Pefindo Tetapkan Rating SMAR di Level Single A Plus, Dengan Outlook Stabil

ilustrasi

JAKARTA-PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo) menetapkan peringkat PT Sinar Mas Agro Resources and Technology Tbk (SMAR) sebagai perusahaan di level idA+ (Single A Plus), dengan prospek Stable.

Rating idA+ juga diberikan pada Obligasi Berkelanjutan II-2020 yang diterbitkan perseroan senilai Rp3 triliun.

Menurut keterangan dari analis Pefindo, Christyanto Wijaya yang disampaikan melalui surat elektronik, Jakarta, Kamis (25/3), peringkat tersebut berlaku untuk periode 22 Maret 2021-1 Meret 2022.

SMAR pernah meraih peringkat idAA- pada kurun April 2012-April 2016.

Menurut Christyanto, peringkat idA+ yang saat ini disematkan pada SMAR maupun obligasinya tersebut menunjukkan bahwa perusahaan perkebunan kelapa sawit ini memiliki kemampuan yang kuat dibandingkan obligor lain di Indonesia untuk memenuhi komitmen keuangan jangka panjang.

Baca :  Fitch Kukuhkan Kembali Peringkat Indonesia Pada Level Investment Grade

“Walaupun demikian, kemampuan obligor mungkin akan mudah terpengaruh oleh perubahan buruk keadaan dan kondisi ekonomi dibandingkan obligor dengan peringkat lebih tinggi,” demikian disebutkan Christyanto dalam laporan Pefindo.

Sementara itu, tanda plus (+) pada rating SMAR menunjukkan bahwa peringkat tersebut relatif kuat dan berada di atas rata-rata kategori yang bersangkutan.

Peringkat itu mencerminkan bisnis model perusahan yang terintegrasi, dengan profil perkebunan yang baik dan segmen bisnis maupun area yang terdiversifikasi secara baik.

Namun, peringkat SMAR itu dibatasi oleh struktur permodalan yang agresif, dengan kebutuhan modal kerja yang tinggi dan adanya ketergantungan terhadap pasokan bahan baku dari pihak eksternal, serta eksposur terhadap fluktuasi harga komoditas global maupun cuaca yang tidak menguntungkan.

Baca :  Kinerja Keuangan SMAR di Kuartal I-2020 Berbalik Rugi Rp1,41 Triliun

Christyanto menyebutkan, peringkat SMAR bisa dinaikkan, jika perusahaan secara konsisten melampaui EBITDA yang ditargetkan.

Selain itu, jika SMAR mampu secara signifikan memperbaiki struktur permodalan.

“SMAR harus secara efisien mengelola kebutuhan modal kerja, sehingga dapat menurunkan utang modal kerja,” ujarnya.

Tetapi, lanjut Christyanto, peringkat SMAR bisa saja diturunkan, apabila perusahaan melakukan penarikan utang yang lebih tinggi tanpa dikompensasi dengan peningkatan profil bisnis.

“Pencapaian EBITDA yang lebih rendah dari diproyeksikan di tengah tingkat utang yang tinggi dan kebutuhan modal kerja yang tinggi secara terus-menerus juga dapat memicu penurunan peringkat SMAR,” jelasnya.