Teknologi Pembasahan Pilihan Terbaik Perlindungan Gambut Tropis Indonesia

Teknologi Pembasahan Pilihan Terbaik Perlindungan Gambut Tropis Indonesia

0
BERBAGI

JAKARTA-Penyelamatan gambut tropis memerlukan teknologi yang tepat. Hal ini mengemuka dalam International Peat Congress ke 15 yang diselenggarakan di Kuching, Sarawak, Malaysia pada 15-19 Agustus 2016. Kongres dihadiri oleh sejumlah pakar gambut tropis dunia dan wakil pemerintah sejumlah negara.

Presiden Joko Widodo dalam Pidato Kenegaraan pada 16 Agustus 2016 menegaskan komitmen Pemerintah Indonesia melakukan konservasi lahan gambut dan pencegahan pembakarannya.

Terhadap ekosistem gambut yang telah rusak, Pemerintah Indonesia memilih teknologi pembasahan gambut untuk merestorasinya. Deputi Bidang Konstruksi, Operasi dan Pemeliharaan Badan Restorasi Gambut (BRG), Dr. Alue Dohong, menjelaskan di areal gambut yang telah dilakukan penyekatan/penimbunan kanal serta dibangun sumur-sumur bor, angka kebakaran dapat ditekan.

Senada dengan Dahong, Profesor Azwar Maas, pakar gambut dari Universitas Gadjah Mada, dan Ir. L. Budi Triadi, Dipl. HE, pakar hidraulika rawa dari Kementerian Pekerjaaan Umum, menyatakan bahwa pembasahan harus dikerjakan sebelum gambut hidrofobikatau telah berdebu. “Menjaga cadangan air di minimal 30% dari Kesatuan Hidrologis Gambut (KHG) adalah prioritas menghadapi kemarau dan tidak ada hujan berketerusan,” terangnya.

Deputi Penelitian dan Pengembangan BRG Dr. Haris Gunawan, menambahkan bahwa gambut terbentuk kurang lebih 90% dari air. Kubah gambut perlu dipelihara untuk menjamin ketersediaan air. Karena itu diperlukan pengaturan tata air yang baik sehingga tidak mengeringkan dan menimbulkan konflik dengan masyarakat. “Kesalahan dalam pemanfaatan gambut selama ini adalah pengeringan melalui pembangunan kanal yang masif,” demikian ditambahkan Haris.

BRG melakukan restorasi hidrologis dan revegetasi dengan tanaman ramah gambut. Upaya pengembangan sumber penghidupan alternatif bagi masyarakat terus dikembangkan. Perlindungan kepada petani kecil menjadi perhatian BRG. Dalam pelaksanaan restorasi, belum ada rencana melakukan relokasi masyarakat.