Tannas di Bidang Pariwisata, Mahasiswa Harus Kenal Papeda, Gudeg dan Konro

19
AM Putut Prabantoro dalam paparannya di hadapan ratusan mahasiswa Politeknik Pariwisata Palembang, Senin (04/02/2019)

PALEMBANG-Ketahanan Nasional (Tannas) di Bidang Pariwisata harus dimulai dengan memperkenalkan berbagai macam makanan tradisional kepada anak didik. Ketidaktahuan anak didik terhadap kayanya budaya kuliner asli Indonesia menyebabkan pariwisata Indonesia tidak berkembang dan tanpa disadari akan digeser oleh kuliner asing.

Karena itu, memperkenalkan segala jenis kuliner asli Indonesia sejak dini secara tidak langsung juga akan menciptakan ketahanan pangan dan industri pariwisata Indonesia.

Demikian ditegaskan oleh Alumnus Lemhannas PPSA XXI, AM Putut Prabantoro kepada ratusan mahasiswa Politeknik Pariwisata Palembang dalam kuliah perdana, Senin (04/02/2019).

Dalam kuliah perdana yang dibuka oleh Direktur Politeknik Pariwisata Palembang, Dr. Zulkifli Harahap.MM, hadir juga sebagai pembicara dalam kuliah perdana itu, Staff Ahli bidang Ekonomi dan Kawasan Pariwisata, Kemenpar Dr. Anang Sutono, MM.Par, CHE, Ferdiansyah (Komisi X DPR RI) dan Caturida Meiwanto Doktoralina (Ketua Asosiasi Dosen dan Guru Provinsi Banten, yang juga alumnus Lemhannas PPSA XXI).

Dalam paparannya yang berjudul “JADI “LOE” MAU GIMANA, COY ?, Putut Prabantoro mengawali kuliahnya dengan memperkenalkan besarnya sebuah negara yang bernama Indonesia.

Disebutkan, luas Indonesia itu adalah separoh luas Australia, lebih luas dari Benua Eropa yang terdiri dari 11 negara. Bahkan Provonsi Palangkaraya luasnya tiga kali negara Singapura, Danau Toba luasnya 570 kali negara Monaco atau Provinsi Jawa Timur luasnya 2,5 kali negara Kuwait.

“Dengan luasan seperti itu, berbagai macam makanan tradisional ada di setiap daerah ataupun pulau. Rata-rata mahasiswa belum pernah ke daerah-daerah di lain pulau di Indonesia. Sehingga seharusnya ada kurikulum wajib untuk mahasiswa pariwisata pergi ke daerah lain di Indonesia dan mengenal tanah air, budaya suku-suku di Indonesia serta kuliner khas daerah masing-masing seperti papeda, gudeg, conro dll. Tanpa memperkenalkan daerah dan makanan khasnya ke Indonesia, pendidikan pariwisata Indonesia akan hilang karena anak didik berkiblat pada kuliner barat,” tegas Putut Prabantoro.

Oleh karenanya, Putut Prabantoro, yang juga konsultan komunikasi publik itu, menyarankan, agar institusi pendidikan pariwisata Indonesia memperkenalkan kekayaan potensi pariwisata termasuk budayanya dan juga kekayaan kuliner tradisional Indonesia agar anak didiknya membumi pada kekayaan dan keindahan tanah airnya.

Sementara itu, Caturida Meiwanto Doktoralina menegaskan bahwa, untuk mencapai keberhasilan di bidang pariwisata, para mahasiswa harus mengerti kondisi persaingan dunia tourisme di dunia.

Diibaratkan dengan burung elang, yang ingin berusia lebih dari 70 tahun, tahap penderitaan melalui pergantian kuku dan paruh pada usia 40 tahun tidak mungkin dihindari. Jika ingin berusia panjang, burung elang hanya memiliki satu pilihan yakni menderita dengan pergantian kuku dan paruh.

“Jika kita yakin berdasarkan data yang ada bahwa dunia pariwisata merupakan bisnis masa depan yang menjanjikan dalam era Milenial, kerja keras melalui pendidikan yang tidak mudah, harus dijalani. Harus ada semangat tempur untuk memenangkan persaingan global di bidang pariwisata dari hulu ke hilir. Selain itu, pendidikan etika dan moral yang menjadi landasan wujud dunia pariwisata Indonesia harus dibangun oleh para mahasiswa yang dalam 15 tahun akan menjadi enterpreneur-enterprenus baru dalam dunia pariwisata,” ujar Catur.

Caturida, yang juga Ketua Asosiasi Dosen dan Guru Provinsi Banten, meminta para dosen untuk lebih terbuka wawasannya terhadap keterbukaan perkembangan teknologi dan informasi yang serba cepat. Kreativitas dalam mendidik sekolah kejuruan pariwisata sangat dibutuhkan oleh para anak didik.

“Industri pariwisata itu tidak mungkin sama yang ditawarkan. Keunikan, keistimewaan, kekhasan selalu menjadi nomor satu dalam industri ini. Sangat dibutuhkan pendidikan yang dapat menumbuhkan kreativitas anak didik. Bakpia Jogya dulu hanya dikenal isinya kacang hijau. Sekarang berbagai macam varian rasa sudah ada di bakpia Jogya. Dan yang lebih penting dari segalanya adalah, bagaimana industri pariwisata Indonesia akan berujung pada terwujudnya ketahanan nasional khususnya di bidang ekonomi dan budaya,” tegas Caturida.