Melihat Indonesia Dalam Sosok Ibu Mega

MH Said Abdullah, Ketua Badan Anggaran DPR dan Ketua DPP PDI Perjuangan Bidang Perekonomian

Oleh: Said Abdullah

Kelangsungan hidup sebuah partai politik di Indonesia masih sangat bergantung pada kekuatan dari sosok pendirinya.

Selama masa mencari bentuk, sosok pemimpin yang sangat kharismatik  memang diperlukan supaya sebuah parpol memiliki basis pijakan yang kuat.

Sebab, sehebat apapun visi dan misinya, sebagus apapun program-programnya, dan seberapa besar persentase kemenanganannya dalam pemilihan umum, kalau sosok pemimpinnya tidak kuat dan tidak berkarakter, popularitas parpol itu bisa lekas pudar, bahkan layu sebelum berkembang alias kalah sebelum bertanding pada ajang pemilu.

Figur yang kuat dan berpengaruh itu pada umumnya melekat dengan pribadi pendiri partai.

Namun, jika proses kaderisasi tidak dilakukan dengan baik, maka ketika era sang pendiri berlalu, maka selesai pula keberadaan partai politik tersebut.

Suka atau tidak, proses regenerasi atau pergantian kepemimpinan cenderung menimbulkan riak, bahkan gejolak yang berujung pada perpecahan.

Kita tidak perlu melihat jauh-jauh untuk memahami persoalan ini, tetapi cukup belajar dari kisruh kepengurusan yang menggerogoti beberapa partai politik yang ada saat ini.

Bukan tidak mungkin, persoalan serupa potensial terjadi pada banyak partai lain kalau tidak dideteksi secara dini.

Namun persoalan kaderisasi ini bukan lagi menjadi persoalan di PDI Perjuangan. Hal ini sudah tuntas.

Ibu Ketua Umum telah meletakan  fondasi dasar pembentukan kader partai dalam bentuk  proses kaderisasi secara berjenjang.

Bentuk regenerasi berjenjang  ini dimulai dari kader tingkat pratama, madya, hingga utama.

Semakin tinggi jenjangnya, semakin memungkinkan kader itu menduduki posisi kepemimpinan di partai, legislatif, ataupun eksekutif. Hasil  kaderisasi ini sudah terlihat jelas.

Di barisan struktural partai, sejumlah tokoh muda potensial diberi posisi penting. Demikian juga di legislatif.

Sejumlah kader muda PDI Perjuangan sangat menonjol.

Bahkan partai ini bisa menjadi rujukan sebagai partai yang sukses melakukan kaderisasi di internal.

Baca :  Said Abdullah: 76% Penerima Subsidi LPG 3 Kg Salah Sasaran

Kesuksesan  partai melakukan kaderisasi itu bisa terlihat dengan munculnya kader-kader seperti Presiden Joko Widodo,  Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (PMK) Puan Maharani, Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo, Walikota Surabaya Tri Rismaharini dan lainnya. Di beberapa daerah,  PDI Perjuangan menempatkan kader kepala daerah yang yahud.

Di bawah komanda Ibu Mega, PDI Perjuangan makin menggokohkan posisinya sebagai partai yang dekat dengan rakyat kecil alias wong cilik.

Ketegasan itu dilakukan dengan terus menjunjung tinggi ajaran Bung Karno agar Indonesia berdaulat di bidang politik, berdikari di bidang ekonomi, dan berkepribadian di bidang budaya.

Artinya, pada titik ini, ibu Mega sudah sangat berhasil membentuk kader partai.

Modal Utama

Secara teoretis, ada dua modal utama yang harus dimiliki sebuah partai politik supaya tetap eksis: sosok yang kharismatik dan struktur yang kuat.

Figur yang kharismatik dan kuat saja tidak cukup jika strukturnya lemah.

Bagaimana terjadi regenerasi kepemimpinan, contohnya, jika tidak ada kaderisasi yang baik.

Di sisi lain, kaderisasi boleh bagus tetapi kalau tidak ada sosok pemimpin yang berpengaruh, yang suaranya bisa didengarkan oleh semua lapisan di dalam lingkaran partai, juga tidak ada gunanya karena kekuatan-kekuatan yang ada di dalam partai itu akan mencari jalan sendiri-sendiri.

Pemimpin yang kuat, idealnya, mampu merangkul semua kekuatan dalam partai politik dan dapat mengelola konflik-konflik yang muncul.

Sementara kaderisasi yang baik menjamin kelanggengan masa depan sebuah partai, yang memungkinkan sebuah parpol selalu dipimpin oleh orang-orang yang mengerti visi dan misi partai sehingga kulturnya selalu terpelihara, juga melahirkan pemimpin-pemimpin bangsa masa depan.

PDI Perjuangan merupakan sebuah partai besar yang pertumbuhannya fenomenal di tengah riuhnya panggung politik nasional dewasa ini.

Memposisikan diri sebagai partai politik yang memihak pada perjuangan wong cilik, yang kerap didera oleh lawan-lawan politiknya, PDI Perjuangan juga dihadapkan pada persoalan masa depan partai.

Baca :  Said: Usir Paksa Pentolan ISIS dari NKRI

Kalau dicermati, sejauh ini PDI Perjuangan bukan partai yang bebas konflik, tetapi penuh konflik dan intrik sebagaimana parpol-parpol lainnya di Indonesia.

Namun, yang membedakan adalah kemampuan mengelola persoalan-persoalan itu sehingga tidak berakhir dengan perpecahan, melainkan justru membuat partai ini makin solid.

Sejatinya, gejolak-gejolak politik internal justru membuat sebuah partai politik memiliki dinamika dan mengalami proses pendewasaan diri.

Di sinilah terlihat arti penting sosok Ibu Megawati Soekarnoputri dalam membesarkan PDI Perjuangan.

Di tangah Ibu Mega, partai ini suda mencatat berbagai pencapaian penting dalam pertarungan politik nasional.

Sejarah mencatat perjalanan panjang PDI Perjuangan yang membentuknya menjadi seperti saat ini.

Sebelum PDI Perjuangan, penggabungan lima partai – Partai Nasional Indonesia, Partai Katolik, Partai Kristen Indonesia, Partai Musyawarah Rakyat Banyak dan Partai Ikatan Pendukung Kemerdekaan Indonesia – melahirkan Partai Demokrasi Indonesia (PDI).

Jelang akhir Orde Baru, PDI didera persoalan politik yang memicu pecahnya Peristiwa 27 Juli 1996.

Megawati Soekarnoputri tampil sebagai tokoh pemersatu melawan Orde Baru dalam tragedi ini.

Tampil dengan pencitraan baru, yaitu PDI Perjuangan, Megawati Soekarnoputri berhasil menjaga konsistensi perolehan suara partai ini hingga kini.

Dalam pemilu bebas pertama tahun 1999, PDI Perjuangan keluar sebagai pemenang, dan dalam Sidang Istimewa tahun 2001, Ibu Megawati Soekarnoputri berhasil diusung menjadi Presiden.

Pencapaian itu berlanjut ke dua pemilu berikutnya, meski bukan di urutan teratas.

Dalam pemilu tahun 2014, PDI Perjuangan kembali keluar sebagai juara dan berhasil menghantar Joko Widodo (Jokowi) yang berpasangan dengan Jusuf Kalla menjadi pasangan Presiden – Wakil Presiden.

Kalau ditanya apa kekuatan PDI Perjuangan dalam menggapai kemenangan demi kemenangan tersebut, jawabannya tidak lain karena sosok Ibu Mega.

Baca :  Cawagub Jatim, Said Abdullah Jadi 'Tukang Becak' Dadakan

Ibu Ketua Umum berperan penting dalam membangun sebuah kultur partai yang solid, yang fokus pada visi dan misi awalnya, sehingga membuat partai ini tetap eksis meski sering mengalami rongrongan dan pangaruh buruk dari luar.

Ibu Megawati adalah sosok pemimpin yang apa adanya. Dalam memimpin partai dan juga ketika menjadi Presiden, sama sekali tidak tergoda untuk menggelorakan pencitraan.

Ibu Mega bekerja dan mengelola partai dengan caranya sendiri apapun kata orang-orang di luar sana.

Dalam mengurus partai, Ibu Mega  mengerti masalah dan menyelesaikan persoalan itu.

Dalam memimpin negara, Ibu Mega mengerti kondisi rakyat dan berusaha mensejahterakan rakyat, dan justru pendekatan ini yang membantu membuatnya untuk memenangkan suara dari sebagian besar rakyat Indonesia.

Di bawah kepemimpinan Ibu Megawati Soekarnoputri, kita menemukan pemimpin yang tidak hanya memikirkan kemenangan partainya dalam berpolitik, melainkan terutama memperjuangkan kepentingan seluruh rakyat Indonesia.

Dalam berpolitik Ibu Megawati Soekarnoputri persis seperti puisi Presiden Soekarno berjudul: “Aku Melihat Indonesia”.

Jika aku berdiri di pantai Ngliyep
Aku mendengar lautan Indonesia bergelora
Membanting di pantai Ngeliyep itu
Aku mendengar lagu – sajak Indonesia

Jikalau aku melihat
Sawah menguning menghijau
Aku tidak melihat lagi
Batang padi menguning – menghijau
Aku melihat Indonesia

Jika aku melihat gunung-gungung
Gunung Merapi, gunung Semeru, gunung Merbabu
Gunung Tangkupan Prahu, gunung Klebet
Dan gunung-gunung yang lain
Aku melihat Indonesia

Jikalau aku mendengar pangkur palaran
Bukan lagi pangkur palaran yang kudengarkan
Aku mendengar Indonesia

Jika aku menghirup udara ini
Aku tidak lagi menghirup udara
Aku menghirup Indonesia

Jika aku melihat wajah anak-anak di desa-desa
Dengan mata yang bersinar-sinar
(berteriak) Merdeka! Merdeka!, Pak! Merdeka!

Aku bukan lagi melihat mata manusia
Aku melihat Indonesia! MERDEKA!!

Penulis adalah Politisi PDI Perjuangan