Masa Depan Indonesia Semakin Suram

Managing Director Political Economy and Policy Studies (PEPS), Dr Anthony Budiawan

Oleh: Anthony Budiawan

Tragedi bom atom Hirohshima dan Nagasaki mengantar Indonesia menjadi negara merdeka. Rakyat menyambut penuh harapan.

Terbayang kehidupan yang lebih sejahtera di alam kemerdekaan.

Terbebas dari kemiskinan dan kesengsaraan yang diderita selama 350 tahun masa penjajahan.

Harapan tinggal harapan. Ternyata pemimpin Indonesia yang merdeka tidak mampu mewujudkan harapan rakyat.

Para elit bangsa saling berebut kekuasaan. Bahkan sering kali berkolaborasi.

Bukan untuk meningkatkan kesejahteraan, tetapi lebih untuk melanggengkan dinasti kekuasaan dan bisnis.

Membuat rakyat kurus kering, hanya terdiri dari kulit dan tulang saja.

Kesenjangan sosial melebar. Banyak rakyat miskin semakin miskin, banyak pula yang kaya semakin kaya.

Pembangunan ekonomi Indonesia juga tertatih-tatih.

Perlahan tetapi pasti, Indonesia tersusul dan tertinggal oleh sesama negara berkembang dan negara miskin lainnya.

Yang kini menjadi negara maju dan sejahtera, berdasarkan tolok ukur Pendapatan per kapita.

Selama periode 1969-2019 pendapatan per kapita Indonesia hanya tumbuh menjadi 55 kali lipat saja.

Sedangkan China tumbuh menjadi 102 kali lipat. Singapore dan Hongkong masing-masing tumbuh menjadi 80 dan 59 kali lipat.

Bahkan Korea Selatan meningkat menjadi 130 kali lipat.

Baca :  SiLPA 2020 dan Kejahatan Kemanusiaan

Negara yang termasuk miskin ketika tahun 1960-an tersebut kini sudah menjadi negara sejahtera.

Negara berpendapatan tinggi. Alias negara maju. Tahun 2019, Korea Selatan mempunyai pendapatan per kapita 31.762 dolar AS. Hongkong 48.756 dolar AS, Singapore 65.233 dolar AS.

Malaysia juga masuk negara berpendapatan tinggi, dengan pendapatan per kapita 11.415 dolar AS.

Pendapatan per kapita China hanya 377 dolar AS pada 1993, atau 45,6 persen dari pendapatan per kapita Indonesia yang sebesar 828 dolar AS.

Namun, Indonesia kini tertinggal jauh dari China. Pendapatan per kapita China mencapai 10.262 dolar AS pada 2019.

Sedangkan Indonesia hanya 4.136 dolar AS. Sayonara Indonesia.

Vietnam yang mulai reformasi ekonomi pada 1986 mempunyai pendapatan per kapita 95 dolar AS pada 1990.

Sekitar 16 persen dari pendapatan per kapita Indonesia yang sebesar 585 dolar AS.

Namun, Vietnam kini menyusul dengan cepat. Pendapatan per kapita mencapai 2.715 dolar AS (2019), atau 66 persen dari Indonesia.

Dalam waktu tidak lama lagi diperkirakan Vietnam akan lebih maju dan sejahtera dari Indonesia.

Yang lebih mengkhawatirkan, pertumbuhan ekonomi Indonesia semakin lama semakin melemah.

Baca :  Dosis Doping Rupiah Semakin Tidak Terkendali

Untuk periode Lima-tahun pertama sejak reformasi, 1999-2004, pendapatan per kapita Indonesia tumbuh 71,4 persen.

Sedangkan, periode lima-tahun kedua (2004-2009) dan ketiga (2009-2014) masing-masing tumbuh 96,6 persen dan 54,4 persen.

Tetapi, pada periode lima-tahun keempat, 2014-2019, pendapatan per kapita Indonesia hanya mampu tumbuh 18,4 persen saja, ini pun pertumbuhan semu. Nanti diuraikan lebih lanjut mengapa semu.

Semakin melemahnya ekonomi Indonesia tercermin dari defisit neraca transaksi berjalan yang membengkak.

Selama periode 2014-2019, defisit neraca transaksi berjalan mencapai 111,7 miliar dolar AS.

Artinya, dolar AS mengalir deras keluar dari Indonesia.

Hal ini seharusnya membuat kurs rupiah melemah.

Tetapi, berkat intervensi atau “rekayasa”, kurs rupiah bahkan menguat sepanjang 2019.

Penguatan kurs rupiah ini bersifat semu. Dibiayai oleh utang, untuk membuat kurs rupiah terkesan menguat.

Jumlah utang (yang sebenarnya tidak diperlukan) ini mencapai Rp 159,2 triliun selama periode 2015-2019.

Secara teknis dinamakan Sisa Lebih Pembiayaan Anggaran, atau SiLPA.

Penguatan kurs rupiah secara semu ini membahayakan ekonomi nasional.

Nilai rupiah menjadi terlalu tinggi dari nilai sebenarnya (fundamental), atau overvalued.

Baca :  Utang “Recehan” Bilateral dan Potensi Pelanggaran UU

Dampaknya, membuat nilai utang luar negeri dalam rupiah menjadi terlalu rendah (undervalued) dari nilai fundamentalnya.

Di lain sisi, penguatan kurs rupiah secara semu membuat pendapatan per kapita dalam dolar AS menjadi terlalu tinggi, atau overvalued.

Sehingga, tanpa “rekayasa” kurs rupiah pertumbuhan pendapatan per kapita periode 2015-2019 sebenarnya sangat rendah, bahkan mungkin negatif.

Rekayasa kurs rupiah bagaikan bom waktu yang siap meledak setiap saat. Kebijakan moneter Bank Indonesia tersandera.

Suku bunga cenderung bertahan tinggi agar surat utang negara terlihat seksi. Mengakibatkan ekonomi biaya tinggi, dan tidak kompetitif.

Defisit neraca transaksi berjalan akan semakin menggelembung, membuat ekonomi semakin tertekan.

Pada saatnya, kurs rupiah akan tergelincir dan mengalami koreksi tajam. Ketika itu ekonomi Indonesia akan mengalami kejutan, terperosok ke jurang resesi.

Inflasi meningkat tajam. Suku bunga pinjaman naik.

Apabila fundamental ekonomi Indonesia tidak segera diperbaiki, apabila ekonomi Indonesia terus dikelola secara artifisial dan penuh rekayasa keuangan, masa depan bangsa Indonesia dipastikan akan semakin suram. Menuju bangsa yang gagal.

Penulis adalah Managing Director Political Economy and Policy Studies (PEPS) di Jakarta