Mgr Y Harun Yuwono Pr: Selesaikan Masalah Dengan Minum Kopi

Ketua Komisi HAK - KWI, Mgr. Y Harun Yuwono (tengah) -diapit oleh Sihar Simbolon dari Kementerian Agama (kiri) dan Pastor Agus Ulahayanan (kanan) dalam pembukaan Diskusi NOSTRA AETATE, Jakarta, Jumat (4/12)

JAKARTA-Ketua Komisi Hubungan Antar Kepercayaan (HAK) Konfrensi Waligereja Indonesia (KWI) Mgr Y. Harun Yuwono Pr memberi tips sederhana untuk menyelesaikan berbagai masalah sosial kemasyarakatan yang terjadi saat ini. Salah satu cara sederhana itu misalnya dengan minum kopi bersama. “Cara sederhana ini  banyak dilakukan di berbagai daerah di Indonesia dan cukup ampuh untuk menyelesaikan begitu banyak persoalan dan sekaligus secara tidak langsung membangun kerukunan,” ujar Uskup Keuskupan Tanjungkarang, Mgr Y. Harun Yuwono Pr kepada peserta diskusi NOSTRA AETATE (Jaman Kita) , di Jakarta, Jumat (4/12).

Nostra Aetate adalah dokumen independen yang dikeluarkan oleh Konsili Vatikan Kedua yang ditandatangani oleh Paus Paulus VI pada 28 Oktober 1965.  Dokumen itu membicarakan keterbukaan Gereja dengan penganut agama nonKristiani. “Kerukunan itu bisa terbentuk jika tidak ada kecurigaan dalam hubungan antar masyarakat. Ada atau tidaknya kecurigaan itu bisa dilihat dari apakah, tetangga mengundang kita makan atau minum kopi di rumahnya ? Kalau kita sudah makan atau minum kopi di rumah tetangga itu berarti sudah tidak ada kecurigaan satu sama lain. Dan, itulah budaya atau adat istiadat di Indonesia,” ujar Mgr Y. Harun Yuwono Pr.

Lebih lanjut, Uskup Harun menguraikan persoalan kemasyarakatan di Indonesia tidak dapat diselesaikan karena adat yang dikenal selama ini ditinggalkan. Banyak tokoh yang hanya yakin bahwa persoalan hanya bisa diselesaikan melalui meja rapat resmi atau perundingan. Padahal, persoalan kemasyarakatan sering diselesaikan dengan cara sederhana, minum kopi bersama di warung dan di warung kopi itulah komunikasi yang berat menjadi ringan. “Konflik terjadi karena komunikasi antar tetangga tidak berjalan dan tidak rukun akhirnya. Konflik horizontal muncul ketika kecurigaan antar tetangga tidak hilang dan menghapus kerukunan yang seharusnya terbangun dengan silaturahmi. Bangsa Indonesia perlu menggalakkan tali silaturahmi antar tetangga dan berdasarkan budaya masing-masing,” ungkapnya.