Yogyakarta Menggebrak, Kampung Wisata Langenastran Dideklarasikan

29
Para Deklarator Langenastran Yogyakarta sebagai Kampung Wisata Budaya

YOGYAKARTA-“Langenastran Yogyakarta Sebagai Kampung Wisata Budaya” dideklarasikan oleh sesepuh dan warga setempat. Kampung atau jalan Langenastran adalah jalan utama menuju Alun-alun Selatan, Yogyakarta yang merupakan pusat wisata kayuh (odong-odong) di Yogyakarta dan merupakan destinasi wisata. Diharapkan deklarasi tersebut akan memiliki multiplier effect (multi efek)  bagi seluruh kampung yang berada di dalam beteng Kraton Yogyakarta untuk memelihara warisan budaya para leluhur yang di kelak kemudian hari, kampung-kampung yang berada di wilayah dalam Kraton Yogyakarta akan menjadi destinasi utama wisata.

Dekalarasi  “LANGENASTRAN sebagai Kampung Wisata Budaya” Yogyakarta ini dilakukan di dan sekaligus bersamaan dengan peresmian Media Corner (Omah Media), “AVOCADO”, Sabtu (3/9).

Menandai pernyataan para sesepuh dan warga “Langenastran Sebagai Kampung Wisata Budaya” dilakukan pemotongan tumpeng oleh Letjen TNI (Pur) Kiki Syahnakri (Mantan Wakasad) dan diberikan kepada salah satu tamu undangan, Mega, mahasiswi Universitas Negeri Yogyakarta yang berasal dari Ketapang, Kalimantan Barat.

Dalam pernyataannya sesepuh Kampung Langenastran KRT Radiya Wisroyo Sumartoyo mengatakan bahwa, Langenastran adalah jalan dan sekaligus kampung yang strategis dalam membangun pariwisata dan budaya wilayah dalam beteng kraton Yogyakarta. Hal itu bisa dilihat dari macetnya jalan saat menuju Alun-alun Selatan pada akhir pekan dan hari liburan. Alun-alun Selatan adalah lapangan besar di selatan Kraton Yogyakarta yang saat ini setiap hari digunakan untuk wisata Odong-odong (wisata kayuh dalam bentuk mobil-mobilan). “Langenastran seperti Malioboronya dalam kraton. Setiap wisatawan pasti akan melewati jalan ini jika menuju ke alun-alun selatan. Oleh karena itu, untuk membangkitkan kehidupan wisata budaya di wilayah Kraton, kami menngawalinya dengan mendeklarasikan jalan Langenastran sebagai Kampung Wisata Budaya,” ujar KRT Sumartoyo.

Dari segi sejarah, Sumartoyo menambahkan, Langenastran dulunya merupakan wilayah strategis karena merupakan nama pasukan pengawal (“Paspamres”) Sultan Hamengkubuwono II.  Di wilayah ini pula, pada tahun 1970an terkenal dengan produksi batik, catering dan juga pusat tari ataupun tembang Macapatan (Lagu Macapat). Untuk tari dan tembang Macapat terletak di nDalem Madukusuman. KRT Madukusumo merupakan salah satu seniman Kraton Yogyakarta, dan sekaligus pendiri sekolah dalang di Kraton Yogyakarta.

Dikampung ini juga terlahir seniman ketoprak Ki Bekel Tembong yang pada jamannya namanya juga sangat terkenal sebagai pelaku seni di Yogyakarta. “Potensi wisata budaya di wilayah dalam Kraton sangat kaya, tidak hanya persoalan rumah kuno yang ada di dalamnya saja, tetapi juga kerajinan dan juga kuliner. Berharap apa yang dilakukan Kampung Langenastran akan diiikuti oleh kampung-kampung lainnya. Sehingga masing-masing kampung akan menata diri agar layak menjadi kampung wisata baik bagi  wisatawan domestik ataupun manca negara,” tandas Sumartoyo.
“Langenastran Sebagai Kampung Wisata Budaya Yogyakarta” digagas oleh para pengamat wisata dan budaya, tokoh masyarakat kampung Langenastran termasuk di dalamnya Suharyanto SH, DR Y Sri Susilo, RM Hermunanto SE,  Harsya Aryo Samudro MSc, Much Dwi Pramono ST, AM Putut Prabantoro Kamashakti Wondo Amiseno MSc, KRT. Radiya Wisroyo Sumartoyo, Febrian Wisnu Adi S.Sn, MA, Noor Harsya Aryosamodro S.Sn, MA dan Rianto Hernadi SH.

Dalam pernyataannya Kiki Syahnakari mengatakan, Indonesia saat ini berada dalam situasi proxy (perang tanpa kekuatan militer). Bentuk nyata dalam proxy-war adalah menggunakan kekuatan budaya dan ekonomi yang berbasiskan pada  kecanggihan sistem serta teknologi informasi-komunikasi.

Indonesia merupakan target utama dalam proxy war yang dilakukan oleh negara hegemoni.  “Sebuah negara akan hancur ketika budayanya juga dihancurkan oleh negara lain. Yogyakarta tidak bisa dilepaskan dari Negara Kesatuan Republik Indonesia. Menjaga keutuhan sebuah negara tidak selalu dimulai dari kegiatan yang besar. Kegiatan budaya sekecil apapun dapat menjadi lokomotif terpeliharanya persatuan sebuah negara dan ini perlu diperhatikan oleh para pemimpin bangsa dan sekaligus sebagai sarana untuk melawan proxy war. Kita bisa melawan game yang sedang marak sekarang seperti pockemon-go,” pungkasnya.