PII Indonesia Mencatat Kewajiban Neto USD265,3 Miliar

ilustrasi

JAKARTA-Posisi Investasi Internasional (PII) Indonesia pada triwulan III 2020 mencatat kewajiban neto yang menurun.

Pada akhir triwulan III 2020, PII Indonesia mencatat kewajiban neto 265,3 miliar dolar AS (24,8% dari PDB), menurun dibandingkan dengan kewajiban neto pada akhir triwulan II 2020 yang tercatat sebesar 281,7 miliar dolar AS (25,7% dari PDB).

Direktur Eksekutif Kepala Departemen Komunikasi BI, Erwin Haryono menjelaskan penurunan kewajiban neto tersebut disebabkan oleh penurunan posisi Kewajiban Finansial Luar Negeri (KFLN) yang diiringi oleh peningkatan posisi Aset Finansial Luar Negeri (AFLN).

“Penurunan posisi KFLN Indonesia terutama disebabkan oleh penurunan investasi portofolio,” jelasnya.

Menurutnya, perkembangan tersebut seiring dengan ketidakpastian pasar keuangan yang tinggi, di tengah peningkatan transaksi investasi langsung.

Baca :  Posisi Net Kewajiban Investasi Internasional Indonesia Meningkat

“Posisi KFLN Indonesia pada akhir triwulan III 2020 menurun 1,4% (qtq) dari 660,8 miliar dolar AS menjadi 651,4 miliar dolar AS,” tuturnya.

Dia menambahkan penurunan posisi KFLN tersebut disebabkan oleh penyesuaian investasi portofolio, serta revaluasi atas nilai instrumen keuangan domestik berdenominasi Rupiah seiring dengan penurunan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dan penguatan dolar AS terhadap Rupiah pada akhir triwulan III 2020 dibandingkan dengan akhir triwulan sebelumnya.

Penurunan lebih lanjut tertahan oleh peningkatan transaksi KFLN berupa arus masuk investasi langsung dalam bentuk ekuitas dan penarikan pinjaman luar negeri.

Posisi AFLN meningkat terutama didorong oleh peningkatan transaksi investasi langsung dan cadangan devisa.

Baca :  PII Indonesia Turun Jadi USD264,1 Miliar di Triwulan II-2021

Posisi AFLN pada akhir triwulan III 2020 tumbuh 1,9% (qtq), dari 379,1 miliar dolar AS menjadi 386,1 miliar dolar AS.

Selain karena faktor transaksi, posisi AFLN yang meningkat juga dipengaruhi oleh faktor revaluasi positif akibat pelemahan dolar AS terhadap mayoritas mata uang utama dunia.

Bank Indonesia memandang perkembangan PII Indonesia pada triwulan III 2020 tetap terjaga dan mendukung ketahanan eksternal. Hal ini tercermin dari struktur kewajiban PII Indonesia yang didominasi oleh instrumen berjangka panjang.

Meski demikian, Bank Indonesia akan tetap mewaspadai risiko kewajiban neto PII terhadap perekonomian.

“Ke depan, Bank Indonesia meyakini kinerja PII Indonesia akan tetap terjaga sejalan dengan upaya pemulihan ekonomi Indonesia dari dampak pandemi Covid-19 yang didukung sinergi bauran kebijakan Bank Indonesia dan Pemerintah, serta otoritas terkait lainnya,” pungkasnya.

Baca :  PII Indonesia Mencatat Kewajiban Neto Sebesar USD 338,2 Miliar