Timah Indonesia Jadi Referensi Dunia

36

JAKARTA-Indonesia menjadi salah satu produsen timah terbesar di dunia, karena itu komoditi tambang ini tengah menjadi referensi harga timah dunia.  “Semestinya, dengan Indonesia sebagai salah satu produsen dan eksportir terbesar di dunia, tidak perlu ada kekhawatiran mengenai supply,”  kata Menteri Perdagangan RI Gita Wirjawan di Jakarta, Jumat (6/9).

Terkait kebijakan baru Kemendag soal perdagangan timah, Mendag menekankan pada intinya pemerintah menginginkan  transparansi dan kristalisasi nilai untuk produk timah yang diproduksi di Indonesia.

Sementara itu, Kepala Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi (Bappebti) Kementerian Perdagangan Sutriono Edi secara terpisah mengatakan bahwa sejak diberlakukannya perdagangan ekspor timah melalui bursa pada 30 Agustus 2013, harga timah menunjukkan kecenderungan peningkatan harga sebagaimana tercermin dari transaksi yang terjadi di bursa. “Transaksi timah di Bursa Timah pertanggal 30 Agustus 2013 tercatat sebesar USD 21.51 0/ton, sementara itu pada 3 September 2013 USD 21.500/ton, 4 September 2013 USD 21.545/ton, dan 5 September 2013 USD 21.900/ton,” urainya.

Kepala Bappebti menjelaskan peningkatan harga tersebut menunjukkan perkembangan harga yang baik karena pada saat perdagangan di bursa dimulai, harga timah London Metal Exchange (LME) berada di kisaran USD 20.900-21.100. “Ini artinya harga timah Indonesia mulai menjadi harga acuan bagi para pelaku timah domestik dan internasional,” ujarnya.

Dengan diterbitkannya Peraturan Menteri Perdagangan (Permendag) Nomor 32 Tahun 2013, maka terdapat lima kontrak timah batangan yang diperdagangkan, yaitu: 1. Kontrak TINPB300 dengan kandungan Stannum (Sn) 99,9% dan faktor pengotor Besi (Fe) 0,005% dan Timbal (Pb) 0,030%; 2. Kontrak TINPB200 dengan kandungan Stannum (Sn) 99,9% dan faktor pengotor Besi (Fe) 0,005% dan Timbal (Pb) 0,020%; 3.Kontrak TINPB100 dengan kandungan Stannum (Sn) 99,9% dan faktor pengotor Besi (Fe) 0,005% dan Timbal (Pb) 0,010%; 4. Kontrak  INPB050 dengan kandungan Stannum (Sn) 99,9% dan faktor pengotor Besi (Fe) 0,005% dan Timbal (Pb) 0,005%; serta 5. Kontrak TIN4NINE dengan kandungan Stannum (Sn) 99,99%.

Lebih jauh Kepala Bappebti menambahkan perdagangan ekspor timah melalui Bursa Timah akan mendorong peningkatan daya saing  Komoditas timah Indonesia, sehingga pada akhirnya dapat mewujudkan pertumbuhan ekspor timah yang lebih pro lingkungan. “Oleh karena itu, produsen timah Indonesia sebaiknya mengutamakan nilai ekspor yang tinggi daripada volume ekspor yang besar dengan harga rendah mengingat timah merupakan sumber daya alam yang tidak terbarukan dan dengan cadangan yang sangat terbatas. Selain itu, eksploitasi timah yang berlebihan juga dapat berdampak terhadap kerusakan lingkungan di daerah penambangan timah,”

Hingga saat ini, jumlah anggota Bursa Timah berjumlah 12 , yaitu PT. Timah Tbk (BUMN); PT. Tambang Timah (BUMN); PT. Refined Bangka Tin; H.CO.,LTD.(Korea); PT. Inti Stania Prima; Daewoo International Corporation (Korea); Gold Matrix Resour ces (Singapura); Great Force Trading (Hong Kong); PT. Mitra Stania Prima; Noble Resources International Pvt.Ltd. (Singapura); Purple Products Pvt.Ltd (India) dan Toyota Tsusho Corporation (Jepang). “Mekanisme transaksi di bursa yang transparan, serta makin meningkatnya harga timah dunia diharapkan dapat menarik anggota bursa lainnya untuk ikut bertransaksi melalui Bursa Timah,” imbuh Kepala Bappebti.

PT. Timah, sebagai anggota Bursa Timah terbesar, menurut Kepala Bappebti, juga telah menghimbau pembeli mereka yang belum terdaftar sebagai anggota untuk menjadi anggota Bursa Timah. “Beberapa buyer tambahan PT. Timah telah menghubungi Bursa Komoditi Derivatif Indonesia untuk mengurusi keanggotaan mereka. Saat ini Bursa Timah (BKDI) sedang dalam proses penambahan anggota baik dari penjual maupun pembeli,” ungkapnya. **cea