Teknologi Dalam Perbankan, Dorong Efisiensi

28

JAKARTA-Otoritas Jasa Keuangan (OJK) berharap industri perbankan dapat memanfaatkan teknologi informasi agar dapat menciptakan efisiensi dalam menjalankan pelayanan finansialnya. “Harapan kami industri perbankan bisa lebih efisien dengan memanfaatkan teknologi secara terukur, dan prosesnya akan paralel, tidak langsung big bang, sehingga imbas kepada tenaga kerja tidak signifikan,” kata Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Wimboh Santoso usai peresmian ruang pers OJK di Jakarta, Jumat, (10/11/2017).

Mantan Komisaris Utama Bank Mandiri itu mengatakan proses digitalisasi di industri perbankan sendiri sudah berlangsung sejak lama. Dalam konteks hari ini, misalnya, sudah banyak bank yang menerapkan jaringan distribusi branchless banking.

Laku pandai (branchless banking) adalah layanan perbankan dan/atau layanan keuangan lainnya yang dilakukan tidak melalui jaringan kantor, namun melalui kerja sama dengan pihak lain dan perlu didukung dengan penggunaan sarana teknologi informasi.

Wimboh menilai bahwa branchless banking memiliki implikasi yang jelas, yaitu memungkinkan bank tidak perlu membuka cabang baru. melainkan memanfaatkan para agen bank sehingga mampu menciptakan efisiensi. “Kalau dulu ketika bank mau perluasan harus buka cabang. Sekarang tidak perlu, karena bisa pakai agen atau `electronic mobile banking`. Ini bagus, karena bank akan lebih efisien,” ucapnya.

Wimboh juga mengatakan bahwa kompetisi di industri keuangan saat ini memasuki era persaingan berbasis teknologi informasi, sehingga perbankan yang tidak melakukan digitalisasi akan ketinggalan.

Bahkan, ia menilai, pemanfaatan teknologi juga telah dilakukan oleh lembaga nonjasa keuangan yang mengeluarkan produk layanan keuangan berbasis teknologi (financial technology/fintech). Hal tersebut memungkinkan lembaga nonjasa keuangan mampu memberikan jasa seperti apa yang diberikan lembaga jasa keuangan.

“Mau deposit type, payment system type, transaction fee, atau lending semua banyak ditawarkan oleh lembaga nonjasa keuangan. Bahkan, kami sudah mengatur peer-to-peer lending,” katanya.

Perbankan juga perlu mengoptimalkan tenaga kerja, dan salah satunya dilakukan melalui realokasi tenaga kerja dari kegiatan-kegiatan operasional yang akan digantikan oleh teknologi diarahkan kepada bidang-bidang yang membutuhkan faktor analitis manusia, demikian Wimboh Santoso. ***