Taslim: Indonesia Butuh Pemimpin Berkarakter Negarawan

61
Hermawi Taslim (paling kanan), Wakil Direktur Hukum dan Advokasi Tim Kampanye Nasional (TKN) Joko Widodo – Ma’ruf Amin dan pembicara lain dalam FGD di Forkom Narwastu, Jumat (24/8/2018).

JAKARTA-Wakil Direktur Hukum dan Advokasi Tim Kampanye Nasional (TKN) Jokowi-Amin, Hermawi Taslim mengatakan Negara Indonesia saat ini membutuhkan pemimpin yang tidak hanya mampu berbicara ataupun ahli mengkritisi, tetapi pemimpin yang berkarakter negarawan khususnya melihat realitas bahwa Indonesia belumlah menjadi sebuah bangsa yang utuh dan satu. Hal ini terbukti dari isu yang muncul dalam pilpres bersifat kelompok yang saling berbeda cara pandangnya sekalipun isu yang muncul sudah dipastikan hanyalah bersifat musiman.

Menurutnya, menjadi Indonesia yang utuh secara kebangsaan membutuhkan pemimpin yang berkarakter kuat dengan mengenyampingkan kepentingan pribadi, partai, golongan, suku atau bahkan agama.

“Semua rakyat harus mengerti bahwa, membuka diri terhadap golongan, suku ataupun agama dmerupakan syarat utama untuk menjadikan Indonesia sebagai bangsa yang utuh. Tanpa keterbukaan, bangsa Indonesia yang utuh sulit untuk tercapai,” ujar Hermawai kepada peserta Focus Group Discussion (FGD) tiga bulanan Forkom Narwastu, di Gedung PGI, Salemba, Jakarta,Jumat (24/8/).

Selain Hermawi Taslim, tampil juga sebagai nara sumber yakni Pakar Demokrasi dan Hukum Prof.Dr.Marten Napang, SH dan tokoh senior pers nasional Leo S. Batubara.

“Pemilihan KH Ma’ruf Amin sebagai Cawapres menunjukkan bahwa Joko Widodo itu adalah seorang negarawan. Mengapa, karena Joko Widodo melihat realitas masalah kebangsaan yang dihadapi bangsa Indonesia. Ia sudah pasti paham bahwa pilihannya itu akan menimbulkan pro dan kontra dari berbagai kalangan masyarakat. Namun justru karena memahami apa yang terjadi dalam masyarakat Indonesia, Joko Widodo kemudian memilih Ma’ruf Amin sebagai Cawapresnya,” ujar Hermawi Taslim.

Taslim mengatakan, dengan keputusan itu, Joko Widodo ingin menunjukan sikap kepemimpinannya sebagai negarawan yang tidak pendendam bahkan menjadi pemaaf. Ada masalah yang jauh lebih besar , Taslim mengurai lebih lanjut, daripada hanya sekedar hitung-hitungan politik saja.