Tunggul: Humas Harus Terampil dan Tidak Gaptek

Tunggul: Humas Harus Terampil dan Tidak Gaptek

51
0
BERBAGI
Dosen The London School Of Public Relations (STIKOM LSPR) Jakarta Dr. (c) Sri Tunggul Panindriya

JAKARTA-Tenaga Hubungan Masyarakat (Humas) di lembaga mana pun harus terampil dan tidak gagap teknologi di tengah perkembangan teknologi informasi yang maju sedemikian cepat. Bahkan Humas menjadi sumber informasi pertama tentang institusi tempat dia bekerja.  “Selain itu, Humas harus pandai berkomunikasi secara elegan ke luar, menguasai persoalan yang hendak dikomunikasikan,” ungkap dosen The London School Of Public Relations (STIKOM LSPR) Jakarta Dr. (c) Sri Tunggul Panindriya disela-sela dialog kehumasan yang diselenggarakan oleh Suku Dinas Komunikasi Informatika dan Kehumasan Kotamadya Jakarta Pusat di Ruang Pola, Kantor Walikota Jakarta Pusat pada 25-26 Agustus 2016.

Menurut Tunggul, Humas juga harus memiliki strategi yang baik dalam menghadapi wartawan. “Jangan hindari wartawan. Hadapi dan kasih informasi yang jelas dan benar. Justru kalau dihindari akan muncul dugaan macam-macam yang bisa berkembang ke mana-mana,” ujarnya.

Tunggul juga mengingatkan agar Humas di lembaga pemerintahan lebih gesit dalam menyampaikan informasi penting ke publik. Sebagai contoh, Peristiwa bom Sarinah. “Pemerintah baru mengeluarkan statement resmi sekitar 4-5 jam kemudian. Publik perlu mendapat informasi. Kalau memang belum lengkap, cukup jawab apa yang terjadi, kapan dan di mana sedangkan unsur mengapa dan siapa pelakunya bisa kemudian. Intinya masyarakat perlu dapat informasi dengan cepat,” terangnya.

Pembicara lain adalah Norman Meoko, seorang wartawan senior dan Ismail Cawidu, Kepala Pusat Informasi dan Humas Kominfo. Bertindak sebagai moderator adalah Emanuel Dapa Loka, wartawan dan penulis biografi.

Menjawab pertanyaan peserta tentang kecenderungan wartawan yang berprinsip bad news is a good news, Norman mengatakan, wartawan sudah seharusnya mengubah paradigmanya. “Karya seorang wartawan semestinya memberi inspirasi dan harapan kepada pembaca. Bukan melulu melaporkan hal-hal yang jelek,” ujar mantan wartawan Harian Sinar Harapan ini.

Namun Tunggul mengingatkan juga bahwa tugas pers adalah memberi koreksi dan control. “Untuk itulah sebuah media atau pers itu ada, tapi benar jangan hanya yang jelek yang diberitaan,” tambahnya.

St. Kristianto selaku panitia penyelenggara menjelaskan bahwa dialog tersebut untuk menyegarkan dan memperkaya pengetahuan dan wawasan para tenaga Humas, Camat, Lurah dan Kasudin.