Pemerintah Optimistis Kurs Rupiah Awal 2015 Akan Stabil

JAKARTA-Wakil Presiden (Wapres) Jusuf Kalla (JK) menegaskan pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dollar Amerika Serikat (AS) sebenarnya bukan masalah rupiah tetapi karena ekonomi AS membaik sehingga otomatis dollar AS menguat. Karena itu, pemerintah optimis kurs rupiah akan stabil kembali awal tahun depan“Konsekuensinya, hampir semua mata uang di dunia kelihatannya melemah, tetapi sebenarnya seperti di Indonesia tidak ada hubungannya dengan Rupiah, hanya AS-nya yang membaik,” papar JK usai Rapat Terbatas Kabinet membahas masalah pelemahan nilai tukar mata uang rupiah di Jakarta, Rabu (17/12).

Meskipun demikian, menurut Wapres, berita baiknya adalah Rupiah menguat terhadap Yen Jepang dan Ringgit Malaysia, dan juga dengan Dolar Australia dan won Korea. “Jadi kita optimistis bahwa ekonomi kita akan lebih kuat dari sebelumnya,” tuturnya.

Baca :  SBY Tak Diundang, Antasari Minta Jangan Jadi Polemik

Wapres menilai, situasi saat ini justru memberi peluang untuk ekonomi kita tumbuh lebih baik, karena dengan rupiah yang melemah dibanding dollar AS, maka impor dari negara-negara yang memakai dollar pasti menurun. Sebaliknya, ekspor kita akan naik karena hampir semua ekspor kita dihitung dengan dollar AS.

Hal itu, lanjut Wapres, akan menyebabkan stabilitas ekonomi lebih cepat karena defisit akan menurun, apalagi kebijakan sebelumnya mendukung.

Ia juga menyebutkan, kebijakan pengurangan subsidi BBM itu akan berlanjut sekalipun nilai kurs Rupiah melemah dibanding dollar AS.  “Nanti pada ujungnya diawal tahun depan akan terlihat hasilnya,” terang Wapres.

Menurut Wapres, dengan adanya stabilitas kurs ini akan menyebabkan investasi lebih cepat karena yang punya uang untuk investasi di Indonesia dari ukuran mereka akan lebih murah. Karena harga-harga pasti mereka hitung dalam dolar. “Jadi, situasi yang seperti ini merupakan peluang, bukan masalah,” paparnya.

Baca :  Telan Dana Rp 800 Miliar, Proyek P3SON Hambalang Dilanjutkan

Tahun Depan

JK mengatakan, efek dari menurunnya nilai mata uang Rupiah itu nanti bisa dirasakan bersamaan pada saat efek kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) akan mulai efektif tahun depan.

Artinya, kata JK, pada saat anggaran tahun depan sudah mulai efektif, karena kita sudah dua bulan menaikkan BBM, dan menyelesaikan pembayaran ke pertamina, sehingga subsidinya langsung menurun di bidang konsumtif.

Adapun mengenai kestabilan nilai Rupiah, JK mengakui tergantung juga pada batasan pertumbuhan ekonomi di AS . Namun Wapres memperikan, pertumbuhan ekonomi di AS tidak mungkin seperti di China, 7-8 persen. Paling-paling sekitar 3-4 persen.

“Kalau Amerika tumbuh maka impornya naik, dan impor paling banyak itu dari China dan Indonesia. Kalau manufaktur di China naik karena itu maka imbasnya ekspor kita ke China juga baik. Jadi akan meninmbulkan stabilitas baru. Apakah itu diangka Rp 12.500 atau Rp 13.000 yang penting stabilitas naik,” terang JK

Baca :  Swasembada Gula, Pemerintah Bangun 10 Pabrik Baru di Jawa