Pertumbuhan Aset dan DPK Perbankan Meningkat

JAKARTA-Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat pertumbuhan aset dan Dana Pihak Ketiga (DPK) perbankan kembali meningkat pada Agustus dan September. Pertumbuhan aset dan DPK per September masing-masing sebesar 14,39% dan 13,32% yoy (Agustus: 13,92% dan 12,08% yoy).

Deputi Komisioner Manajemen Strategis IB OJK, Lucky F.A. Hadibrata mengatakan kondisi perbankan, permodalan dan intermediasi perbankan menunjukkan perkembangan positif, kinerja rentabilitas dan efisiensi perbankan tergolong baik,tercermin dari permodalan yang masih tergolong tinggi, CAR pada level 19,50% dan didominasi komponen modal inti (Tier 1), rentabilitas relatif stabil tercermin dari ROA dan NIM yang relatif stabil per September 2014 masing-masing sebesar 2,91% dan 4,21%, efisiensi relatif stabil tercermin dari BOPO yang relatif tidak berubah yakni 76,14%.

Demikian juga dengan kondisi di Pasar Saham. Walaupun Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) secara point-to-point relatif stabil, namun selama Oktober mengalami volatilitas yang cukup tinggi. Ditengah fluktuasi di pasar saham, NAB reksa dana masih menguat, didukung oleh net subscription yang cukup besar. NAB reksa dana pada bulan Oktober meningkat Rp6,5 triliun (2,99%) sehingga secara total menjadi Rp224,3 triliun. Sebagian besar kenaikan NAB Oktober berasal dari net subscription sebesar Rp5,8 triliun. Nilai portofolio investasi meningkat sebesar Rp771 miliar. “Investor reksa dana saham tercatat melakukan penambahan peningkatan dana secara signifikan,” ujarnya.

Baca :  Hadad: Gubernur BI Harus Bisa Kerjasama Dengan OJK

Sedangkan nilai investasi dana pensiun per September 2014 relatif stabil dibandingkan posisi Agustus 2014 sebesar Rp 173 triliun. Sedangkan nilai investasi asuransi per September 2014 turun sebesar 2,18% menjadi Rp 591,9 triliun dibandingkan bulan sebelumnya sebesar Rp605,1 triliun. Aset perusahaan pembiayaan per September 2014 tercatat sebesar Rp417.2 triliun, meningkat 1,15% (mtm) atau 6,55% (yoy)

Sementara untuk profil risiko, pada perbankan risiko likuditas tergolong relatif rendah. Rasio LDR sedikit menurun, namun masih terdapat potensi risiko likuiditas sejalan ketergantungan terhadap pendanaan non-inti serta rasio deposan inti yang masih cukup tinggi. Pada Pasar Modal, nilai transaksi perdagangan saham pada Oktober meningkat dibandingkan bulan sebelumnya, sejalan dengan maraknya sentimen pasar yang terjadi selama bulan tersebut. Sementara bid-ask spread mengalami pelebaran dibandingkan bulan sebelumnya.

Baca :  PUB Tahap Satu, Bank Mantap Catatkan Obligasi Rp1 Triliun

Risiko kredit lembaga jasa keuangan secara umum berada pada level yang relatif rendah. Risiko kredit pada perbankan relatif rendah, kualitas kredit stabil, tercermin dari NPL yang rendah dan stabil. Perlu diwaspadai konsentrasi kredit pada debitur inti yang relatif tinggi, dan porsi kredit valas yang sensitif terhadap perubahan nilai tukar. Perusahaan pembiayaan, per September 2014, Financing to Asset Ratio (FAR) dan Non Performing Financing (NPF) perusahaan pembiayaan relatif stabil dibandingkan bulan sebelumnya. “Perlu tetap diwaspadai potensi peningkatan suku bunga terhadap tingkat NPF,” imbuhnya.

Lebih lanjut dia mengatakan risiko pasar industri jasa keuangan relatif rendah, disektor perbankan risiko masih dikategorikan rendah dengan rata-rata Posisi Devisa Netto dibawah 3% selama setahun terakhir, jauh dibawah batas ketentuan 20%. Nilai investasi asuransi sedikit menurun dan investasi dana pensiun relatif stabil dibandingkan bulan sebelumnya. Reksa Dana, investasi membukukan peningkatan nilai pada seluruh instrumen utama. Perusahaan Pembiayaan, tingkat utang (gearing ratio) perusahaan pembiayaan mengalami kenaikan tipis, sementara eksposur Utang Luar Negeri (ULN) perusahaan pembiayaan per September mengalami peningkatan yang dipengaruhi oleh pelemahan nilai tukar rupiah pada bulan tersebut.

Baca :  BNI Bidik Pertumbuhan Kredit 16% di 2018