Testimoni TGB: Jokowi Lahir Dari Keluarga Muslim Yang Baik

26

MESIR-Dr. TGH. Muhammad Zainul Majdi, Lc., M.A. atau yang akrab disapa Tuan Guru Bajang (TGB) menghadiri Diskusi Publik dan Deklarasi Dukungan Jokowi-Ma’ruf, Jaringan Alumni Mesir Indonesia (JAMI).

Ulama berpengaruh di Nusa Tenggara Barat (NTB) ini memberikan sejumlah alasan mengapa mendukung Joko Widodo.

Inilah alasan TGB mendukung Jokowi seperti dikutip oleh salah seorang aktifis Jaringan Alumni Mesir Indonesia Mabda Dzikara.

Saya akan langsung saja menjelaskan mengapa kemudian saya memilih Pak Jokowi. Pertama adalah karena Pak Jokowi merupakan seorang muslim yang baik. Panjang sekali perjalanan fitnah kepada beliau. Tapi kalau kita pergi ke kampung beliau, dan tentu tidak ada persaksiaan yang paling kuat selain kita datang ke tempat orang itu lahir dan besar, berjumpa dengan keluarga dan sahabat-sahabatnya sejak kecil, mendatangi orang-orang yang pernah berinteraksi langsung dengannya.

Maka, ketika kita mendatangi tempat Pak Jokowi di Solo sana, kesimpulannya hanya satu, bahwa Pak Jokowi ini adalah seorang muslim yang baik, yang lahir dari keluarga muslim yang baik.

Alhamdulillah, guru-gurunya masih ada. Rekam jejak keislamannya juga ada. Dan kemusliman yang ditampakkan oleh Pak Jokowi dan keluarganya, di tengah-tengah masyarakat yang heterogen yang ada di Solo. Itulah cerminan dari kemusliman yang memang hidup dan tumbuh di setiap sudut di Nusantara. Tidak hanya di Solo, namun dimana pun.

Berislam kita adalah berislam yang juga menghadirkan kedamaian dan kenyamanan. Ada koresistensi dan kebersamaan dengan seluruh anak-anak bangsa dengan segala macam perbedaan yang ada. Pak Jokowi, rekam jejak keislamannya jelas. Dan disitu saya merasakan ketenangan hati untuk saya pribadi.

Setelah ada buku lebih dari 600 halaman yang menggambarkan panjang sekali tentang bagaimana keluarga Pak Jokowi, ibunya, saudara-saudaranya, kakeknya, semuanya menjadi terang benderang dan tidak ada lagi pertanyaan. Semuanya dan bahkan masih banyak saksi-saksi hidup, guru-guru beliau dan sahabat-sahabat beliau yang berinteraksi sejak puluhan tahun yang lalu mengkonfirmasikan hal yang sama bahwa beliau dan keluarga beliau adalah keluarga muslim yang baik.

Yang kedua, saya memilih Pak Jokowi, karena Pak Jokowi ini adalah orang yang berproses. Saya selalu kagum kepada orang yang berproses. Pak Jokowi adalah orang yang lahir, berkembang dengan kapasitas pribadi beliau sendiri, selain tentu dengan rahmat Allah. Lahir di bantaran kali, kemudian memulai proses kehidupan, ditempa, bahkan ketika selesai kuliah sampai sempat bekerja di Aceh, di sebuah tempat yang mungkin tidak banyak orang Solo bekerja di Aceh saat itu. Kemudian menapaki perjalanan yang panjang sekali.

Semua rekam jejaknya itu terlihat, terbaca dan dapat dikonfirmasi ke siapapun yang pernah berinterkasi dengan beliau. Beliau berproses, dengan proses yang alami. Membanting tulang, berlelah-lelah, tanpa ada korupsi, kolusi, nepotisme, sampai kemudian beliau dipercaya dan diberikan amanah sebagai pemimpin kita semua.

Bagi saya, proses adalah sesuatu yang penting untuk kita dapat melihat secara keseluruhan tidak hanya di dalam kontestasi nasional, akan tetapi juga di daerah dan dimana pun. Kita melihat seseorang tidak hanya dari pada saat dia muncul di kontestasi ini, tapi kita melihat seseorang dari bagaimana dia berproses dan membangun track record yang baik.

Yang ketiga, saya memilih Pak Jokowi, karena pada saat Pak Jokowi hadir di ruang publik sebagai pemimpin -saya tidak hanya menyampaikan sejak tahun 2014, akan tetapi jauh sebelumnya- ketika beliau menjadi walikota -walaupun saya juga baru mengetahuinya akhir akhir ini- Ketika beliau menjadi Walikota, ketika beliau menjadi Gubernur, dari catatan-catatan yang ada, track record kebijakan beliau adalah kebijakan yang berpihak kepada rakyat dan kepentingan bangsa.

Saya tidak terbiasa untuk mendukung atau menyampaikan dukungan, kemudian berjuang untuk dukungan itu, kecuali saya meyakini bahwa ada hal-hal yang memang pantas sebagai values yang kita perjuangkan bersama. Ketika saya sempat ke Solo, saya bertanya dan membaca bagaimana pola kepemimpinan beliau? Alhamdulillah, kepemimpinannya ketika di Solo, atau bahkan ketika di Jakarta, tidak ada yang mencederai rasa keadilan masyarakat. Bahkan, ketika kita bicara spesifik, tidak ada kebijakannya yang mencederai kepentingan ummat; kalau kita bicara tentang ummat.

Semua elemen perjuangan Islam di Solo, ketika saya tanya “Bagaimana Pak Jokowi ketika menjadi Walikota? Apakah ada kebijakannya yang meminggirkan umat?” , misalnya. Semua sepakat menjawab bahwa tidak ada kebijakan beliau yang meminggirkan apalagi menyisihkan aspirasi ummat.

Jadi, ketika hadir di ruang publik, beliau hadir dengan membawa kebijakan yang bermanfaat untuk semua, walaupun kebijakan itu tidak mesti dilabelkan dengan nama yang islami. Karena di dalam Islam, kita diajarkan untuk menilai sesuatu itu tidak dengan labelnya, namun kepada substansinya. Ketika beliau dua tahun di Jakarta mentradisikan kepemimpinan yang dekat dengan rakyat, saya pikir itu adalah salah satu esensi yang diajarkan oleh Islam saat berbicara tentang kepemimpinan; pemimpin yang dekat dengan rakyat dan masyarakatnya.

Yang keempat , saya kebetulan pernah diamanahkan sebagai Gubernur Nusa Tenggara Barat dua periode selama sepuluh tahun. Empat tahun bersama Pak Jokowi. Saya merasakan betul, ketika empat tahun secara resmi menjadi wakil pemerintah pusat di daerah, saya merasakan betul ada perubahan di dalam memandang Indonesia. Ada perubahan yang tercermin dalam perumusan kebijakan dan alokasi anggaran. Policy-nya ada perubahan, begitu pula budgeting policy-nya. Maka tidak heran jika kemudian pada masa beliau memimpin Indonesia empat tahun, pendekatan pembangunan tidak lagi pendekatan parsial, tetapi sudah menjadi pendekatan Indonesia sentris.

Kalau ada orang yang bertanya, “Ngapain bangun jalan di Papua ratusan kilo?”, misalnya. Memakan biaya yang besar sekali. Kalau kita pakai rumusan tekhnokratik-birokratik yang biasa digunakan; ‘berapa banyak orang yang melewati ruas jalan itu’, maka insyaallah 5,10,15, 20 tahun kedepan, jalanan di Papua belum akan dibangun. Karena orangnya sedikit. Tetapi diatas pertimbangan tekhnokratik-birokratik itu ada pertimbangan kemanusiaan dan keadilan yang walaupun sangat mahal, beliau tetap memutuskan untuk menempuh jalur itu. Tentu dengan banyak sekali pertanyaan dari berbagai pihak; “Kalau uang segitu ditaruh di Jawa, misalnya, itu bisa menghasilkan agregat pertumbuhan nol koma sekian persen” dan seterusnya, “Ko ditaruh di Papua?, kan tidak mendapatkan keuntungan secara langsung?”. Pendekatan tidak hanya tekhnokratik-birokratik dan hitung-hitungan tekhnis, tapi pendekatan ber-Indonesia yang berkeadilan. Bagi kami, yang kebetulan disebut Indonesia Timur -walaupun tidak terlalu timur-, pendekatan pembangunan seperti ini sangatlah berarti.

Kemudian juga selama empat tahun, Pak Jokowi sangat konsisten untuk menambah dana desa. 187 trilun kalau tidak salah agregat keseluruhan yang telah dikucurkan sampai tahun ini. Artinya apa? Ketika kita bicara desa, maka kita bicara tentang keadilan. Ketika kita bicara tentang desa, kita tidak hanya bicara tentang pertumbuhan, karena pertumbuhan tanpa keadilan itu menyimpang. Oleh karena itu, ketika Pak Jokowi menjadikan pendekatan Indonesia sentris di dalam membangun, saya yakin, insyaallah ketika beliau menjadi pemimpin di periode kedua, hal tersebut juga akan dijalankan dan Insyaallah rasa keadilan di Indonesia ini akan semakin merata dari Sabang sampai Merauke.

Yang kelima, kenapa saya memilih Pak Jokowi? Pada saat kita membangun Indonesia, ada potensi-potensi yang sesungguhnya bisa menambah kuatnya ekonomi nasional kita. Potensi yang lama sekali tidak digarap. Potensi itu terkait dengan ekonomi Islam. Banyak negara di dunia ini, sudah menjadikan dirinya sebagai tempat yang sangat kondusif untuk membangun ekonomi Islam. Tetangga kita Malaysia sudah lama menggagas itu. Kita, Indonesia, masih belum maksimal memanfaatkan bagian ini. Tidak untuk memisahkannya dengan ekonomi nasional, tetapi sebagai bagian dari memperbesar kapasitas ekonomi nasional.

Maka, ketika Pak Jokowi menggandeng Bapak KH. Ma’ruf Amin, orang yang punya rekam jejak yang sangat kuat di dalam ekonomi Islam yang merupakan bagian untuk mengokohkan ekonomi nasional, saya pikir, pasangan ini adalah pasangan yang tepat untuk kita sama-sama dukung dalam kerangka ikhtiar kita untuk Indonesia yang tidak hanya maju, tetapi juga berkeadilan untuk semua.

Yang terakhir, kalau ditanya pemimpin daerah, siapapun itu yang kebetulan memimpin dua periode. Dari partai manapun. Kalau ditanya dengan jujur, apakah itu Bupati, Walikota, Gubernur atau bahkan diatas Gubernur. Kalau ditanya,“Kira2 dua periode itu penting atau tidak untuk menuntaskan program pembangunan?”, “Kira-kira ketika anda memimpin itu, anda merasa cukup ga satu periode untuk menuntaskan semua visi besar itu?”.

Kalau ditanya hati nurani masing-masing pemimpin yang memimpin selama dua periode, rasanya jawabannya itu seragam. Bahwa kepemimpinan dua periode itu diperlukan untuk menuntaskan dan memparipurnakan ikhtiar-ikhtiar pembangunan.

Mudah-mudahan apa yang kita lakukan pada sore hari ini diberkahi oleh Allah SWT. Dan saya ingin sampaikan penghormatan dan apresiasi saya kepada teman-teman, sahabat para alumni Mesir yang saya tidak pernah duga punya inisiatif yang sangat luar biasa seperti halnya pada siang hari ini.

Terima kasih, dan setelah dari tempat ini, mari kita bersinergi dengan seluruh elemen ikhtiar pemenengan Jokowi-Ma’ruf untuk bekerja sampai 17 April, berjuang dan menang dengan bermartabat.

Noted: Untuk kepentingan editing dan kemudahan membaca, beberapa kalimat dalam naskah ini sudah ditambahkan dan dikurangi dari rekaman aslinya dengan tanpa merubah substansi pemaparan.