Suku Bunga Rendah Bisa Gerakkan Ekonomi

37
infobanknews.com

JAKARTA-Gerak pertumbuhan ekonomi nasional terhambat lantaran masih tingginya suku bunga. Padahal rendahnya suku bunga mampu menggerakan perekonomian. “Kalau suku bunga bisa turun, maka perekonomian kita bisa lebih cepat dan pemerataan bisa lebih terjamin,” kata Staf Khusus Urusan Pemantauan Kebijakan Ekonomi, Kementerian Koordinator Perekonomian, Purbaya Yudhi Sadewa, di Jakarta, Rabu,(20/3).

Diakui Purbaya, suku bunga tinggi memberikan keuntungan yang besar bagi perbankan.  Namun berdampak negatif pada perekonomian. “Suku bunga tinggi menyebabkan keuntungan perbankan menjadi besar. Untuk perbankan, bagus, tapi buat perekonomian tidak bagus,” tambahnya

Namun demikian, kata Purbaya lagi, pemerintah sudah berupaya untuk menganjurkan bank-bank BUMN untuk menurunkan tingkat suku bunga, namun pada kenyataannya bank-bank tersebut tidak mau mnurunkan suku bunga dengan alasan merugi. “Dulu Presiden pernah panggil para pemimpin perbankan BUMN ke istana, meminta penurunan suku bunga tapi tidak dilaksanakan dengan berbagai alasan,” katanya.

Selain itu, menurut Kepala Riset Danareksa Research Institute, kebijakan pemerintah dalam penyerapan anggaran selama ini kurang maksimal. Sehingga jika hal ini ditambah dengan rencana kenaikan harga BBM, maka likuiditas di sistem perbankan akan semakin kecil.

Hal ini, dikatakannya akan menyebabkan perbankan berlomba-lomba untuk menaikkan suku bunga demi menarik dana dari masyarat sehingga suku bunga makin sulit untuk turun.

Yang jelas, kata Purbaya, akses perbankan belum bisa menyentuh kalangan menengah ke atas secara menyeluruh, sehingga membuat mayoritas pengusaha mengembangkan usahanya dengan dana yang berasal dari kantong pribadi. “Dari survei, pengusaha untuk mengembangkan usahanya, 70 persen biaya sendiri, 30 persen dibiayai perbankan,” tukasnya

Dikatakanya, kalangan menengah ke atas banyak yang tidak menggunakan fasilitas pembiayaan perbankan karena lebih percaya pada keuangan sendiri. “Pengusaha besar lebih senang menggunakan biaya sendiri untuk membangun bisnis, termasuk juga dalam hal ekspansi bisnis karena mereka lebih percaya keuangan sendiri,” ucapnya.

Purbaya menambahkan bila kalangan atas saja masih belum bisa seluruhnya mendapatkan layanan perbankan, terlebih bagi masyarakat menengah ke bawah.

Menurut dia, “financial inclusion” itu bukan saja terkait pada upaya memperluas akses perbankan pada seluruh lapisan masyarakat tetapi juga harus didukung oleh tingkat suku bunga kredit perbankan yang wajar. “Esensi inklusif itu bukan hanya akses pada lembaga jasa keuangan saja tapi juga akses dengan bunga yang wajar,” pungkasnya. **can