KOPITU Beri Solusi Buka Hambatan Ekspor Porang ke China

Ketua Umum KOPITU Yoyok Pitoyo bersama Mentan, Syahrul Yasin Limpo

JAKARTA-Kementerian Perdagangan (Kemendag) mencatat produk dari tanaman porang kian diminati.

Terlihat dari ekspor porang meningkat 23,35% yoy di 2020

Namun sayangnya, ekspor porang dari Indonesia ke China masih mengalami hambatan.

Penyebabnya, saat ini belum memiliki kode HS Proang (konjac chips) versi China 1212 999.

Ketua Umum KOPITU Yoyok Pitoyo menjelaskan pemberhentian sementara ekspor porang ke China dikarenakan kualitas produk chips yang dihasilkan IKM Industri Kecil Menengah (IKM) tidak sesuai standar yang diinginkan perusahaan importir China.

Ini artinya, kualitas Porang Indonesia tidak memenuhi Risk Assesment .

Untuk itu KOPITU menawarkan solusi kepada partner Inacham China yaitu dukungan keterlibatan koperasi sektor riil sebagai agregator & standarisasi di sektor hulu & pabrikan chips porang dalam bentuk rumah produksi bersama dan  platform digital tracebility.

“Platform tersebut kedepannya bisa mengatasi black issue dari negara lain yang tidak menghendaki eksistensi bisnis porang berkembang di Indonesia,” jelas Yoyok dalam acara Halal Bilhalal Komite Pengusaha Mikro Kecil Menengah Indonesia Bersatu (KOPITU) yang dihadiri hampir 1000 peserta di Jakarta, Kamis (20/5).

Baca :  Jepang Minati Produk UMKM Olahan Umbi Indonesia

Ide Yoyok tersebut mendapat dukungan Kementrian Pertanian (Kementan).

Menteri Pertanian, Syahrul Yasin Limpo mendukung wacana yang digagas KOPITU.

“Kita dukung demi kemajuan petani Porang,” jelasnya.

Kemendag juga menginisiasi untuk dilakukannya kesepakatan HS Code Porang berupa Chips dan Tepung.

Saat ini masih tergabung dengan code penandaan umbi lainnya, sehingga untuk negosiasi data tersebut tidak spesifik mengarah pada porang, sehingga perlu disepakati bersama untuk HS Code yang digunakan khusus bagi porang ini.

Selain itu Dokumen Risk Assestment yang diperlukan juga akan menjadi agenda pemerintah untuk membantu Eksportir yang teregistrasi mendapatkan Health Certificate yang dibutuhkan

Selain itu, Kementerian Perindustrian (Kemenperin) juga mendukung penuh pembebasan bea masuk alkohol ke Indonesia sebesar 15%, bagi pelaku industri dibidang ekstraksi Glukomanan.

Baca :  Masuknya Kuliner Asing Mengancam UMKM Sektor Kuliner di Indonesia

Untuk diketahui alkohol merupakan bahan baku dalam proses ekstraksi kandungan Glukomanan tepung porang.

Ini merupakan bahan baku pembuat mie shiratakei, makanan beku, ice cream, hingga kapsul obat.

Dalam acara Halal Bilhalal KOPITU ini, membahas berbagai macam isu dari hulu ke hilir mengenai pertanian porang.

Salah satu isu adalah mengenai kepastian penyerapan hasil tani masyarakat penanam porang yang saat ini menjadi program Super Prioritas di Kementerian Pertanian.

Agenda penting dalam pembahasan tersebut adalah Regulasi yang menghambat kelancaran berbisnis porang, Sertifikasi dan Spesifikasi serta akses terhadap market China yang diperlukan para pengusaha porang.

Direktur Jenderal Tanaman Pangan dan Holtikultura Kementerian Pertanian, Suwandi menjelaskan pasar Indonesia baru dapat menyerap hasil produksi porang sebesar 10%.

Potensi pasar ini menjadi peluang bagi petani Porang.

“Pasar di Indonesia sendiri masih besar potensinya,” jelasnya.

Dijelaskannya, proses hasil akhir tepung yang sangat halus berwarna putih didapatkan dari hasil olahan tepung porang yang dipisahkan dari asam oksalat dan material lainnya, menghasilkan Glukomanan 100% yang dapat menjadi bahan baku beragam jenis industri yang 80% penyerapannya pada industri makanan dan minuman.

Baca :  Fokus Bisnis Sektor Pertanian, MenkopUKM Bentuk Korporatisasi Petani

“Pengolahan umbi menjadi chips, lalu menjadi tepung porang, hingga dapat mengekstrak kadar Glukomanan dalam tepung tersebut, menjadi kunci keberhasilan penyerapan dalam negeri Indonesia,” tuturnya.

Halal Bihalal KOPITU kali ini, telah sukses mempertemukan para pelaku industri porang dan pemerintah di lintas Kementerian untuk bersama-sama membantu UKM dan petani yang saat ini menanam porang.

Dengan leadermya Menteri Pertanian Syarul Yasin Limpo.

Hadir pula Wamendag Jerry Sambuaga, Dubes RI untuk RRT merangkap Mongolia, Dirjen Industri Agro Abdul Rocim, Sri Yunianti Sesdirjen IKMA , Pemprov Sumsel , Atdag KBRI Beijing dan Luki Inacham, Prof Ika Mariska , Abimanyu dengan panduam MC Sukma dan moderator Asikin , Artanto , Prof Winugroho.