Awas! Jangan Asal Nyoblos

Politisi Golkar, Bambang Soesatyo

Oleh: Bambang Soesatyo

KETIKA rakyat memilih anggota legislatif, dan juga memilih presiden-wakil presiden nantinya, yang dicari sesungguhnya adalah sosok pelayan atau abdi; figur yang hanya fokus melayani negara dan rakyat.

Sesederhana itu. Kalau dalam lima atau 10 tahun terakhir rakyat merasa tidak terlayani sebagaimana seharusnya, berarti terjadi kesalahan memilih.

Periode kampanye partai politik  (Parpol) menyongsong pemilihan anggota DPR/DPRD/DPD 2014 sebenarnya menjadi ajakan tak langsung kepada semua warga negara pemegang hak pilih untuk melakukan intropeksi atau renungan.

Sebab, lazimnya di arena kampanye, ada tudingan tentang kegagalan yang akan dibalas dengan klaim keberhasilan. Kekuatan politik yang berambisi memenangi Pileg akan mengungkap sejumlah kegagalan dari partai yang sedang berkuasa.

Sebaliknya, partai yang memegang tampuk kekuasaan akan mengklaim dan menunjuk semua cerita sukses mereka.

Mana yang benar? Jawabannya bergantung pada hasil renungan setiap warga negara. Karena itulah sangat beralasan untuk menjadikan periode kampanye Parpol baru-baru ini sebagai introspeksi bagi setiap warga negara yang telah menggunakan hak pilihnya lima tahun lalu.

Baca :  Kemendes PDTT Rumuskan Strategi Bangun Daerah Tertinggal

Apakah pilihan pada 2009 itu sudah benar atau salah? Apakah hak memilih lima tahun lalu itu digunakan dengan cerdas dan bijak, atau asal-asalan karena terbuai angin surga dan iming-iming uang?

Karena semua elemen warga negara mendambakan hari esok yang lebih baik, menjadi kewajiban bersama untuk tidak mengulangi kesalahan menggunakan hak pilih.

Kalau terus asal-asalan atau ceroboh menggunakan hak pilih, sama artinya warga pemilih tidak bersungguh-sungguh  ingin memperbaiki tata kehidupan berbangsa dan bernegara dalam semua aspeknya.

Jadi, penggunaan hak pilih sebagai faktor penentu masa depan bersama bukanlah isapan jempol. Pertimbangan pilihan setiap warga negara akan menentukan dinamika kehidupan berbangsa dan bernegara selama lima tahun ke depan.

Baca :  IPM Capai 71,92, Kualitas Hidup Masyarakat Terus Naik

Bijak dan cerdas menggunakan hak pilih bisa saja dimulai dengan menimbang-nimbang beberapa aspek paling mendasar, seperti kecukupan pangan, sandang dan papan, jaminan kesehatan dan pendidikan, ketersediaan lapangan kerja dan pembangunan infrastruktur yang merata di semua daerah.

Setelah memotret semua aspek itu, simak apa saja yang sudah dikerjakan partai yang memegang kendali kekuasaan dan pemerintahan selama lima-10 tahun terakhir.

Pengerahan dan arak-arakan massa serta  orasi politik selama periode kampanye Parpol tak perlu dikecam. Selain mengajak massa berdangdut ria sebagai selingan, para juru kampanye harus bisa menggiring massa untuk fokus memotret aspek-aspek mendasar tadi.

Ini menjadi semacam pembelajaran politik. Apalagi jika massa bisa diajak untuk memberi penilaian yang proporsional tentang aspek kecukupan pangan, sandang dan papan serta aspek lainnya.

Baca :  Permendes 6/2020 Dikritisi, Komite I DPD: Penyaluran Dana Desa Jadi "Ruwet"

Selama periode kampanye Parpol baru-baru ini, sebuah surat kabar harian terkemuka di ibukota menyajikan beberapa tema laporan utama yang secara tidak langsung mengajak pemegang hak pilih melakukan instropeksi. Tujuannya agar tidak lagi ceroboh menggunakan hak pilih masing-masing .

Tema laporan utama itu antara lain tentang makin lebarnya kesenjangan pendapatan, dan juga tema tentang ekses dari kebijakan ekonomi yang mengabaikan potensi besar di sektor pertanian sebagai basis pembangunan nasional.

Sedangkan di Yogyakarta,  sejumlah orang yang tergabung dalam organisasi Makaryo (Masyarakat Anti Kekerasan Yogyakarta), berunjuk rasa mengritik rezim pemerintahan sekarang yang gagal menuntaskan kasus-kasus kekerasan yang terjadi di Yogyakarta beberapa waktu terakhir.

Program Jebakan

Sebagai isu , dua tema yang disajikan surat kabar itu tidaklah baru. Hanya mengritisi buruknya kualitas pertumbuhan ekonomi dan membesarnya ketergantungan  Indonesia akan bahan pangan impor.