Fitch: Besaran Capex Emiten Telko Tetap Tinggi di Tengah Rivalitas Ketat

PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk (ICBP) bersama dengan induk usahanya, PT Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF) merupakan produsen makanan dalam kemasan yang terbesar di Indonesia
Ilustrasi

JAKARTA- Fitch Ratings Singapore Pte Ltd memperkirakan, arus kas bebas untuk sektor telekomunikasi Indonesia akan tetap negatif selama dua tahun ke depan.

Namun jumlah belanja modal (capex) tiga emiten telko terbesar di 2021 akan tetap tinggi.

Menurut Direktur Fitch Ratings Singapore, Janice Chong dalam keterangan pers yang dikirim melalui surat elektronik, Selasa (23/2), hingga dua tahun mendatang nilai free cash flow pada industri telko di Indonesia masih negatif, karena tingginya investasi jaringan dalam upaya memenuhi permintaan layanan data.

Dia menyebutkan bahwa saat ini Fitch berharap agar PT XL Axiata Tbk (EXCL), PT Indosat Tbk (ISAT) dan PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (TLKM) memiliki ruang leverage yang cukup untuk menyerap beban Capex.

Baca :  EXCL Lunasi Obligasi dan Sukuk 2018 Sebesar Rp868,31 Miliar

Dia memperkirakan, pada tahun ini capex atau rata-rata pendapatan (tidak termasuk spektrum) ketiga emiten itu masih tinggi, yang didorong oleh rencana perluasan kapasitas dan infrastruktur fiber.

Berdasarkan laporan Fitch, saat ini TLKM memiliki peringkat BBB dengan outlook Stabil.

Demikian pula dengan rating EXCL maupun ISAT yang masing-masing berada pada level BBB, dengan prospek Stabil.

Lebih lanjut Janice menyebutkan bahwa pada tahun ini EXCL dan ISAT mengalokasikan anggaran capex masing-masing sekitar Rp7 triliun-Rp8 triliun.

Besaran capex ini lebih rendah dari perkiraan Fitch sebelumnya yanb berkisar Rp8 triliun-Rp9,5 triliun.

“Kami meyakini, kedua perusahaan telekomunikasi ini juga mendanai perluasan jaringan dan upaya fiberisasi melalui cara lain, seperti sewa pembiayaan,” ucap Janice.

Baca :  Ini Penjelasan Bos EXCL Terkait Kenaikan Pendapatan Per Kuartal III-2021

Janice menilai, investasi yang tinggi oleh operator-operator telko di Indonesia tersebut disebabkan oleh kompetisi yang belum mereda hingga 12 bulan ke depan.

“Kami meyakini, operator selular akan terus mengejar strategi penetapan harga taktis untuk meningkatkan pendapatan dalam lingkungan bisnis yang menantang,” katanya.