Pefindo Kembali Tetapkan Rating BJBR di Level Double A Minus

ilustrasi

JAKARTA-PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo) kembali menetapkan peringkat PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Barat dan Banten Tbk (BJBR) dan Obligasi Berkelanjutan I-2017 yang diterbitkannya berada di level idAA- (Double A Minus), dengan prospek perusahaan di kategori ‘Stabil’.

Namun berdasarkan siaran pers Pefindo yang dikutip di Jakarta, Senin (26/4), rating untuk Obligasi Subordinasi Berkelanjutan I-2017 dan Obligasi Berkelanjutan II-2019 berada di level idA.

Peringkat kedua Subdebt ini berada dua tingkat di bawah peringkat BJBR, karena ada risiko dihapusbukukan pada.kondisi non-viability.

Menurut analis Pefindo, Putri Amanda, obligor dengan peringkat idAA memiliki sedikit perbedaan dengan peringkat tertinggi yang diberikan dan memiliki kemampuan yang sangat kuat untuk memenuhi komitmen keuangan jangka panjang, dibandingkan dengan obligor Indonesia lainnya.

Baca :  Fokus Pada Layanan Digital, Laba Bersih AMAR Tumbuh di Masa Pandemi

Sedangkan, tanda minus (-) menunjukkan bahwa peringkat yang diberikan relatif lemah dan di bawah rata-rata kategori yang bersangkutan.

Adapun peringkat BJBR sebagai perusahaan maupun peringkat surat utangnya tersebut berlaku selama periode 22 April 2021-1 April 2022.

Sementara itu, Efek utang dengan peringkat idA mengindikasikan bahwa kemampuan emiten untuk memenuhi komitmen keuangan jangka panjang atas efek utang tersebut adalah kuat.

Tetapi, kemampuan emiten akan terpengaruh oleh perubahan buruk pada keadaan ekonomi.

Peringkat BBJB mencerminkan posisi perusahaan yang kuat di industri perbankan, adanya pasar captive di provinsi Jawa Barat dan Banten, serta tingkat permodalan yang kuat.

Namun,  peringkat tersebut dibatasi oleh tingkat kredit bermasalah (NPL) yang tinggi di segmen kredit produktif dan indikator profitabilitas yang moderat.

Baca :  Said Abdullah Minta Pemerintah Selektif Menerapkan Kebijakan Fiskal, Termasuk Insentif Perpajakan

Pefindo menyebutkan, peringkat BBJB dapat diturunkan jika pangsa pasar perusahaan sangat menurun atau indikator keuangan mengalami pemburukan yang signifikan, khususnya pada profil profitabilitas dan kualitas aset.

Peringkat tersebut dapat dinaikkan, jika BJBR mampu memperkuat profil usaha dan pada saat yang bersamaan meningkatkan indikator kualitas aset maupun profitabilitasnya secara signifikan dan berkelanjutan.

“Kami menilai, penyebaran Covid-19 dapat meningkatkan profil risiko industri perbankan secara keseluruhan, serta menyebabkan penurunan kegiatan usaha yang signifikan di semua sektor industri dan berujung pada penurunan permintaan atas kredit maupun jasa perbankan lainnya,” papar Putri.

Selain itu, Pefindo menilai bahwa penurunan kegiatan usaha juga dapat melemahkan kemampuan debitur untuk melakukan pembayaran kewajiban, sehingga menyebabkan pemburukan kualitas aset BJBR dan selanjutnya akan memberikan tekanan terhadap indikator profitabilitas dan likuiditas.

Baca :  Satgas Waspada Investasi Hentikan Tiktok Cash dan Snack Video

“Kami menilai, dampak dari pandemi Covid-19 terhadap profil kredit BJBR dapat terkelola, didukung oleh produk inti pinjaman konsumen pegawai negeri sipil (PNS) yang mendominasi 67,2 persen dari portofolio kredit BJBR per 31 Desember 2020,” ujar Putri.

Pefindo memandang, dampak yang sangat terbatas dari pandemi terhadap kualitas aset dari pinjaman PNS, karena pinjaman ini memiliki risiko rendah dari skema pemotongan gaji secara langsung.

Segmen ini akan mendukung pendapatan BJBR dan bisa menghasilkan arus kas di tengah pandemi, serta dapat menjadi bantalan terhadap potensi penurunan kualitas aset pada segmen kredit produktif.