Wapres: Menghadapi Persaingan, Indonesia Pakai Jurus ‘Kungfu’

Wapres: Menghadapi Persaingan, Indonesia Pakai Jurus ‘Kungfu’

23
0
BERBAGI
Wapres RI Jusuf Kalla menerima Dekan Lee Kuan Yew School of Public Policy di Kantor Wapres, Jl. Merdeka Utara, (23/2) /dok wapres

JAKARTA-Indonesia sebagai negara berkembang selalu berupaya menjaga harmoni antara stabilitas politik, pertumbuhan ekonomi dan keadilan sosial, sehingga diharapkan mampu menghadapi tantangan dan persaingan global yang terjadi saat ini.

Demikian disampaikan Wakil Presiden (Wapres) Jusuf Kalla, saat menerima kunjungan Dekan The Lee Kuan Yew School of Public Policy (LKYSPP), National University of Singapore (NUS) Kishore Mahbubani beserta para pengajar dan mahasiswa di Kantor Wakil Presiden, Jalan Merdeka Utara, Selasa, (23/2).

Wapres menjelaskan, ada 4 hal yang tengah diperbaiki pemerintah Indonesia agar mampu berkompetisi lebih baik ke depan, yakni sektor keuangan, efisiensi logistik, pasokan energi dan birokrasi. Langkah perbaikan dilakukan agar dapat menarik investor dan meningkatkan kinerja industri nasional.

Mengenai peta persaingan global ekonomi dunia saat ini, Wapres menilai sudah tidak relevan lagi berbicara ekonomi negara per negara, akan tetapi konteksnya lebih luas menjadi kawasan per kawasan. Oleh sebab itu, turunnya ekonomi Tiongkok, Eropa dan Amerika juga berdampak terhadap ekonomi Indonesia dan ASEAN.

Untuk itu, kata Wapres, Indonesia akan mengerahkan seluruh kemampuannya dalam menghadapi persaingan, termasuk menggunakan tenaga dalam (inner strength) seperti jumlah penduduk yang besar sebagai pasar yang potensial. “Indonesia akan menggunakan tenaga dalam seperti dalam kungfu itu,” ucap Wapres seraya tersenyum.

Selain soal ekonomi, Wapres juga mengungkapkan keberhasilan Indonesia menciptakan iklim toleransi beragama, meskipun mayoritas penduduk, 88 persen beragama Islam. Hal itu ditunjukkan pemerintah dengan mengakomodasi kepentingan Konghucu merayakan hari raya Imlek sebagai hari libur nasional. “Karena Islam dibawa ke Indonesia oleh para saudagar, bukan dengan kekuatan militer,” tandas Wapres.

Menjawab pertanyaan seorang mahasiswi bernama Caroline terkait persoalan yang membuat pemerintah frustasi menghadapi keadaan ini, Wapres menegaskan tidak pernah merasa frustasi dengan berbagai persalan yang ada bahkan sangat menikmatinya.

Wapres juga telah terbiasa membedakan antara pekerjaan kantor dan urusan rumah. Namun, apabila ada yang bertanya bagaimana menghadapi semua tantangan tersebut, Wapres menyatakan optimismenya Indonesia akan mampu menghadapinya dengan harmonisasi antara kebijakan pemerintah, pasar dan sosial.