Riset BBTN: Demand Meningkat, Harga Rumah Mulai Naik di Kuartal Pertama

Ilustrasi

JAKARTA-Badan riset milik PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BBTN), yakni Housing Finance Center (HFC) menyebutkan bahwa harga rumah per akhir Kuartal I-2021 mengalami kenaikan hingga 5,24 persen (year-on-year), seiring dengan peningkatan permintaan hunian di masa pandemi Covid-19.

Menurut Direktur Utama Bank BTN, Haru Koesmahargyo dalam siaran pers BBTN yang dikirim melalui surat elektronik, Jakarta, Senin (26/4), hasil riset HCF juga menunjukkan bahwa kenaikan harga rumah hingga akhir Maret 2021 tersebut ditopang oleh pertumbuhan indeks harga rumah Tipe 70.

Haru menyebutkan, kenaikan harga rumah secara nasional yang terekam dalam BTN House Price Index (HPI), sejalan dengan kebutuhan mendesak terhadap hunian di masa pandemi, lantaran sebagian besar aktivitas masyarakat dilakukan di rumah.

Dengan demikian, kata Haru, kondisi tersebut menjadi peluang bagi sektor perumahan untuk kembali meraih pertumbuhan kinerja bisnis, setelah di sepanjang tahun lalu tertekan oleh dampak negatif dari situasi pandemi Covid-19.

Baca :  LPEI Jalin Kerja Sama Penjaminan Kredit Dengan BTN

“Sejalan dengan kebutuhan rumah yang mendesak, berjalannya program vaksinasi, infrastruktur yang terus dibangun, stimulus dan subsidi di sektor perumahan dari pemerintah, serta ekosistem perumahan yang terus dikembangkan oleh Bank BTN, maka kami meyakini sektor perumahan nasional akan semakin terakselerasi,” papar Haru.

Sementara itu, Investor Relations and Research Division Head Bank BTN, Winang Budoyo menyampaikan, hingga akhir Maret 2021 tingkat HPI nasional mengalami kenaikan menjadi 179,02 poin dari 170,12 poin pada akhir Maret 2020.

Secara nasional, lanjut Winang, kenaikan harga rumah per akhir Maret 2021 ditopang oleh peningkatan HPI untuk Tipe 70 sebesar 5,49 persen (y-o-y) menjadi 161,82 poin dibanding periode yang sama setahun sebelumnya sebesar 153,4 poin.

Baca :  BBTN Intensifkan Program Kemitraan Penyaluran KPR Untuk Genjot Kredit

Bahkan, ungkap Winang, peningkatan signifikan pada harga rumah Tipe 70 tersebut lebih tinggi dibanding pertumbuhan sebelum masa pandemi, yaitu sebesar 4,86 persen (y-o-y) per akhir Desember 2019.

“Vaksinasi Covid-19 sebagai salah satu program pemerintah, sepertinya telah memberikan kepastian kondisi ekonomi ke depan. Sehingga, masyarakat mulai percaya diri untuk kembali melakukan pembelian rumah,” tutur Winang.

Hasil riset HFC mencatat, rumah Tipe 36 dan Tipe 45 juga konsisten menunjukkan peningkatan.

Per akhir Maret 2021, indeks harga rumah Tipe 36 mengalami kenaikan 5,54 persen (y-o-y) menjadi 194,91 poin atau lebih tinggi dibandingkan dengan pertumbuhan per Desember 2020 sebesar 4,26 persen (y-o-y).

“Bahkan kenaikan harga rumah Tipe 36 tersebut telah mendekati pertumbuhannya sebelum Covid-19 di Desember 2019 yang sebesar 5,55 persen secara year-on-year,” kata Winang.

Baca :  SMGR Ajak BBTN Pulihkan Sektor Perumahan

Indeks harga rumah Tipe 45 per akhir Maret 2021 meningkat 4,51 persen (y-o-y) menjadi 164,4 poin.

Kenaikan harga ini terekam lebih tinggi dibanding pertumbuhan per akhir Maret 2020 yang sebesar 3,97 persen (y-o-y).

“Harga rumah Tipe 45 yang mulai bertumbuh, menunjukkan bahwa masyarakat mulai bersiap untuk memasuki iklim investasi yang lebih baik,” imbuhnya.

Berdasarkan data HPI BBTN, Jabodetabek menjadi wilayah dengan pertumbuhan harga rumah tertinggi atau sebesar 5,88 persen (y-o-y) per Kuartal I-2021.

Secara provinsi, posisi pertama ditempati oleh Sulawesi Utara yang tingkat pertumbuhan harga rumah mencapai 8,95 persen (y-o-y) per akhir Maret 2021.