN, Rini Soemarmo sendiri sudah memberi lampu hijau agar PLN mencari pendanaan lewat pasar modal, mengingat kebutuhan dana PLN untuk ekspansi sangat besar. “Secara internal, kami belum memikirkan untuk melakukan aksi korporasi berupa IPO,” tegas Direktur Bisnis Regional Jawa Bagian Tengah PT PLN Nasri Sebayang di Jakarta, Kamis (7/1).

Dia mengaku kebutuhan pendanaan peseroan memang sangat besar. Apalagi PLN bertanggung terhadap pembangunan proyek pembangkit listrik 10 ribu mega watt (MW). Namun pembahasan untuk mencari dari pasar modal lewat IPO belum dipikirkan. “Tapi memang semuanya akan kami pantau. Kami masih melihat perkembangannya,” paparnya.

Sebagai perseroan besar, katanya, PLN memang ditugaskan pemerintah tidak mencari laba setinggi mungkin. Hal ini tentu sangat kontradiksi dengan karakter investor yang mencari perusahaan yang berlaba besar dan berkinerja baik. “PLN itu tidak berpikir mengenai laba. Kinweja kami itu hanya untuk menyalurkan listrik kepada masyarakat,” kata dia.

Isu PLN agar IPO sempat mencuat ketika Menteri BUMN menginginkan banyak perusahaan pelat merah untuk melantai di bursa. Hal ini perlu dilakukan agar mereka tidak tergantung dari kucuran penyeetaan modal negara (PMN). “Semaksimal mungkin kita tidak akan terlalu bergantung pada PMN, mungkin hanya penugasan-penugasan khusus dari pemerintah yang memang perlu minta PMN. Misalnya, PLN, karena memang programnya sangat agresif dan besar programnya,” kata dia.

Sehingga sebagai alternatif pembiayaannya, kata Rini, didorong sinergi antar-BUMN guna meningkatkan investasi. Selain itu, ia juga membuka opsi penawaran saham perdana (Initial Public Offering/IPO) BUMN.

Dalam rencana kucuran PMN 2016 yang ditolak DPR, PLN memang mendapat jatah terbesar Rp10 triliun. Karena memang kebutuhan PLN untuk belanja modal sangat besar. Di sisi lain, untuk menggenjot pembiayaan, PLN juga kerap menerbitkan global bond. Pada pertengahan 2014 PLN juga menerbitkan global bond berdenominasi valas senilai US$2 miliar untuk pengembangan jaringan listrik di sejumlah daerah. (TMY)