Jangan Ubah Jalan Medan Merdeka

Jalan Medan Merdeka

JAKARTA-Kontroversi perubahan nama Jalan Medan Merdeka yang membentang dari Istana Merdeka hingga di lingkup Silang Monumen Nasional (Monas) sebaiknya tidak dipaksakan.

“Jalan Medan Merdeka itu memiliki sejarah peradaban dan spiritualititas yang tinggi. Jadi, jangan mentang-mentang sebagai politisi lalu menyatakan akan jalan terus,” kata Budayawan Ridwan Saidi dalam diskusi “Usulan Pergantian Nama Jalan Medan Merdeka di Monas” di Jakarta, Rabu (11/9).

Sebagai solusinya, kata Ridwan, keinginan menempatkan nama Soekarno, Muhammad Hatta, Ali Sadikin dan Soeharto dicarikan nama jalan lain yang memiliki nilai strategis tetapi tidak menimbulkan penolakan dari publik.

“Kalau terbukti idenya ditolak keras masyarakat, ya menyerahlah. Itu sportif namanya. Jangan ngotot mau jalan terus,” ujarnya.

Baca :  Megawati Minta Pengganti Ma’ruf Amin dan Mahfud MD di Dewan Pengarah BPIP

Ridwan yang menguasai betul sejarah nama-nama jalan di Jakarta,  mengklaim nama Medan Merdeka memiliki nilai lebih tinggi.

Karena dari sejarahnya kata Medan Merdeka diambil dari peristiwa gerakan keinginan merdeka rakyat Indonesia seluruh aktivis pergerakan kemerdekaan yang ditandai dengan peristiwa pidato Bung Karno di jaman itu.

“Jadi kata medan itu merujuk pada arena dan semangat pertempuran untuk merdeka yang memang banyak terjadi di lokasi itu,” tegasnya.

Menurut  Ridwan, hal ini merupakan masalah peradaban, bukan politik.

“Tapi, kalau kuat silakan iseng-iseng melawan Jalan Medan Merdeka Barat. Jadi, jangan sampai masalah perubahan jalan itu dibawa presiden, cukup gubernur. Seolah-olah itu sebagai perjuangan politik. Tidak benar itu,” katanya.

Baca :  Said: Megawati Simbol Ideologi Partai

Sejarahwan Asvi Warman Adam menilai ide perubahan nama jalan ini sebenarnya dilakukan dalam konteks rekonsiliasi dan rehabilitasi.

Dia sependapat dengan usulan mencari nama jalan lain untuk Soekarno dan Muhammad Hatta.

“Tetapi, kalau dicarikan jalan lain, maka harus berada di jalan yang strategis. Ada usulan mengggantikan jalan panjang, tapi jalan itu kan tidak strategis. Memang sayangnya, jalan-jalan yang strategis itu sudah diambil semua oleh nama-nama pahlawan dari prajurit TNI,” ujarnya.

Anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) AM Fatwa mengungkapkan gagasan ide ini diawali semangat keinginan dirinya untuk menempatkan kewibaan Soekarno.

Ketika putrinya, Megawati Soekarnoputri menjadi presiden, ternyata tidak direspon positif.

Lalu, ketika almarhum Taufiq Kiemas menjadi Ketua MPR, ide ini disambuat positif sehingga terjadi perdebatan informal hingga muncul dibentuk tim yang akhirnya dinamakan Tim 17 yang ditugasi untuk menyiapkan segala sesuatunya termasuk memilih empat nama untuk menggantikan Jalan Medan Merdeka yang berada di empat penjuru sisi Monas tersebut.

Baca :  Megawati Ajak Warga Jatim Pilih Bambang-Said