Sosok ‘Prime Mover’ Itu Bernama Pak Cik

481
Politisi Partai Hanura, Sayed Junaidi Rizaldi

Republik ini perlu petarung bukan pecundang, jangan pernah lelah berjuang. Harapan pasti ada untuk merubah agar jalannya reformasi sesuai dengan apa yang telah kita cita-citakan. Yang pernah kita suarakan dari jalanan.

Itulah prinsip perjuangan Sayed Junaidi Rizaldi, seorang aktifis mahasiswa 98 yang kini menjadi politisi Partai Hanura.

Nama Sayed atau yang sering disapa Pak Cik ini mungkin tidak setenar tokoh-tokoh besar di Partai Hanura. Namun kontribusinya demi melambungkan nama partai yang didirikan Jenderal (Purn) Wiranto itu tidak perlu diragukan.

Pak Cik terus berjuang agar Partai Hanura menjadi obor perjuangan bagi rakyat Indonesia.

Dikalangan koleganya, Pak Cik dikenal salah sebagai pemikir progresif revolusioner.

Dia tampil sebagai manusia prime mover (penggerak utama) yang bisa menerobos tembok-tembok primordial dengan sebuah  visi yang kuat tentang Indonesia yang satu, utuh dan  damai.

Baginya, NKRI harga mati dan sudah final. Makanya, Pak Cik selalu berjuang demi kepentingan bersama tanpa memandang latar belakang sosial, budaya dan politik.

“Prinsip perjuangan saya itu harus berada di atas semua kepentingan politik,” terangnya.

Kehadirannya di panggung politik Indonesia ibarat nyala api di tengah kegelapan, yang tidak pernah padam oleh terpaan badai. “Bangsa ini butuh pejuang dan bukan pencundang,” ujar peraih gelar S-2 di Bidang Politik di Universitas Indonesia (UI) ini.

Meski berkecimpung di dunia politik praktis, Pak Cik ternyata bukanlah berasal dari keluarga politisi.

Sayed berasal keluarga sederhana di Dumai yang lahir dari pasangan Sayed Abdul Rachman dan Syarifah Rodiah. Namun ketertarikan lelaki kelahiran 19 Desember 1974 ke dunia politik berawal dari dunia kampus.

Jiwa Sayed muda merasa terpanggil untuk membenahi persoalan yang melanda bangsa ini. Darah mudanya mendidih melihat ketimpangan yang terjadi diantara sesama anak bangsa. Maka Sayed pun terjun ke panggung politik praktis.

Baginya, berjuang melalui jalur parlemen jauh lebih efektif ketimbang teriak dijalanan.

Pak Cik pernah  menjabat Ketua DPD Partai Hanura Provinsi Riau periode 2010 – 2016 dan kini menjadi wasekjend DPP Partai Hanura . “Sejatinya perjuangan itu tidak pernah akan berhenti. Maka peran serta dalam rangka kontribusi riil anak bangsa dalam membangun bangsanya maka saya mendedikasikan ikhtiar politik dengan bergabung Partai HANURA, sebagai kanal aspirasinya,” terangnya.

Salah satu mimpi besar Pak Cik adalah perubahan. Perubahan agar Indonesia memiliki masyarakat yang lebih sejahtera. Perubahan agar Indonesia menjadi negara yang lebih baik. “Saya ingin, bangsa ini berubah kearah yang lebih baik,” ujar suami Rr. Setyowati,SE

Aktifis

Keaktifan Sayed dalam dunia organisasi memang sudah terlihat di tahun pertama perkuliahannya.  Selain itu, Sayed adalah orang yang ikut membantu membentuk berdirinya Teater Hijau 51, sebuah UKM Seni yang saat ini banyak diminati mahasiswa di UPN Veteran Jakarta. Ketertarikannya pada Sastra juga ditunjukkan Sayed dengan menulis puisi-puisi patriotik yang berbicara tentang ‘perubahan. Dan juga wadah candradhimuka kaderisasi di almamaternya pusat pemberdayaan Masyarakat Bata Merah.

Alhasil, Sayed juga menjadi bagian dari Gerakan Reformasi 1998 yang mewakili aktivis-aktivis UPN Veteran Jakarta untuk membuat perubahan baru yang lebih baik di Negara Kesatuan Republik Indonesia. Diskusi mahasiwa mengenai Reformasi ini sudah dimulai sejak 1996.

Diskusi ini berawal dari kegelisahan mahasiswa akan kehancuran NKRI atas berkuasanya seorang pemimpin negara selama lebih dari 30 tahun. Diskusi-diskusi inilah yang menjadi bagian dari hari-hari Sayed. Hingga akhirnya, Sayed dan beberapa rekan mahasiswa lainnya berhasil membawa isu ini untuk didiskusikan di tingkat Senat.

Pada tahun 1997, Sayed bersama rekannya dari Fakultas Kedokteran UPN Veteran Jakarta terlibat dalam diskusi serius mengenai pergerakan mahasiswa di Forum Komunikasi Senat Mahasiswa Jakarta (FKSMJ).

Di FKMSJ ini, beberapa aktivis yang berasal dari Untag Jakarta , IKIP Jakarta (saat ini telah berubah nama menjadi Universitas Negeri Jakarta), Universitas Mercubuana, Univ Moestopo dan Universitas YARSI berdiskusi tentang pergerakan besar yang akan dilakukan mahasiswa untuk melakukan protes pada rezim yang saat itu sedang berkuasa.

Satu bulan setelah pendirian organisasi ini, yaitu pada 17 April 1996, FKSMJ mulai unjuk gigi dengan melakukan aksi demonstrasi untuk menolak kenaikan biaya angkutan umum. Aksi ini dilakukan di Departemen Perhubungan Jakarta. Pada 27 Juli 1996, Sayed dan rekan-rekannya kembali melayangkan protes pada pemerintah yang kemudian berakhir rusuh

Aksi berani para aktivis yang menjadi tempat Sayed bergabung ini kembali ditunjukkan pada peristiwa 27 Juli 1997 untuk melakukan gerakan penolakan pencalonan kembali (Alm.) Soeharto sebagai Presiden Republik Indonesia. Aksi protes ini terus berlanjut hingga pecahnya peristiwa Mei 1998 yang membuat Presiden kala itu meletakkan tampuk kekuasaan yang telah ia miliki selama 32 tahun. Beberapa mahasiswa yang menjadi aktivis di FKSMJ ini sempat diamankan oleh rezim yang berkuasa. Namun, koordinasi yang solid dari UPN Veteran Jakarta. Kini para aktifis 98 mulai dikonsolidasikan dengan terbentuknya Rumah Gerakan 98 dimana Pakcik dipercaya untuk menduduki jabatan Sekjend DPN Rumah Gerakan 98.

Pengalaman berharga ketika menjadi aktivis di masa-masa kuliah ini lah yang pada akhirnya membuat Sayed berhasil menjadi politisi. Latar belakangnya yang menginginkan perubahan baik untuk Indonesia, selama menjabat menjadi politisi, Sayed beberapa kali langsung datang ke daerah-daerah kecil di Riau bahkan Indonesia dengan tujuan agar setiap daerah bisa mendapatkan pemerataan dalam segala bidang.

Dengan jabatan yang ia miliki saat ini, Sayed tetap membawa mimpinya ketika masih kuliah, yaitu membawa perubahan untuk Indonesia. “Bagi saya, jika pertarungan sudah dimulai, maka mundur tidak lah boleh dilakukan karena perjuangan harus selalu dilakukan tanpa peduli kalah atau menang karena mundur itu bentuk sikap pengecut ,” ujar ayah dari Sayed Aqbil Ruhullya Muntazhar dan Syarifah Risya Dara Saqueena serta Syarifah Sauza Dyah Gayatri  ini. (Alex Marten)