IPIM: Tiga Sentimen Positif Bisa Katrol IHSG ke Level 6.600 pada Akhir 2021

ILustrasi

JAKARTA-PT Indo Premier Investment Management (IPIM) memproyeksikan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) hingga akhir tahun ini akan berada pada level 6.600, bahkan dalam skenario market bullish laju indeks bisa menyentuh level 7.000 di 2021.

“Sebelumnya pada bulan ini, IHSG sudah sempat menembus 6.400, meskipun dalam dua pekan terakhir mengalami koreksi. Tetapi, kami tetap mempertahankan target di 2021 berada di level 6.600,” kata Investment Strategist IPIM, Stephan Hasjim dalam Webinar ESG ETF bertajuk “Market Outlook: Navigating Growth Through Green Investment Strategy During Market Recovery” di Jakarta, Kamis (28/1).

Menurut Stephan, IPIM menetapkan target IHSG di 2021 akan berada pada level 6.600 dan pergerakannya memungkinkan untuk mencapai level 7.000, dengan catatan bahwa market tetap berada dalam tren bullish.

Baca :  Mirae Asset: Hingga Akhir April, Nilai Transaksi Harian Bakal Bertambah Lesu

Dia mengungkapkan, ada tiga sentimen positif yang akan mampu mendorong laju IHSG untuk berada pada rentang 6.600-7.000.

“Menurut kami, sentimen positif yang pertama adalah mengenai langkah pemerintah dalam mendistribusikan vaksin (Covid-19). Selanjutnya adalah implementasi dari kebijakan pemerintah terkait Omnibus Law,” ucap Stephan.

Sementara itu, lanjut dia, faktor lain yang akan mempengaruhi penguatan IHSG menuju target yang ditetapkan IPIM adalah, berlanjutnya tren kenaikan harga komoditas global yang sudah terjadi sejak November 2020.

Dia menyebutkan, pemulihan harga CPO dan batubara akan mendorong pertumbuhan ekonomi Indonesia, terutama kinerja emiten yang terkait dengan komoditas tersebut.

“Bahkan secara umum, kenaikan harga komoditas global akan berkorelasi positif terhadap pertumbuhan ekonomi Indonesia,” kata Stephan sembari menyebutkan bahwa IPIM memproyeksikan pertumbuhan ekonomi di 2021 sebesar 4,5 persen yang terpengaruh pula oleh kenaikan inflasi dari sebelumnya mengalami deflasi.

Baca :  Data Transaksi BEI Tiga Bulan Terakhir Cerminkan Pemulihan Ekonomi RI

Namun, jelas Stephan,  tantangan yang akan membayangi pergerakan IHSG pada tahun ini ada pada kemungkinan pelemahan laba bersih emiten sektor perbankan dan kemampuan pemerintah dalam mendistribusikan vaksin Covid-19 di sepanjang tahun ini.

“Kami mengekspektasikan laba perbankan akan mengalami kenaikan,” ucapnya.

Secara umum, dia memperkirakan, pada tahun ini laba emiten di Bursa Efek Indonesia (BEI) akan mengalami pertumbuhan mencapai 35 persen.

“Tahun lalu laba terkontraksi signifikan. Hampir semua sektor tidak bisa mengalahkan (pertumbuhan) IHSG. Kecuali bank, otomotif dan properti yang bisa outperform (ada potensi kenaikan lanjutan),” papar Stephan.

Dia menambahkan, laba emiten telko berada dalam kecenderungan defensif, emiten produk hasil tembakau tidak ada perbaikan, healthcare dan media lebih defensif, otomotif ada perbaikan, infrastruktur ada perbaikan signifikan, properti maupun konstruksi akan ada perbaikan.

Baca :  HEAL Siapkan Dana Maksimal Rp50 Miliar untuk Buyback 10 Juta Saham

“Laba emiten tembakau tidak akan ada perbaikan, karena adanya kebijakan pemerintah terkait kenaikan cukai pada tahun ini. Laba sektor konstruksi ada perbaikan di tahun ini dari sebelumnya di 2020 mengalami kerugian akibat besarnya rugi WSKT (PT Waskita Karya Tbk),” jelasnya.

Terkait perolehan pendapatan emiten di 2021, IPIM menilai bahwa kinerja emiten pada tahun ini akan sejalan dengan proyeksi pertumbunan ekonomi sebesar 4,5 persen.

“Tingkat penjualan emiten sangat kuat hubungannya dengan GDP. Karena GDP di 2021 dan 2022 akan membaik, tentu diharapkan revenue emiten juga membaik,” ucapnya.