Kembangkan Baterai Mobil Listrik Lokal, Kemenperin Usung Konsep Circular Economy

Doddy menambahkan, keseriusan pemerintah dalam pengembangan kendaraan bermotor listrik berbasis baterai, ditunjukkan dengan telah ditandatanganinya Peraturan Presiden (Perpres) No. 55 tahun 2019 tentang Percepatan Pengembangan Kendaraan Bermotor Listrik (Mobil Listrik.

Perpres tersebut menjadi landasan bagi pelaku industri otomotif di Indonesia untuk segera menyusun rancang bangun dalam pengembangan mobil listrik.

“Pemerintah menargetkan pada tahun 2025 sekitar 25 persen atau 400 ribu unit kendaraan Low Carbon Emission Vehicle (LCEV) ada di pasar Indonesia,” imbuhnya.

Kepala BPPI menegaskan, untuk mendorong pengembangan baterai kendaraan listrik dalam negeri, diperlukan upaya untuk memanfaatkan sumber daya alam yang ada sekaligus upaya untuk substitusi impor komponen baterai, yang ditunjang oleh hilirisasi industri baterai lithium.

Baca :  Sumbang Ekspor USD 7 Miliar, Kemenperin Genjot Peran Industri Smelter Nikel

Tantangan bagi akademisi, pelaku industri, pemerintah, peneliti, perekayasa serta asosiasi dalam negeri untuk mewujudkan hal tersebut.

Selain dihadiri oleh Kepala BBPPI selaku keynote speaker, webinar ini dihadiri oleh beberapa plenary speaker, salah satunya Deddy Mulyadi, Senior advisor PT. IMIP, yang menambahkan bahwa saat ini Kawasan Industri Morowali telah mendirikan klaster industri komponen baterai lithium, yang terdiri dari 4 perusahaan produsen precursor material aktif katoda, nickel, mangan dan cobalt sulphate, dan 1 industri recycle battery.

“Karena itu, dengan adanya kegiatan-kegiatan seminar terkait teknologi bahan dan barang teknik, diharapkan dapat mendorong upaya aktif dari dunia industri, akademisi dan pelaku energi baru dan terbarukan untuk mendukung Indonesia dalam menyongsong era kendaraan listrik,” pungkasnya.

Baca :  Regulasi Pertambangan Harus Diperbaiki Guna Cegah Kartel Perdagangan Nikel