Benny Sabdo: Mengelola Partai, Perlu Terobosan Secara Struktural

ilustrasi logo Rakernas PDI Perjuangan 2016

JAKARTA-Direktur Eksekutif Respublica Political Institute (RPI), Benny Sabdo mengapresiasi langkah PDI Perjuangan yang mengelola partai politik (parpol) secara professional dan modern dengan melakukan terobosan melalui Sekolah Partai bagi kadernya.

Tetapi sayangnya, terobosan yang dilakukan partai moncong putih ini masih bersifat parsial.

“Harus ada terobosan yang lebih bersifat structural,” ujarnya di Jakarta, Jumat (8/1).

Benny lalu memetakan kepengurusan partai sebaiknya dibagi ke dalam tiga komponen, yaitu kader wakil rakyat, kader pejabat eksekutif, dan pengelola professional.

“Jika struktur organisasi tersebut dapat diaplikasikan oleh seluruh partai, maka akan lahir pemimpin-pemimpin rakyat di masa depan,” tuturnya.

Menurutnya, inisiasi PDI Perjuangan melakukan Sekolah Partai bagi kadernya sebagai langkah maju dalam memperbaiki kualitas kader partai.

Baca :  Megawati Ajak Warga Jatim Pilih Bambang-Said

“Dengan Sekolah Partai, kader yang didik harus orang yang memiliki jiwa melayani publik bukan sebaliknya,” imbuhnya.

Benny menjelaskan, parpol memiliki posisi dan peranan yang sangat penting dalam sistem demokrasi.

Salah satu diantarannya, parpol memainkan peran penghubung yang sangat strategis antara proses pemerintahan dengan warga negara.

Bahkan, pemikir ilmu politik Elmer Eric Schattschneider berpendapat partai politiklah yang sebenarnya menentukan kualitas demokrasi dalam sebuah negara.

“Salah satu fungsi penting parpol, yaitu memberikan pendidikan politik bagi warga Negara. Fungsi parpol yang ideal itu tetap harus dijalankan.

Apalagi, akhir-akhir ini kader parpol tidak jarang memberikan teladan buruk dengan melakukan tindak pidana korupsi,” penulis buku ‘Politik Hukum Pidana Mati’ ini.

Baca :  Said: Penerapan ‘Money Follow Program’ Tak Mudah

Lebih lanjut, Benny juga mengapresiasi PDI Perjuangan dibawah kepemimpinan Megawati Soekarnoputri relatif solid dibandingkan partai-partai lain.

Padahal, memimpin PDI Perjuangan yang berideologi Pancasila yang Soekarnois nasionalistik tidak mudah.

“Apalagi, partai ini adalah hasil fusi paksa lima partai, yakni Partai Nasional Indonesia, Partai Ikatan Pendukung Kemerdekaan Indonesia, Partai Musyawarah Rakyat Banyak, Partai Kristen Indonesia, dan Partai Katolik,” jelasnya.

Posisi PDI Perjuangan sebagai partai besar juga tak tergoyahkan.

Dua kali menjadi partai penguasa di Tanah Air: Megawati menjadi presiden 2001-2004 dan Joko Widodo 2014-2019.

“PDI Perjuangan selalu mampu melakukan kontestasi politik dalam kondisi prima,” ungkap Benny yang juga penulis buku ‘Kiprah Tokoh Katolik Indonesia’ ini.

Baca :  Jangan Ubah Jalan Medan Merdeka