Total Aset BPD Sebesar Rp531,30 Triliun

39

JAKARTA-Otoritas Jasa Keuangan (OJK) terus berupaya agar implementasi program Transformasi Bank Pembangunan Daerah (BPD) berjalan sesuai yang diharapkan untuk menjadi bank yang berdaya saing tinggi dan kuat serta berkontribusi signifikan bagi pertumbuhan dan pemerataan ekonomi daerah yang berkelanjutan.

Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK Nelson Tampubolon menilai kinerja kelompok BPD hingga triwulan I 2016 bertumbuh cukup baik.

Sampai akhir Maret 2016, total aset BPD sebesar Rp531,30 triliun atau tumbuh 6,48% (yoy). Dana Pihak Ketiga (DPK) sebesar Rp432,44 triliun atau tumbuh 5,27%, sedangkan penyaluran kredit sebesar Rp328,19 triliun atau tumbuh 8,12% (yoy).

Laba BPD tumbuh positif sebesar 7,91% yoy, sedangkan Kewajiban Penyediaan Modal Minimum (KPMM) mencapai 20,61%. Rasio gross NPL per Maret 2016 relatif stabil yaitu sebesar 3,89% dari sebelumnya 3,83%.

Namun demikian, kontribusi BPD terhadap perekonomian daerah masih kecil tercermin dari pangsa kredit produktif yang baru sekitar 30% dari total kredit yang disalurkan.

“Oleh karena itu, kinerja dan peran BPD masih harus ditingkatkan agar benar-benar sejalan dengan misinya sebagai agen pembangunan,” kata Nelson disela-sela seminar “Transforming BPDs to Enhance Regional Economic Development” di Jakarta, Senin (23/5).

Nelson menjelaskan, implementasi Program Transformasi BPD yang telah diluncurkan pada tanggal 26 Mei 2016 oleh Presiden RI di Istana Negara, dengan visi untuk mewujudkan agar BPD dapat menjadi bank yang berdaya saing tinggi dan kuat serta berkontribusi signifikan bagi pertumbuhan dan pemerataan ekonomi daerah yang berkelanjutan.

Visi tersebut akan diwujudkan melalui tiga tahapan yakni: Fase Pembangunan Fondasi (Foundation Building), Fase Percepatan Pertumbuhan (Growth Acceleration) dan, Fase Pemimpin Pasar (Market Leadership).

Program Transformasi BPD merupakan inisiatif strategis yang tidak hanya meningkatkan kinerja, ketahanan dan daya saing kelompok BPD, tetapi juga akan berdampak besar bagi pembangunan ekonomi daerah serta akan memperkuat ketahanan industri perbankan nasional.

OJK dan Asbanda juga telah menjalin kerjasama dengan beberapa lembaga internasional antara lain Sparkassenstiftung fur International Kooperation (Savings Banks Foundation for International Cooperation) dan World Bank dalam rangka bantuan teknis untuk Program Transformasi BPD.

OJK mengharapkan dukungan dari lembaga terkait, terutama lembaga internasional seperti ADB, GIZ dan SECO untuk mensukseskan Program Transformasi BPD tersebut.

Ahli dynamic governance dari Nanyang Technological University of Singapore Prof. Neo Boon Siong menjelaskan keberhasilan transformasi di beberapa bank nasional juga patut dijadikan pelajaran. Seperti yang dilakukan BTPN dalam mengembangkan bisnis perbankan mikro di Indonesia.

Selain itu, juga diundang PT Semen Indonesia yang berhasil dalam melakukan transformasi bisnis dan membentuk Holding Company untuk mengembangkan sinergi diantara perusahaan-perusahaan yang tergabung di dalamnya. “Hal ini sangat relevan untuk dikaji dan dikembangkan oleh Asbanda dan BPD ke depan sejalan dengan arahan pemerintah untuk membentuk Holding Company bagi BUMN dan BPD,” terangnya.

Setelah hampir satu tahun pasca peluncurannya, Program Transformasi BPD tercatat beberapa kemajuan yang telah dicapai oleh Asbanda dan BPD antara lain mencakup pembentukan Project Management Office (PMO) Program Transformasi BPD sebagai penggerak Program Transformasi.

Selain itu, telah diluncurkan platform BPDNet Online dan program Laku Pandai oleh BPD Kalimantan Timur pada akhir tahun 2015 lalu, yang akan diikuti oleh beberapa BPD lainnya pada tahun 2016 ini. “Implementasi Program Transformasi perlu diakselerasikan oleh Asbanda dan BPD dengan dukungan shareholders dan stakeholders sehingga BPD mampu menjadi pemimpin dan katalisator pembangunan di daerahnya masing-masing,” pungkasnya. (GAM)