BEI Kesal Terhadap Saham Tidur

JAKARTA-Bursa Efek Indonesia (BEI) ternyata kesal dengan keberadaan saham tidur, alias kurang aktif pergerakkannya. Karena membuat imej bursa saham menjadi kurang baik.

“BEI tidak suka saham pasif. Kita ingin semua saham likuid,” kata Direktur Utama PT Bursa Efek Indonesia (BEI) Ito Warsito di Jakarta, Kamis,(28/11).

Namun demikian, kata Ito lagi, jumlah saham tidur di pasar modal Indonesia jumlahnya sedikit di ASEAN.

“Dibandingkan dengan yang ada di bursa Malaysia dan Singapura yang hampir mencapai 50 % dari total saham yang ada,” tambahhya.

Lebih jauh kata Ito, sebanyak 350 saham yang tercatat di Bursa Efek Indonesia merupakan saham aktif. Tercatat total saham di Bursa sebanyak 480 saham emiten.

Baca :  Rupiah Kembali Bergerak Pada Level New Low

“Pihaknya akan terus meminimalkan saham tidur sehingga pasar modal Indonesia dapat terus meningkat lukiditasnya,” ujarnya.

Menurut Ito, beberapa cara yang dilakukan baik dari otoritas maupun emiten untuk mengurangi jumlah saham tidur, yakni salah satunya dengan penghapusan saham atau “delisting” saham perusahaan yang tidak mempunyai prospek positif.

“Sejak 2006 BEI sudah melakukan penghapusan saham sebanyak 26 perusahaan, akan ada satu lagi yang akan di `delisting` bulan depan. Ini untuk mengurangi saham-saham tidur,” tuturnya.

Kendati demikian, lanjut Ito, keberadaan saham tidur di pasar modal merupakan fenomena yang normal, karena hal itu juga terjadi di pasar modal negara tetangga salah satunya di bursa saham Malaysia dan Singapura.

Baca :  TRIN Siapkan Rp20 Miliar Untuk Buyback

Ito mengharapkan kepada perusahaan tercatat untuk terus melakukan aksi korporasi agar investor tertarik melakukan transaksi sehingga sahamnya menjadi likuid.

Menurut dia, saham pasif merupakan salah satu alasan bagi masyarakat untuk tidak ikut berperan serta masuk ke dalam industri pasar modal.

Ito juga mengatakan bahwa salah satu cara lain agar likuiditas saham meningkat yakni dengan menambah jumlah saham beredar (floating share) di pasar dengan melakukan penerbitan saham terbatas (rights issue).

“Bisa juga dengan melakukan `merger` dengan perusaahaan lain, sehingga memungkinkan ada panel baru agar ada bisnis baru,” pungkasnya.