2021, Tahun Pemulihan Ekonomi

Manulife
Katarina Setiawan - Chief Economist & Investment Strategist PT Manulife Aset Manajemen Indonesia

JAKARTA-PT Manulife Aset Manajemen Indonesia (“MAMI”) menyampaikan ulasan dan proyeksi kondisi pasar global dan domestik.

Acara ini menghadirkan tiga pembicara dari MAMI, yaitu Ezra Nazula, Director & Chief Investment Officer, Fixed Income, Katarina Setiawan, Chief Economist & Investment Strategist, dan Samuel Kesuma, Senior Portfolio Manager, Equity.

MAMI menyampaikan bahwa tahun 2021 merupakan tahun pemulihan ekonomi dan perdagangan. Pemulihan ekonomi ini akan membuka peluang bagi penguatan di pasar saham, sementara stabilitas serta imbal hasil pasar obligasi juga masih akan terus menarik.

Namun ada satu hal krusial yang akan menjadi kunci, yaitu penanganan pandemi dan vaksinasi.

Katarina mengatakan, perbaikan ekonomi global telah terjadi secara gradual sejak kuartal keempat tahun 2020, terutama ditopang oleh pertumbuhan di negara-negara berkembang di kawasan Asia.

Tahun 2021 akan menjadi tahun pemulihan ekonomi dan perdagangan global.

Baca :  Batalkan Omnibus Law Secara Keseluruhan

Pemulihan diperkirakan akan semakin terakselerasi di semester kedua 2021 seiring peningkatan akses terhadap vaksin dan aktivitas vaksinasi.

Namun, risiko utama atas proyeksi ini adalah apabila vaksinasi terkendala dan mitigasi pandemi COVID-19 tidak berjalan efektif secara global.

Vaksinasi menjadi poin krusial untuk mendorong normalisasi aktivitas ekonomi masyarakat.

Produksi dan distribusi akan menjadi perhatian pasar. Saat ini diperkirakan kapasitas produksi vaksin global mencapai 2-4 miliar dosis per tahun.

Hingga 11 Januari 2021, 28.5 juta dosis vaksinasi telah dilakukan di seluruh dunia, dengan jumlah terbanyak di Amerika Serikat dan China yang masing-masing telah telah mencapai 9 juta dosis.

“Pemulihan ekonomi harus ditopang oleh ketersediaan vaksin dan pelonggaran pembatasan sosial global yang mendukung normalisasi aktivitas ekonomi. Sementara pemulihan perdagangan global akan didukung oleh meningkatnya permintaan seiring normalisasi aktivitas ekonomi, ketersediaan vaksin, dan membaiknya iklim perdagangan di era kepresidenan Joe Biden. Potensi membaiknya perdagangan global di tahun ini dapat menguntungkan kawasan Asia yang merupakan ‘pabrik dunia’,” ujar Katarina.

Baca :  Jokowi Ajak Perusahaan Besar Korsel Bangun Ibu Kota Negara Baru di Kaltim

Lebih lanjut Katarina mengatakan bahwa tahun 2021 adalah era suku bunga rendah dengan stimulus ekonomi yang masih akan terus berlanjut dan USD yang akan tetap suportif.

Kebijakan akomodatif ini akan menguntungkan negara berkembang di tahun 2021.

“The Fed masih mempertahankan outlook suku bunga rendah setidaknya hingga 2023. Program pembelian aset (quantitative easing) oleh bank sentral global juga akan terus berlanjut di 2021. Tingkat suku bunga rendah dan program pembelian aset akan menekan nilai tukar USD dan menopang selera investasi ke kawasan negara berkembang,” jelas Katarina.

Perbaikan aktivitas ekonomi serta kebijakan moneter dan fiskal yang akomodatif membuat inflasi di tahun ini diperkirakan meningkat, namun tetap terjaga di level moderat.

Baca :  Tunduk Pada WTO, Omnibus Law Ancam Kedaulatan Pangan

Diperkirakan akan terjadi lonjakan inflasi di kuartal kedua yang dipengaruhi oleh low base effect di kuartal tersebut.

Namun lonjakan sementara ini tidak akan mempengaruhi outlook kebijakan suku bunga bank sentral.

Era suku bunga rendah membuat banyak obligasi di dunia mengalami penurunan imbal hasil hingga ke zona negatif.

Sekitar USD17 triliun (27% dari total obligasi investment grade) masuk dalam zona imbal hasil negatif, level tertinggi dalam sejarah.

Era suku bunga rendah juga mendorong investor global untuk berinvestasi di instrumen yang menawarkan tingkat imbal hasil lebih atau dapat memberikan regular income seperti saham, obligasi negara berkembang, dan REITs.

Pasar domestik

Sejalan dengan kebijakan akomodatif di pasar global, kebijakan moneter dan fiskal di pasar domestik pada tahun 2021 juga akan tetap akomodatif.