Cuma Ditransaksikan Satu Lot, Harga DCII Mentok ke Titik Autorejection Atas

ILustrasi

JAKARTA-Saat memulai transaksi perdana pada pembukaan perdagangan Bursa Efek Indonesia (BEI) hari ini, harga saham PT DCI Indonesia Tbk (DCII) langsung menyentuh titik autorejection atas atau menguat 25 persen ke level Rp525 per saham.

Harga saham DCII bernilai nominal Rp125 per lembar yang ditawarkan Rp420 tersebut langsung melonjak ke posisi Rp525, dengan frekuensi transaksi hanya sekali dan volume transaksi cuma satu lot, sehingga nilai transakai DCII tercatat senilai Rp52.500.

Pada pelaksanaan penawaran umum perdana saham (IPO), perusahaan yang bergerak di bidang pusat data (data center) ini menunjuk PT Buana Capital Sekuritas sebagai penjamin pelaksana emisi efek.

Dengan pencatatan perdana saham ini, maka DCII menjadi emiten kedua yang mencatatkan saham di BEI pada 2021.

Baca :  Pasca IPO di Awal 2020, Laba Bersih AMOR Turun Jadi Rp79,57 Miliar

Menurut CEO DCII, Toto Sugiri, pasar data center diperkirakan memiliki total kapasitas 72,5 megawatt sampai akhir 2020 dan berdasarkan proyeksi Structure Research akan terus bertumbuh, dengan CAGR sebesar 22,3 persen selama lima tahun ke depan.

“Bahkan, hingga hari ini kami merasakan permintaan pasar yang kuat dari pelanggan lokal maupun pelaku bisnis global yang ingin memasuki pasar Indonesia,” katanya di Jakarta, Rabu (6/1).

Sebagaimana diketahui, DCI Indonesia melepas saham ke publik sebanyak 357.561.900 lembar atau setara dengan 15 persen dari modal ditempatkan dan disetor penuh perseroan.

Dengan harga penawaran senilai Rp420 per saham, maka melalui IPO ini DCII mampu meraup dana masyarakat sebesar Rp150,17 miliar.

Rencananya, sebesar 80 persen dana hasil IPO akan digunakan untuk belanja modal, berupa low voltage panel sebanyak 51 unit senilai Rp67,28 miliar dan genset sebanyak enam unit senilai Rp58,35 miliar.

Baca :  Siap Melantai di BEI, PT Morenzo Abadi Perkasa Tbk Lepas 807 Juta Saham

Sedangkan, sisanya untuk modal kerja yang mencakup biaya operasional, seperti pembayaran biaya listrik, biaya persediaan dan biaya gaji.

Toto menambahkan, pada Kuartal I-2020, perseroan akan mengoperasikan empat gedung data center, dengan total kapasitas mencapai 37 megawatt untuk memenuhi permintaan pasar di Indonesia.

“Hal ini memberi kami landasan yang kuat untuk mengembangkan bisnis dalam mendukung kesiapan data center Indonesia menghadapi persaingan ekonomi digital Asia Tenggara,” ucap Toto.