Ini Faktor Pendukung Kinclongnya Kinerja Pasar Obligasi Sepanjang 2020

Kebijakan dagang dengan konfrontasi menjadi ciri khas era kepemimpinan Presiden Trump, yang tidak direspon positif oleh pasar karena mencipatkan ketidakpastian dan meningkatnya volatilitas.

Sementara itu Joe Biden diperkirakan akan mengambil pendekatan yang berbeda dengan Trump, dengan lebih melakukan pendekatan diplomatis dan kerja sama multilateral.

Pendekatan ini diperkirakan akan mengurangi faktor ketidakpastian dan volatilitas di pasar, sehingga menciptakan iklim investasi yang lebih kondusif, terutama bagi kawasan Asia.

Selain itu pasar juga mengapresiasi penunjukkan mantan Fed Chair Janet Yellen sebagai Menteri Keuangan. Yellen dianggap dapat berkoordinasi baik dengan The Fed sehingga arah kebijakan fiskal dan moneter dapat lebih selaras dan efektif. Kondisi ini berbeda dengan era Trump di mana Menteri Keuangan Steven Mnuchin dalam beberapa kesempatan memiliki pandangan yang berbeda dengan The Fed.

Baca :  Skema Burden Sharing Beri Sentimen Postif Bagi Pasar Obligasi

Presiden Trump juga beberapa kali mengeluarkan pernyataan yang berlawanan dengan The Fed yang menimbulkan ketidakpastian bagi pasar. Secara keseluruhan cara kepemimpinan Trump yang tidak konvensional sering menyebabkan ketidakpastian dan volatilitas di pasar.

Sementara itu Joe Biden dianggap sebagai politisi yang lebih konvensional sehingga arah dan komunikasi kebijakan diperkirakan dapat lebih konsisten sehingga mengurangi ketidakpastian di pasar.

Tidak hanya terpilihnya Joe Biden saja yang merubah sentimen pasar, namun hasil pemilu kongres AS juga diperkirakan suportif bagi sentimen pasar.

Saat ini diperkirakan akan terjadi kondisi split congress – di mana partai Demokrat meraih mayoritas dalam House, sementara partai Republik mayoritas dalam Senate – yang akan menjadi skenario baik bagi pasar.

Baca :  Para Spekulan Sudah Mulai Melepas Dolar AS

Dengan kondisi split congress ini maka kebijakan fiskal Amerika diperkirakan tetap moderat dan tidak terlalu progresif.

Dalam skenario ini maka defisit fiskal Amerika Serikat dapat lebih terjaga dan tingkat imbal hasil US Treasury dapat tetap pada level yang relatif rendah sehingga meningkatkan appetite untuk obligasi di negara berkembang.

Lembaga pemeringkat S&P mempertahankan rating BBB untuk Indonesia namun merevisi outlook menjadi negatif di pertengahan tahun ini.

Bagaimana pandangan Anda terhadap risiko rating Indonesia diturunkan?

Outlook direvisi menjadi negatif bukan karena kondisi fundamental, namun karena risiko kondisi eksternal dan fiskal karena pandemi Covid-19. Untuk memberi dukungan pada ekonomi pemerintah melebarkan target defisit fiskal menjadi 6,3% dari sebelumnya yang dibatasi di level 3%.

Baca :  COVID-19 Picu Ekonomi Stagnan