Menperin Akui Pelaku IKM Paling Ulet dan Inovatif

Menperin, Saleh Husin di Padang

PADANG-Pemerintah memberi apreasi yang tinggi atas kreativitas dan kegigihan pelaku industri kecil dan menengah (IKM). Industri ini dengan sigap memberi sentuhan artistik dan juga cepat beradaptasi dengan kondisi pasar. “Di Bali, saya bertemu dengan perajin muda yang mengolah cangkang kerang menjadi kerajinan lampu. Kemarin di Rote, ada mama-mama penenun yang memakai kelapa dan damar merah. Sekarang di Padang, karya inovatif dari IKM-IKM seluruh Indonesia semakin membuktikan keunggulan pelaku usaha,” kata Menteri Perindustrian Saleh Husin usai berbincang dengan pelaku IKM yang mengikuti Pameran Visualisasi Temuan Inovasi Gugus Kendali Mutu di Padang, Rabu (11/11).

Inovasi-inovasi itu juga dimungkinkan oleh pola interaksi langsung IKM dengan pembeli, baik pemakai akhir atau pengusaha yang menjadi mitra mereka. Kemenperin melalui satuan kerja di daerah seperti Balai Riset dan Standardisasi Industri (Baristand) dan lembaga pendidikan pelatihan juga melakukan pendampingan.

Bagi pemerintah daerah, penguatan kemampuan IKM dinilai memicu pemanfaatan potensi sumber daya alam dan budaya lebih lanjut serta. “Khusus untuk konvensi GKM di Padang ini menunjukkan Kementerian Perindustrian sangat fokus pada peningkatan kualitas IKM,” kata Penjabat Gubernur Sumatera Barat, Reydonnyzar Moenek. Pada Agustus lalu, di Sumbar digelar Sawahlunto Internasinal Songket Festival (SISCA) untuk mengangkat nama produk industri kreatif itu.

Kontribusi IKM tercatat sebesar 34,56 persen terhadap pertumbuhan industri pengolahan non-migas secara keseluruhan. Merujuk data BPS tahun 2014, terdapat 3,5 juta unit usaha IKM yang merupakan 90 persen dari total unit usaha industri nasional.

Jumlah unit usaha tersebut telah mampu menyerap tenaga kerja sebesar 8,4 juta orang, yang tentunya berdampak pada meningkatnya ekonomi nasional.

Peningkatan kualitas dan kreativitas produksi IKM juga diyakini mampu memenangi persaingan ketika Masyarakat Ekonomi Asean berlaku akhir tahun ini.

Akses modal juga dibuka lebih luas oleh Pemerintah melalui Paket Kebijakan Ekonomi III yang memperluas pemberian kredit modal kerja untuk Usaha Mikro, Kecil dan Menengah dan menurunkan bunga Kredit Usaha Rakyat (KUR) 22 persen pertahun menjadi 12 persen pertahun dan pada tahun depan menyusut menjadi 9 persen.

Kemenperin membidik target Penumbuhan Populasi Industri selama lima tahun ke depan yang cukup besar yaitu penumbuhan industri kecil sebanyak 20 ribu dan peningkatan skala usaha 4500 industri kecil menjadi industri menengah dalam 5 tahun.

Kunjungan ke Padang itu merupakan rangkaian kegiatan Menperin membuka Konvensi Nasional Gugus Kendali Mutu-Industri Kecil dan Menengah (GKM-IKM) yang digelar Ditjen Industri Kecil dan Menengah Kemenperin.

Menurut Dirjen IKM Euis Saedah, konvensi mempertemukan pembina, fasilitator GKM dan para pengusaha IKM serta anggota GKM-IKM di Indonesia guna memperkokoh komitmen terhadap mutu yang merupakan modal dasar untuk mampu berdaya saing dalam pasar bebas sekarang ini.  “Ujung tombak mutu proses dan hasil produksi adalah rekan-rekan fasilitator GKM yang nantinya membekali IKM lebih profesional,” ujarnya.

Kementerian Perindustrian telah memotivasi IKM dengan program pemberian penghargaan tertinggi dari Pemerintah bagi perusahaan IKM yang melakukan perbaikan mutu berupa Tropi Penghargaan “Kreasi Prima Mutu” yang diserahkan oleh Presiden RI langkah ini dilakukan sejak 2009.