PNM-Jetro Bermitra Buka Pasar UMKM di Jepang

JAKARTA-PT Permodalan Nasional Madani (PNM) bermitra dengan Japan External Trade Organization (Jetro) dalam pengembangan kapasitas dan penetrasi pasar UMKM Indonesia ke Jepang.  Kerjasama PNM dengan Jetro berlaku selama lima tahun dan dapat diperpanjang kembali untuk jangka waktu yang sama. Nota kesepahaman kerjasama ditandatangani oleh Dirut PNM Parman Nataatmadja dan Presiden Direktur Jetro Kenichi Tomiyoshi, serta disaksikan oleh Mantan Perdana Menteri Jepang Yasuo Fukuda dan Ketua Perhimpunan Persahabatan Indonesia-Jepang (PPIJ) Rahmat Gobel.

Parman menjelaskan amanat pendirian PNM oleh Pemerintah adalah untuk mengembangkan dan memajukan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).   Selain melalui penyediaan serta penguatan modal kerja dan investasi, PNM juga memberikan pendampingan dan pengembangan kapasitas usaha untuk meningkatkan nilai tambah para pelaku UMKM nasional. “Untuk itu kami menilai diperlukan juga kerjasama kemitraan dengan lembaga internasional seperti Jetro agar tercipta peluang pasar dan investasi yang lebih besar. Dengan demikian UMKM kita tak hanya kompetitif di pasar nasional, tetapi juga bisa bersaing di pasar Jepang dan dunia,” tuturnya pada acara Penandatanganan Nota Kesepahaman Kerjasama PNM dengan Jetro, Kamis (19/12).

Sebagai informasi, Jetro adalah organisasi bentukan Pemerintah Jepang yang bertugas mempromosikan perdagangan dan investasi ke seluruh dunia. Menurut Parman, Jepang merupakan pasar yang cukup besar dengan standarisasi produk yang sangat ketat. Karenanya, PNM punya kepentingan untuk menyiapkan nasabah Unit Layanan Modal Mikro (ULaMM) yang punya kompetensi dalam menghasilkan produk-produk berkualitas sesuai dengan permintaan pasar Jepang. “Dari ratusan ribu UMKM binaan PNM, untuk produk food maupun non-food, saat ini 22.000 UMKM masuk dalam proses seleksi pembinaan lanjutan untuk bisa menembus pasar Jepang,” ujar Parman.

Kerjasama kemitraan PNM dengan Jetro memuat sejumlah klausul kemitraan terkait peluang pasar dan investasi serta pengembangan kapasitas UMKM. Teknis kerjasama bisa berupa pengiriman tenaga ahli, pelatihan atau seminar, studi banding, dan bantuan teknis lainnya.

Executive Vice President PNM Arief Mulyadi,  mengatakan selama ini PNM telah memberikan pelatihan regular kepada nasabah UMKM secara berjenjang, mulai dari tingkat unit atau ULaMM, klaster hingga cabang. Materi pelatihan beragam, mulai dari yang strategi bisnis yang sifatnya sederhana hingga penjajakan sinergi usaha antar-UMKM.  “Kami juga menggunakan website sebagai media publikasi dan komunikasi nasabah ULaMM serta membuka Klinik Bisnis di kantor-kantor Cabang PNM sebagai sarana intermediasi nasabah dengan tenaga atau lembaga ahli,” tuturnya.

Sejak 2010 hingga November 2013, PNM telah melaksanakan pelatihan  sebanyak 360 kali, yang melibatkan 17.281 nasabah UMKM. PNM saat ini memiliki 705 kantor pelayanan yang tersebar di 2.799 kecamatan di seluruh Indonesia. Adapun kantor pelayanan yang dimaksud terdiri dari 1 kantor pusat, 26 kantor cabang, 4 kantor cabang pembantu, 97 kantor klaster dan 577 gerai ULaMM. Selama periode Januari hingga November 2013, outstanding pembiayaan ULaMM PNM mencapai Rp3,1 triliun, naik 12,86% dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu Rp2,75 triliun