Kejaksaan Wajib Urai Proxy Bakrie-Rini-Hexana

Ilustrasi

Oleh: M Satria Adiwiguna, SH

Jiwasraya kini beku. Nasib 17 ribu nasabahnya tak tentu. Konon akibat tanggungan perusahaan asuransi plat merah tertua dan terbesar itu membengkak signifikan hingga hingga injak angka puluhan triliun.

Sebenarnya bila disimak utuh riwayatnya, BUMN asuransi ini sudah sakit sejak tahun 2000an. Pada tahun 2002 misalnya perusahaan ini merugi sebagai dampak dari krisis moneter yang menimpa bangsa kita pada 1998.

Dalam tulisannya pada 19 Juni 2020 di Beritamoneter.com*), Prof. Dr. Y. Sri Susilo,S.E., M.Si., dosen Bisnis dan Ekonomi UAJY, menulis bahwa pada tahun 2006, Kementerian BUMN dan Bapepam-LK juga menyatakan ekuitas Jiwasraya tercatat negatif Rp3,29 triliun.

Pada tahun 2008, Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) memberikan opini disclaimer untuk laporan keuangan 2006-2007 lantaran penyajian informasi cadangan tidak dapat diyakini kebenarannya.

Baca :  Harry Prasetio: Periode 2008-2018, Jiwaraya Sangat Sehat, Total Aset Rp 45 Triliun

Sementara dikutip dari majalah Tempo edisi 7 Maret 2020**), pada 2008 itu Jiwasraya insolven 6,3 T lalu membengkak jadi 6,7 T pada 2009.

Masih menurut sumber yang sama, insolven 2008-2009 itu lebih dipicu oleh repo terhadap sejumlah saham milik perusahaan yang terkoneksikan dengan Bakrie. Saham-saham Bakrie itu tak terlihat dalam emiten yang direpo karena merupakan underlying assets.

Pada 2008, terjadi pergantian direksi. Hendrisman, dkk., mengisi pos baru di asuransi tertua ini.

Penyelamatan Jiwasraya dimulai. Salah satu opsinya dengan skema Penyertaan Modal Negara (PMN) dan obligasi Zerro Coupon Bond.

Namun upaya itu tak kunjung berhasil karena ketika itu negara sedang fokus menangani Century.

Sebagai gantinya, mereka ini diminta oleh Menteri BUMN waktu itu dijabat oleh Sofyan Djalil supaya melakukan penyehatan sendiri, self healing. Jadi, bantuan dari negara tak diperoleh, namun mereka tetap dipaksa untuk selamatkan Jiwasraya, entah bagaimanapun caranya.

Baca :  Ekonom: OJK Sengaja Biarkan Asuransi Jiwasraya Ambyarrr

Jadi, bisa dimengerti mengapa kemudian Hendrisman yang merupakan ahli asuransi menyusun sebuah skema penyelamatan jangka panjang. Dalam skema ini terkandunglah apa yang kemudian publik kenal sebagai Jiwasraya Saving Plan (JSP).

Skema ini tak lain bermaksud supaya masuknya fresh money ke perusahaan.

Sampai di situ, harap dicatat dulu bahwa semua asuransi di dunia ini pendapatannya bersumber dari 2 hal yakni hasil menjual premi dan hasil investasi. Dengan demikian, agar diperoleh fresh money, caranya adalah mengencangkan penjualan premi dan genjot investasi.

Jiwasraya pun demikian. Biar ada fresh money masuk ke perusahaan, dua hal itu pasti yang diupayakan optimal. Namun, saat itu, aspek investasi jelas tidak mungkin karena perusahaan sedang insolvent 6,7 T.

Baca :  Kasus Jiwasraya, Kapan Kejagung Panggil Bakrie?

Maka, satu-satunya cara adalah genjot penjualan premi. Inilah alasan mengapa produk Jiwasraya Saving Plan (JSP) dijual dengan menawarkan keuntungan yang sedemikian tinggi (sekitar 13-14%) pada tahun 2009. Bila dibaca dalam kondisi normal, keuntungan yang ditawarkan tersebut tentu sangatlah jauh di atas keuntungan yang ditawarkan oleh bunga deposito dan bank.

Namun, bila dipandang dari sisi kebutuhan, angka itu sangatlah layak guna menarik sebanyak mungkin nasabah untuk membeli produk JSP.

Trik ini rupanya berhasil. Buktinya tawaran bunga yang sedemikian tinggi tersebut disambut baik oleh masyarakat. Nasabah beramai-ramai membeli JSP, fresh money yang diharapkan pun berhasil didapat.