IHSG Melaju Positif di Awal Tahun, Ini Saham Prospektif Hingga Akhir Januari

ilustrasi

JAKARTA-PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia meyakini bahwa selama Januari 2021 pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tetap berada pada tren positif, lantaran didukung oleh sentimen positif terkait pelaksanaan vaksinasi Covid-19 dan kenaikan harga komoditas.

Menurut Head of Research Division Mirae Asset, Hariyanto Wijaya, hingga 6 Januari 2021, IHSG tercatat mengalami kenaikan 1,4 persen dan hingga akhir Januari akan tetap berada pada tren positif. Pada penutupan perdagangan kemarin, IHSG berakhir di zona hijau dengan penguatan sebesar 0,2 persen ke level 6.395.

“Kami memperkirakan kinerja IHSG akan kembali positif di Januari 2021 yang didukung oleh optimisme terkait vaksinasi Covid-19,” kata Hariyanto dalam diskusi virtual bertajuk “IHSG Positif di Januari, Ini Saham-saham yang Prospektif” di Jakarta, Rabu (13/1).

Baca :  Strategi Kemenperin Jaga Pertumbuhan Positif Industri Mamin

Selama kurun delapan tahun terakhir, kecuali pada 2017 dan 2020, IHSG mengalami kenaikan rata-rata do Januari sebesar 1,5 persen.

Namun pada Januari 2020, IHSG terkoreksi 5,7 persen yang disebabkan oleh sentimen buruk terkait serangan AS terhadap jenderal tertinggi di Iran, Qasem Soleimani pada 3 Januari dan penyebaran virus korona.

Hariyanto mengungkapkan, ada tiga faktor utama yang akan mendorong penguatan pasar modal domestik di awal tahun ini, meski terdapat tekanan akibat kebijakan penerapan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) secara jangka pendek.

Dia menyebutkan, sentimen positif pertama yang direspons para investor adalah peningkatan optimisme publik terhadap tren pemulihan ekonomi di tengah kabar baik soal jadwal vaksinasi Covid-19.

“Kedua, Indonesia sebagai penghasil dan pengekspor komoditas juga mendapatkan keuntungan dari kenaikan harga komoditas global,” ujar Hariyanto.

Baca :  BMRI Kembali Rilis Euro Medium Term Notes Sebesar USD300 Juta

Lebih lanjut dia menyatakan, harga minyak sawit mentah (CPO) mencapai MYR3.900 per ton yang merupakan level tertinggi sejak 2008.

Kenaikan harga ini dipengaruhi oleh rendahnya stok CPO, gangguan produksi akibat dampak La Nina, kenaikan permintaan China dan India, serta harga minyak kedelai yang menguntungkan sebagai penggantinya.

Selain itu, lanjut Hariyanto, dolar AS juga diprediksi melemah, seiring dengan tekanan defisit fiskal dan defisit transaksi berjalan pemerintah AS.

“Adapun sentimen positif ketiga adalah, bangkitnya manufaktur China. Aktivitas manufaktur China terus berkembang dalam delapan bulan beruntun,” tutur Hariyanto.

Dengan demikian, menurut Hariyanto, Mirae Asset mempertahankan pilihan utama pada saham-saham komoditas, seperti nikel, CPO, batubara dan emas, serta saham perbankan maupun perusahaan unggas.

Baca :  Pemerintah Jaga Rantai Pasok Batubara ke PLTU

Maka, rekomendasi ini membuka opsi untuk mengakumulasi saham ANTM, INCO, LSIP, UNTR, BBRI, BMRI, BBNI dan JPFA.

“Kami memilih ANTM dan INCO, karena emiten ini penerima manfaat dari kenaikan harga nikel, seiring dengan naiknya permintaan dari produksi baja dan baterai EV (electric vehicle),” ucapnya.