Kompetisi di Industri Telko Nyaris Brutal, EXCL Apresiasi Konsolidasi Tri dan ISAT

President Director & CEO PT XL Axiata Tbk (EXCL), Dian Siswarini

JAKARTA-President Director & CEO PT XL Axiata Tbk (EXCL), Dian Siswarini menilai, rencana konsolidasi PT Indosat Tbk (ISAT) dan PT Hutchison 3 Indonesia (Tri) akan menjadi aksi korporasi yang positif bagi industri telekomunikasi nasional yang memiliki persaingan sangat ketat.

Menurut Dian, rencana konsolidasi ISAT dengan Tri akan berdampak positif terhadap industri telko yang sudah kelebihan jumlah pemain.

“Sehingga, (kondisi) ini membuat persaingan menjadi sangat luar biasa dan mendekati brutal,” kata Dian dalam acara Digital Media Update Kinerja XL Axiata 2020 di Jakarta, Selasa (16/2).

Terkait dengan potensi konsolidasi EXCL dengan operator lain, Dian mengaku, perseroan tetap membuka kesempatan terciptanya konsolidasi dengan operator lain.

Baca :  ISAT Lapor ke OJK Terkait Rencana Penjualan 4.000 Menara

“Sebetulnya, dalam beberapa tahun belakangan ini XL Axiata dengan operator lain saling menjajaki opportunity untuk konsolidasi. Kalau penjajakan itu sampai pada persetujuan, tentu akan ke jenjang lebih lanjut,” paparnya.

Dian menyatakan, saat ini rencana konsolidasi ISAT dan Tri sudah masuk ke fase pembahasan eksklusif, namun tidak tertutup kemungkinan rencana tersebut berjalan mulus.

“XL melihat opportunity untuk merger. Dengan siapa? Cocok di harga berapa? Kami selalu terbuka,” ucap Dian sembari menyebutkan kinerja keuangan EXCL akan bertumbuh di 2021.

Pada kesempatan yang sama, Direktur EXCL, Budi Pramatika mengungkapkan bahwa pada tahun ini perseroan menargetkan laba bersih bisa bertumbuh positif yang akan ditopang oleh pertumbuhan pendapatan di atas rata-rata industri telko.

Baca :  Pendapatan Data Katrol Kinerja EXCL di Tengah Pandemi Covid-19

“Selama empat tahun terakhir, pendapatan kami selalu bertumbuh di atas industri,” katanya.

Sebagaimana diketahui, pada 2020 EXCL membukukan laba bersih senilai Rp372 miliar atau lebih rendah dibandingkan dengan raihan di 2019 sebesar Rp713 miliar.

Namun, laba bersih EXCL di 2020 setelah dinormalisasi mencapai Rp679 miliar, karena memasukkan dampak penjualan menara dan percepatan depresiasi.

Sementara itu, kata Budi, pada tahun lalu EXCL membukukan pendapatan sebesar Rp26,02 triliun atau bertumbuh 3 persen (year-on-year) dari perolehan di 2019 yang senilai Rp25,15 triliun.

Pada 2020, EBITDA EXCL bertumbuh 31 persen (y-o-y) menjadi Rp13,06 triliun.

“Sehingga, kami menghasilkan FCF (free cash flow) yang kuat atau meningkat 76 persen di 2020,” ujarnya.

Baca :  Fitch: Besaran Capex Emiten Telko Tetap Tinggi di Tengah Rivalitas Ketat