Teguh Santosa: Anak Berkebutuhan Khusus Juga Generasi Penerus Bangsa

42
Calon Gubernur DKI Jakarta Teguh Santosa

JAKARTA-Pemerintah, baik di pusat maupun di daerah, sudah sepantasnya memberikan perhatian khusus kepada fenomena anak berkebutuhan khusus (ABK) yang diperkirakan terus naik. Bila menggunakan asumsi PBB yang mengatakan bahwa 10 persen anak usia sekolah di setiap negara adalah anak dengan kebutuhan khusus, maka di Indonesia saat ini ada tak kurang dari 4,2 juta anak-anak yang memiliki kebutuhan khusus dengan berbagai kategori.

Di Indonesia, Hari Anak dirayakan setiap tanggal 23 Juli, sementara Hari Anak Internasional dirayakan setiap tanggal 1 Juni. Selain itu juga ada Hari Anak Universal setiap tanggal 20 November.  “Anak-anak berkebutuhan khusus juga merupakan bagian dari generasi penerus bangsa. Kita harus memberikan perhatian ekstra serius kepada mereka, tidak cukup sekadar seremoni dan perayaan-perayaan,” ujar bakal calon Gubernur DKI Jakarta Teguh Santosa dalam pesan Hari Anak Indonesia yang dikirimkannya ke media massa, Sabtu (23/7).

Teguh mengatakan, sejak beberapa periode lalu sepintas pemerintah memang terlihat sudah memiliki perhatian terhadap anak-anak berkebutuhan khusus. Misalnya dengan ikut merayakan Hari Penyandang Cacat pada 3 Desember, dan Hari Kepedulian Autisme pada 2 April.

Program pendidikan sekolah inklusi yang memberi kesempatan kepada anak berkebutuhan khusus bersekolah di sekolah umum juga sudah dikenal di sejumlah kota di Indonesia.  “Tetapi sepengamatan saya, itu saya tidak cukup. Harus ada upaya massif dalam waktu singkat untuk menciptakan gelombang besar kepedulian terhadap anak-anak berkebutuhan khusus yang melibatkan banyak stake holder. Pemerintah harus menjadi motor untuk menciptakan gerakan massif itu. Jakarta sebagai ibukota negara dituntut menjadi model dari gerakan ini,” kata Wakil Rektor Universitas Bung Karno (UBK) ini.

Teguh mengatakan, masih ada fenomena yang tidak bagus, dimana kepedulian terhadap anak-anak berkebutuhan khusus hanya muncul secara signifikan di kalangan keluarga yang memiliki anak dengan kebutuhan khusus. Sementara anggota masyarakat yang tidak memiliki anak-anak berkebutuhan khusus terlihat kurang peka dalam menyikapi isu ini.

Di sisi lain, dia juga mengatakan masih ada keluarga dengan anak berkebutuhan khusus yang enggan dan terkesan menutup-nutupi kondisi anaknya karena alasan malu dan sebagainya.

Sebagai orangtua dengan anak berkebutuhan khusus Teguh dapat memahami betapa sulit anak-anak berkebutuhan khusus berjuang dalam kehidupan sehari-hari. Di sisi lain, masih banyak masyarakat awam yang karena tidak atau kurang paham seringkali bertindak tidak tepat saat berinteraksi dengan anak berkebutuhan khusus.

Teguh memiliki tiga orang anak. Anak keduanya, Timur Muhammad Santosa, adalah anak dengan gejala Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD) kategori high function. Timur yang kini duduk di kelas empat SD secara umum dapat mengikuti pelajaran dengan baik dan tergolong murid cerdas di sekolahnya. Walau begitu, sebagai penyandang ADHD, Timur sulit dipahami lingkungan di luar keluarganya.  “Saya mengalami sendiri baru-baru ini, seorang supir taksi berkata-kata keras dan kasar kepada anak saya hanya karena dia tidak memahami bagaimana cara berkomunikasi dengan anak-anak seperti Timur,” katanya lagi.

Menurutnya, berbagai hal yang harus dilakukan pemerintah Jakarta antara lain mendirikan pusat-pusat informasi dan krisis untuk membantu masyarakat luas memahami fenomena anak-anak berkebutuhan khusus. Juga menyediakan fasilitas umum dan fasilitas sosial yang memudahkan ABK, termasuk merekrut dan membina banyak relawan dalam kampanye kepedulian terhadap ABK.