Terlalu Berat, Beban Tol Cawang-Priok

230
hutama.karya.com

JAKARTA-Jalan layang tol memiliki layaknya manusia, memiliki usai. Tak terkecuali tol Cawang-Tanjung Priok yang dibangun awal 1990-an. Namun sayangnya, hingga kini belum pernah dilakukan review terhadap jalan tersebut. “Beban jalan tol itu terberat di dunia. Kalau tidak segera dilakukan review, sesuatu akan terjadi dan itu sangat mengerikan,” kata Ketua Umum Himpunan Ahli Konstruksi Indonesia (HAKI), Profesor Drajat Hoedayanto dalam diskusi “RUU Jasa Kontsruksi”, di Jakarta, Selasa (24/9).

Menurut Dosen ITB ini, pembangunan jalan tol tersebut dikerjakan bersama dengan  kontraktor Jepang. Padahal Jalan tol itu menggunakan teknologi yang sama saat Jepang membangun tol di Kobe Jepang.

Lebih jauh kata Drajat, ketika Jepang dihantam gempa, maka jalan layang tol itu  ambruk. ”Dengan situasi bebas yang seperti saat ini, maka sangat mungkin ada perubahan kondisi yang memaksa jalan tol tersebut digunakan melebihi kemampuannya. Ini berbahaya,” tambahnya.

Dirinya khawatir kondisi sekarang bisa membuat jalan tol tersebut patah tanpa harus disebabkan oleh gempa. “Jika tol ini roboh maka dirinya memperkirakan, di luar potensi kerugian korban manusia, kemungkinan kerugian ekonomi berkisar pada 150 triliun rupiah dan butuh waktu perbaikan pisik minimal 2 tahun,” terangnya.

Drajat menekankan sepanjang review terhadap jalan tol Cawang-Priok belum dilakukan. Maka urusan keselamatan tidak bisa diperkirakan. “Kita tidak bisa memperhitunkan hal itu kalau tidak direview,” sarannya.

Malah, Drajat mencemaskan jika tidak segera dilakukan review,sekalipun dan tidak ada gempa, bukan tidak mungkin konstruksi jalan tol Cawang-Priok itu patah dengan sendirinya. Karena bebannya yang tidak ideal lagi saat ini. “Apalagi jalan laying  tol Pluit yang lebih tinggi lagi. Ini masalahnya lebih serius lagi,” imbuhnya.

Sebelumnya,  guna mengurangi dampak kemacetan di dalam kota, truk-truk besar dilarang masuk ke jalur tol dalam kota. Akibatnya, jalur tol ruas Cawang-Tanjung Priok dipenuhi truk yang berasal dari Bekasi dan Jagorawi. “Sejak truk harus melewati jalan tol kami itu, biaya pemeliharaan langsung melonjak hingga 300 % dari sebelumnya,” kata Direktur Palayanan dan Pemeliharaan PT Citra Marga Nusaphala Persada Tbk, Bagus Medi Suarso,

Sebelum 2009, lanjut Medi, dana perawatan untuk ruas tol sepanjang 30 kilometer ini hanya berkisar Rp30 miliar. Namun, untuk tahun ini anggaran perawatan sudah mencapai Rp100 miliar. Lonjakan yang tinggi ini disebabkan banyak kendaraan berat melintasi jalan tol yang sudah 26 tahun berdiri tersebut. Aturan mengenai Muatan Sumbu Terberat (MST) yang seharusnya hanya 8-10 ton tidak diindahkan oleh para pengemudi truk, mereka cenderung membiarkan truknya berlebihan muatan (overloaded).

Keadaan inilah yang mengakibatkan kondisi jalan tol semakin rentan rusak. Apalagi, jalan tol yang dikelola perseroan adalah jalan layang yang harus selalu dicek kesiapannya.

Menurut Medi, 73 % dari keseluruhan truk dan kontainer yang melewati ruas tol ini overloaded. “Masalah itu kita sudah antisipasi di lapangan dan kami yakin jalan tol kami masih layak,” pungkasnya. **cea