Versi Survei FSI, Ternyata Ini Cagub Pilihan Warga Jakarta

278
Ilustrasi

JAKARTA-Pertarungan Babak final Pilkada DKI pada putaran kedua semakin menarik perhatian warga Jakarta dan elit Politik nasional yang terbelah. Hal ini menarik untuk dilakukan penelitian terhadap opini masyarakat Jakarta terhadap kedua calon kepala daerah yang akan bertanding di babak final Pilkada DKI.

Demikian disampaikan oleh Direktur Eksekutif Lembaga survei Focus Survei Indonesia (FSI) Budi Dewantara dalam siaran pers yang diterima wartawan, Kamis (13/4/2017).

“Kami telah melakukan Survei opini publik masyarakat Jakarta terkait dengan faktor Popularitas, Akseptabilitas,Kapabilitasdan elektabilitas kedua Calon Kepala daerah Jakarta,” ujarnya.

Kata Budi, dari survei pihaknya itu  didapati bahwa 69,3 persen dari responden mengunakan hak pilihnya pada pilkada DKI Jakarta putaran pertama dan 30,7 tidak memberikan haknya dengan alasan tidak punya waktu, tidak peduli dan tidak di jakarta saat hari pencoblosan.

Tetapi ketika responden ditanyakan apakah akan memberikan hak pilih pada Pilkada DKI putaran kedua didapati 78,7 persen akan memberikan Hak pilihnya di TPS pada tanggal 19 April nanti.

“Ini menunjukan kalau Emosi kelompok pendukung pasangan Ahok dan Djarot Saiful Hidayat serta pasangan Anies Baswedan dan Sandiaga Uno, dinilai tidak mampu dijadikan sebagai energi positif dalam meningkatkan partisipasi pemilih di putaran kedua Pilgub DKI, dimana hanya meningkat partisipasi sebanyak 1,2 persen dibandingkan putaran pertama yang hanya 77,5 persen,” cetusnya

Untuk tingkat Popularitas, Budi memaparkan kedua pasangan didapati 98,3 persen masyarakat  Jakarta sangat mengenal pasangan Basuki Tjahaya -Djarot Syaiful  sedangkan tingkat popularitas pasangan Anies Baswedan-Sandiaga pada masyarakat Jakarta sebesar 90,2 persen.

Hal ini, kata Budi, sangat lumrah Karena Basuki Tjahaya merupakan tokoh yang fenomenal dan memancing banyak pemberitaan di media massa

Tingkat popularitas kedua paslon menunjukan ada ikatan emosional antara pemilih  dengan kedua paslon  itu. “Hal ini disebabkan kedua paslon  rajin menjual nama dan prestasinya kepada masyarakat,” tandasnya.

Dalam temuan FSI, didapati tingkat akseptabilitas atau responden menilai cocok tidaknya kedua paslon  jadi Kepala daerah Jakarta  Banyak aspek yang dinilai.

Diantaranya, imbuh Budi adalah kualitas, kompetensi, integritas, profesionalitas, personalitas, perilaku, prestasi, reputasi, kepemimpinan, visi dan lain-lain. Proses penilaian melahirkan penerimaan (akseptabilitas) pemilih terhadap kedua paslon.
“Dalam survei menunjukan Pasangan Basuki Tjahaya -Djarot Syaiful Hidayat memiliki tingkat akseptabilitas sebesar 79,3 persen Sementara pasangan Anies Baswedan- Sandiaga Uno hanya memiliki tingkat Akseptabilitas sebesar 59,1 persen Dari tingkat akseptabilitas menunjukan kalau masyarakat menilai  Basuki-Djarot lebih punya pengalaman dalam memimpin sebuah daerah dibandingkan Anies-Sandi,” paparnya.

Untuk tingkat kapabilitas sendiri kata Budi,  kedua pasangan masyarakat Jakarta menilai Basuki Tjahaya-Djarot Syaiful memiliki tingkat Kapabilitas sebagai pemimpin Jakarta sebesar 85,7 persen. Dari jawaban survei masyarakat jakarta menilai sudah banyak hasil pembangunan di Jakarta yang dilakukan oleh Basuki Tjahaya -Djarot Syaiful selama ini dibandingkan dengan era Fauzi Bowo sementara tingkat kapabilitas pasangan Anies Baswedan- Sandiaga dinilai oleh masyarakat Jakarta hanya 41,4 persen untuk memimpin Jakarta. “Ini menunjukan nilai realitas kalau 58,6 persen masyarakat jakarta meragukan kapabilitas Anies Baswedan-Sandiaga sekalipun Anies pernah menjadi menteri pendidikan,” tegasnya.

Yang menarik, Kata Budi, ketika  masyarakat Jakarta ditanyakan akan memilih siapa diantara kedua paslon Kepala Daerah Jakarta mereka memilih Ahok-Djarot.
“Dari jawaban survei didapati 48,2 persen akan memilih pasangan Basuki-Djarot sedangkan 41,4 persen akan memilih Anies -Sandiaga sedangkan yang belum menentukan pilihan 10,4 persen,” pungkasnya seraya menagatakan 79,3 persen warga DKI mengetahui adanya Pilkada DKI.

Survei dilakukan mulai tanggal 3 April sampai tanggal 11 April dengan mengunakan jumlah responden sebanyak 2178 warga Jakarta yang diambil  dari total Daftar Pemilih Tetap sebanyak 7,2 juta pada pilkada Jakarta putaran kedua.

Survei ini mengunakan teknik  multistage random sampling dari populasi masyarakat Jakarta yang tercantum pada Daftar Pemilih Tetap   proporsional atas populasi kotamadya dan gender dengan  tingkat margin of error sebesar +/- 2,1 persen pada tingkat kepercayaan 95 % dan Survei ini didanai secara mandiri oleh Focus Survei Indonesia. ***