Menyiapkan Diri Menjadi Orangtua Sukses Dalam Mendidik Anak

Oleh: Nanang Djamaludin-Direktur Eksekutif Jaringan Anak Nusantara (JARANAN)

Adakah Anda saat ini sedang menikmati indahnya berpacaran dengan kekasih tercinta? Atau mungkin sedang menghitung hari menuju hari H pernikahan? Atau justru sedang berbahagia menanti kelahiran anak pertama beberapa waktu ke depan? Atau mungkin anda dan pasangan sedang mempertimbangkan mengadopsi anak untuk menambah kebahagiaan perkawinan Anda setelah lama tak kunjung juga dikarunia seorang anak?

Lalu apa gerangan yang menjadi tema utama pembicaraan Anda dengan pacar atau pasangan anda pada momen-momen seperti itu? Apakah tema utama itu melulu soal pujian betapa manis dan gantengnya pacar Anda? Soal bagusnya film terbaru yang ditonton berdua? Soal gosip selebritis yang sedang heboh?

Atau tentang penentuan hari baik pernikahan, berikut biaya dan tek-tek bengek yang harus disiapkan sempurna di pesta pernikahan meski mungkin belum bisa mendekati kemegahan pesta Raffi-Gigi?

Atau mungkin pilihan soal rumah sakit, metode melahirkan yang dipilih, model kamar dan segala pilihan perlengkapan bayi yang akan disiapkan untuk menyambut kelahiran anak Anda? Atau adakah tema lainnya yang jadi tema pembicaraan antara anda dan pasangan?

Pernahkah Anda dan pacar atau pasangan, misalnya, mengangkat sebuah tema yang lebih serius dan strategis. Yakni tentang bagaimana mempersiapkan diri bersama-sama agar benar-benar menjadi orangtua yang baik dan sukses dalam hal mendidik anak-anak anda kelak? Agar anak tumbuh dan berkembang menjadi generasi hebat dan berbudi pekerti luhur, mengangkat derajat orangtua, dan mengangkat harga diri bangsa dalam pergaulan internasional di masa depan? Ya, itu maksudnya. Seputar pembekalan dan penguatan diri anda dan pasangan tentang segenap pemahaman, keterampilan, metode, dan teknik-teknik yang dibutuhkan dan akan diterapkan bersama dalam mendidik anak.

Manual Book

Tentu saja pemahaman, keterampilan dan pilihan atas metode mengasuh dan mendidik anak (parenting) yang akan diterapkan nantinya, sebaiknya merupakan hasil dari pilihan terbaik yang direguk dari khazanah parenting yang berbasis nilai-nilai cinta dan mampu melejitkan segenap
potensi kecerdasan anak termasuk kecerdasan spiritualnya. Baik yang bersumber dari tradisi dan kearifan lokal, maupun yang bersumber dari metode-metode ilmiah modern.

Dari pembicaraan strategis seputar penyiapan diri mengasuh dan mendidik anak itu, pada akhirnya diharapkan tersusunlah semacam “manual book” di dalam pikiran dan hati yang disepakati Anda dan pasangan. Dan akan menjadi panduan bagi penerapan mengasuh dan mendidik anak di dalam keluarga Anda.

Ketika “manual book” itu sudah Anda sepakati bersama pasangan, maka ketika karunia Tuhan turun lewat lahirnya anak, Anda dan pasangan tak sekedar mengandalkan insting sebagai orangtua semata dalam mengasuh dan mendidik anak. Padahal tak jarang pada banyak orangtua, proses pembentukan insting sebagai orangtua itu lebih banyak diwarnai dan berasal dari endapan-endapan praktek keliru pengasuhan dan pendidikan anak yang diterimanya saat kecil dan dicoba di-“imprint” (ditiru lewat penerapan ulang) untuk diterapkan kembali pada anaknya.

Jika praktek mengasuh dan mendidik anak yang di-imprint itu benar, dalam arti terbukti secara ilmiah dan empiris mampu melejitkan segenap potensi kecerdasan majemuk anak dan perilaku positif anak, maka itu “no problem”. Dan layak untuk di-imprint.

Namun jika yang di-imprint itu ternyata terbukti memunculkan trauma pada diri Anda atau pasangan, jauh dari kemampuan melejitkan segenap potensi kecerdasan majemuk dan perilaku positif anak, maka justru insting berbasis imprint keliru itu harus ditinggakan, tak perlu dipakai dalam mengasuh dan mendidik anak di dalam keluarga Anda. Dengan begitu siklus penerepan parenting yang keliru dapat Anda pangkas.

Libatkan Konsultan Parenting
Terkait dengan penyusunan “manual book” yang akan menjadi panduan dan panduan penerapan parenting di dalam keluarga, tentu anda bisa melibatkan konsultan parenting yang memahami model-model terbaik pendidikan anak dalam keluarga di tengah kompleksitas tantangan pengasuhan dan pendidikan anak di jaman murung sektor parenting saat ini.Ya, jaman murung dimana banyak orangtua saat ini yang  mempraktekkan pola asuh anak keliru. Lalu berbuntut pada pembentukan anak yang menyandang masalah bagi keluarga, sekolah dan masyarakat. Atau susah diatur dan melenceng jauh dari harapan orangtuanya itu sendiri.

Saya sendiri mendapati banyak orangtua mengalami beragam permasalahan mendidik anak. Dimana anak kemudian tumbuh menjadi anak yang bermasalah dalam beragam bentuknya. Hal itu dipicu oleh pemahaman, sikap, pendekatan dan metode yang keliru dalam proses mengasuh dan mendidik anak di dalam keluarga. Usut punya usut, diantaranya hulu masalahnya adalah: Pertama, lantaran dulu sebelum menikah dan punya anak, dikiranya mendidik anak itu semudah membalik telapak tangan. Dan semudah menggerakan boneka Barby dan Teddy. Tapi ternyata, ketika sang anak lahir lalu tumbuh besar, mereka pusing dan kewalahan menghadapi ulah dan sikap anaknya yang menjadi demikian sudah diatur dan tak menghargai orangtua.
Kedua, kursus calon pengantin (susvatin) yang diadakan oleh pejabat agama yang berwenang menjelang tali perkawinan disyahkan, ternyata tak berjalan efektif. Sebab meskipun diatur dalam peraturan, namun dalam pelaksanaannya begitu “longgar”nya. Banyak calon pengantin yang tidak mengikuti kursus itu secara seksama, cuma bayar uang kursusnya saja, tapi tetap dianggap “lulus” dan “memenuhi syarat” menjadi pengantin.

Meskipun sebenarnya  “kelulusan”-nya itu mungkin sekedar lulus sebagai calon pengantin yang cuma siap tempur di ranjang pengantin—bukan dalam urusan mengasuh dan mendidik anak-anaknya kelak. Padahal kurcatin yang diselenggarakan pejabat departemen agama, ataupun pelatihan pra ikah yang diselenggarakan lembaga-lembaga tertentu, penting dalam memberikan pemahaman dan pembekalan bagi calon suami istri memasuki dunia keluarga. Khususnya yang terkait dengan mengasuh dan mendidik anak kelak. Terlebih bagi calon pengantin yang selama ini “buta” dengan urusan demikian. Dan tak pernah ada transfer pemahaman dan keterampilan yang berkualitas terhadap dirinya tentang masalah menggasuh dan mendidik anak yang baik dan benar di dalam keluarga.

Namun sejauh ini, banyak materi yang disuguhkan dalam kurcatin ataupun pelatihan pranikah itu masih terlalu umum dam normatif, tanpa dilengkapi dengan paradima dan metode yang aplikatif. Khususnya terkait mengasuh dan mendidik anak oleh orangtua yang baik dan benar.

Hypnoparenting dan Multiple Intelligence

Materi yang menonjol dengan nuansa normatif dalam kurcatin atau pelatihan pranikah itu, diantaranya, tentang hubungan suami-istri dan konsep pembinaan keluarga sakinah; hak dan tanggung jawab anak; hubungan suami dengan istri dengan anak dan keluarga; hubungan antara
suami dengan istri dengan anak dan keluarga dan masyarakat. Seharusnya materi-materi yang bersifat normatif juga harus diturunkan ke tingkat yang lebih membumi dan aplikatif. Harus mampu memberikan pemahaman dan keterampilan, terutama, terkait paradigma dan metode mengasuh dan mendidik anak yang baik dan benar.

Dan menurut saya metode hypnoparenting yang dipadu dengan multiple intelligence-lah yang saat ini bisa diandalkan untuk diterapkan oleh para orangtua dalam mengasuh dan mendidik anak dalam keluarga. Di sini, diantaranya, orangtua dibekali pemahaman tentang cara kerja orak anak dan bagaimana memanfaatkan cara kerja orak anak itu untuk melejitkan potensinya.

Selain itu juga, misalnya, orangtua di bekali tentang paradigm tentang kecerdasan majemuk anak dan metode mengasahnya lewat modalitas-modalitas belajar yang dimiliki anak.

Metode hypnoparenting dan multiple intelligence yang diterapkan dengan baik dan konsisten itulah yang bisa menjadi salah satu kunci penting bagi tumbuhnya generasi anak-anak saat ini menjadi generasi yang gilang-gemilang dan berbudi pekerti luhur di masa depan.¤