Kebijakan BBM Demi “Selamatkan” Fiskal

Agus Martowardoyo

JAKARTA-Kementerian Keuangan menegaskan kebijakan pemerintah yang menyangkut soal Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi, merupakan opsi untuk menghemat belanja subsidi energi serta menjaga kondisi fiskal tetap sehat.  

“Ini arahnya penghematan dan pengendalian dalam satu paket, jangan sampai fiskal kita tidak sehat,” kata Menteri Keuangan Agus Martowardojo di di Jakarta, Jumat,(12/4).

Menurut Agus, opsi apapun yang dipilih untuk menjaga realisasi belanja subsidi, pemerintah akan tetap memberikan subsidi kepada masyarakat miskin yang membutuhkan.  

“Pesannya bahwa bagi yang miskin akan dijaga, bagi yang kaya dikurangi subsidinya, ini menjadi pegangan utama,” tambahnya.

Gubernur Bank Indonesia terpilih ini menambahkan belum ada opsi yang diputuskan dalam rapat koordinasi, karena hasilnya masih akan dilaporkan kepada Presiden.

Baca :  BI: Indikator Ekonomi Lebih Baik Dari 20 Tahun Lalu

“Belum ada yang final, ini masih pendalaman. Yang bisa memutuskan adalah yang mempunyai kewenangan,” tegasnya.

Dalam rapat yang dipimpin Menteri Koordinator bidang Perekonomian Hatta Rajasa tersebut, hadir Menteri ESDM Jero Wacik, Menteri BUMN Dahlan Iskan, Wakil Menteri ESDM Susilo Siswoutomo dan Kepala BPH Migas Andy Noorsaman Sommeng.

Sementara, Menteri ESDM Jero Wacik menambahkan pemerintah sedang mempertimbangkan tiga opsi terkait pengelolaan BBM bersubsidi dan saat ini belum ada keputusan final.  

“Pasti nanti dicari opsi terbaik di masyarakat, `clear`nya nanti diumumkan apabila sudah final,” tegasnya.

Jero Wacik mengatakan apapun opsi yang dipilih pemerintah, telah mempertimbangkan peningkatan laju inflasi serta dampaknya terhadap masyarakat miskin secara keseluruhan.  

Baca :  Perppu 01/2020 Diserahkan ke DPR

“Karena opsi apapun yang diambil akan ada inflasi dan inflasi akan menghantam kelompok miskin,” pungkasnya. **can