Soft-Launching SNARPI, Platform Nasional Baru Bagi Karet Alam Berkelanjutan

Deputi Bidang Koordinasi Pangan dan Agribisnis Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Musdhalifah Machmud

JAKARTA-Kepedulian terhadap pengembangan karet alam nasional yang berkelanjutan akan mendapatkan wadah yang jelas melalui Sustainable Natural Rubber Platform of Indonesia  (SNARPI).

Deputi Bidang Koordinasi Pangan dan Agribisnis Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Musdhalifah Machmud mengumumkan SNARPI dalam soft-launching yang diselenggarakan Jumat (30/4).

Acara ini dilaksanakan sebagai langkah awal untuk menggalang segenap unsur-unsur masyarakat baik dari industri, pelaku usaha, akademisi, lembaga swadaya mandiri dan juga Pemerintah.

“Karet alam merupakan komoditas penting dan strategis bagi Indonesia. Di samping sebagai komoditas ekspor pertanian terbesar kedua setelah sawit, komoditas karet menjadi sumber penghidupan lebih dari 2,5 juta keluarga petani rakyat. Kelompok masyarakat ini lah yang mengelola lebih dari 85% sumber produksi karet alam di Indonesia.” tutur Musdhalifah.

Baca :  Tak Berkontribusi Sejak Beroperasi, PTBA Likuidasi Cucu Usaha

Perkebunan karet memiliki peran penting dalam pelestarian lingkungan.

Beberapa sumber penelitian menunjukkan bahwa karet alam mampu menyerap 35 ton gas CO2/ha/tahun dan melepas 13 ton O2/ha/tahun.

Selain itu juga menjadi pengatur tata air (catchment area) secara alami.

Dewasa ini, sektor karet alam mengalami tekanan ekonomi yang paling berat dalam sejarah perkaretan modern Indonesia.

Mulai dari munculnya wabah penyakit gugur daun (Pestalotiopsis sp) yang membuat produksi per hektar turun hingga 50%, depresi harga menahun selama satu dekade sejak 2011, hingga dampak perubahan cuaca El-Nino.

Dampak ekonomi dari pandemi COVID-19 yang terjadi memperjelas rentannya keberlanjutan karet alam mengingat semua pelaku usaha saling terkait dalam satu rantai nilai.

Menurunnya kegiatan produksi ban dunia membawa reaksi berantai terhadap fenomena keterpurukan industri pengolahan karet nasional dan bermuara pada kenaikan tingkat kemiskinan petani karet di banyak sentra perkebunan karet di Indonesia.

Baca :  Tiongkok Sepakat Beli 200 Juta Ton Batubara Indonesia di 2021

“SNARPI dibentuk atas dasar kesadaran untuk menjawab tantangan-tantangan tersebut dan memastikan keberlanjutan karet alam. Hal ini perlu melibatkan partisipasi dari seluruh pelaku ekonomi dari sektor hulu perkebunan hingga sektor hilir industri manufaktur barang jadi karet dalam satu irama,” tambah Musdhalifah.

Bermula dari serangkaian pertemuan sejak Agustus 2020 oleh para penggagas yang terdiri dari Gabungan Perusahaan Karet Indonesia (GAPKINDO), Rainforest Alliance, SNV dan Yayasan IDH.

Selanjutnya SNARPI mendapat dukungan penuh dari Menteri Koordinator Perekonomian Airlangga Hartarto melalui Deputi Bidang Koordinasi Pangan dan Agribisnis.

SNARPI akan melibatkan partisipasi dari instansi pemerintah pusat serta daerah yang terkait, kalangan akademisi dan lembaga penelitian, LSM, industri-industri hilir dan perwakilan dari masyarakat petani.

Baca :  Said Abdullah Minta Pemerintah Selektif Menerapkan Kebijakan Fiskal, Termasuk Insentif Perpajakan

“Dengan mengedepankan nilai kebersamaan, kolaboratif, dan sinergitas, platform ini diharapkan dapat memfasilitasi perumusan strategi yang holistik dan partisipatif bagi semua unsur dengan arah serta tujuan yang sama yaitu mendukung pencapaian target SDG’s 2030 yang mencakup aspek ekonomi, sosial, lingkungan dan tata kelola melalui sejumlah prinsip, kriteria juga indikator yang sederhana,” pungkas Musdhalifah.

Dengan demikian SNARPI akan menjadi sumber referensi utama dalam menangani isu-isu terkait perwujudan keberlanjutan karet alam Indonesia.

Seiring dengan ini, SNARPI juga akan menjadi gerbang utama di Indonesia dalam menyambut kerjasama internasional dalam mendukung upaya-upaya perwujudan karet alam berkelanjutan secara global.