Toyota Siap Investasi Rp5,4 Triliun di 2016

29
Menperin Saleh Husin (kanan) bersama Dubes Yusron Ihza Mahendra (kedua kanan) menyimak penjelasan Wakil Presdir Toyota Motor Manufacturing Indonesia, Warih Andang Tjahjono (kiri) dan Manajer Proyek Toyota Motor Corporation Ron Haigh tentang proses perakitan mobil saat mengunjungi pabrik mobil Toyota di Motomachi Plant, Nagoya, Jepang, Kamis 18 Februari 2016.

NAGOYA-Grup Toyota Motor Corporation terus meningkatkan realisasi investasi di Indonesia. Tahun ini, mereka berencana menanamkan modal sebesar Rp 5,4 triliun.

Langkah itu dinilai menunjukkan kepercayaan investor global terhadap iklim investasi dan prospek industri otomotif di Indonesia. “Toyota serius berbisnis di Indonesia, tahun ini saja akan berinvestasi Rp 5,4 triliun, setelah tahun 2015 menanam modal Rp 5 triliun,” kata Menteri Perindustrian Saleh Husin usai bertemu dengan Executive Vice President Toyota Motor Corporation (TMC), Seiichi Sudo di Nagoya, Jepang, seperti dikutip dari situs resmi kementrian di Jakarta, Jumat (19/2).

Menurutnya, dalam kurun waktu lima tahun, sejak 2015 hingga 2019, total rencana investasi Toyota sebesar Rp 20 triliun.

Sedangkan hingga 2014, prinsipal asal Negeri Sakura itu telah merealisasikan penanaman modal di Indonesia sebesar Rp 40 triliun. Saat ini, perusahaan tengah merampungkan pabrik mesin (engine plant) di Karawang.

Menteri Saleh juga mengapresiasi kepercayaan Toyota yang terus menerus berinvestasi di Indonesia dan telah menjadikan Indonesia sebagai salah satu tujuan investasi dan basis produksi mobil Toyota hingga saat ini. “Saya juga mengajak TMC agar tidak tanggung-tanggung di Indonesia, maka saya minta Toyota dan mitranya di Jepang untuk terus meningkatkan investasi di sektor otomotif terutama bahan baku dan komponen, dan mulai secara bertahap melakukan kegiatan R&D di Indonesia untuk lebih memperkuat struktur industri otomotif Jepang yang ada di Indonesia saat ini,” lanjut Saleh.

Kemenperin mencatat, merek Toyota di Indonesia menguasai sekitar 31-32 persen pasar domestik.

Menperin juga mendesak Toyota turut mendongkrak produksi mobil di Indonesia serta membangun fasilitas penelitian dan pengembangan (research and development/R&D).

Pasalnya, dibandingkan dengan Thailand yang jumlah penduduk 67,2 juta jiwa, telah memproduksi sekitar 2,5 juta unit mobil/tahun ( 50% untuk pasar domestik dan selebihnya untuk ekspor), sementara Indonesia dengan jumlah penduduk lebih dari 250 Juta orang dengan jumlah penduduk berpenghasilan menengah sebesar 74 juta orang, seharusnya sudah mampu memproduksi lebih dari apa yang sudah dicapai saat ini.

Industri komponen juga didorong untuk dikembangkan oleh pabrikan Jepang. Hal ini demi meningkatkan kandungan lokal produk otomotif.

Realisasi produk komponen juga didukung oleh pengembangan industri pendukung. Antara lain, pembangunan pabrik karet sintetik patungan antara Chandra Asri dan Michelin, pengembangan produksi baja untuk kendaraan bermotor yang dilakukan oleh Krakatau Steel, Nippon Steel, JFE Steel (Jepang) dan Posco (Korea Selatan) serta produksi resin oleh Adi Wira Plastic.

Seiichi Sudo mengatakan Toyota menempatkan Indonesia sebagai negara yang penting. “Ke depan, kami akan menjadikan Indonesia sebagai basis industri berorientasi ekspor dan Toyota ingin berkontribusi bagi penguatan industri otomotif yang memberikan nilai tambah,” ujarnya.

Saat ini, pasar terbesar Toyota adalah AS, disusul Jepang, China, Indonesia, Timur Tengah, dan yang keenam adalah Thailand.

Wakil Presdir Toyota Motor Manufacturing Indonesia, Warih Andang Tjahjono mengatakan, pihaknya tengah mengembangkan studi produksi bio-ethanol dari rumput gajah. Inovasi ini dilakukan Toyota Motor yang bekerja sama dengan Pertamina dan RNI. Lokasi kebun di Lampung seluas hingga 20 hektare dan juga dikembangkan di sekitar lokasi pabrik Toyota di Karawang. “Pengembangan bahan bakar bio ethanol dari rumput gajah merupakan inovasi cerdas di saat pengembangan bahan bakar alternatif di dunia bertumpu pada tanaman tebu, sawit, kedelai dan lain-lain,” katanya