Eksplorasi Panas Bumi Waesano Berdampak Positif Bagi Kesejahteraan

Para Tokoh Diaspora Manggarai Raya , dalam diskusi terbatas di Jakarta, Senin (14/6)

JAKARTA-Kelompok Diaspora Manggarai Raya, Nusa Tenggara Timur (NTT) mendukung rencana pemerintah untuk melakukan eksplorasi panas bumi Wae Sano di Kabupaten Manggarai, Flores, NTT dengan sejumlah persyaratan.

Dukungan tersebut diberikan sejauh pemerintah memastikan bahwa proyek tersebut dilaksanakan dengan prinsip kehati-hatian dan akomodasi sosial yang muaranya membawa dampak positif bagi perkembangan kesejahteraan masyarakat lokal.

“Dengan akomodasi sosial artinya masyarakat setempat betul-betul diakomodasi hak-haknya, keberpihakan pada kesejahteraan mereka menjadi yang utama dan pertama, kepentingan ekonomi, sosial, budaya semua terakomodasi dengan baik dan tentu saja atas dasar prinsip kehati-hatian sehingga tidak membawa dampak negatif bagi masyarakat,” ungkap Tokoh Diaspora Manggarai Raya Romanus Ndau Lendong, dalam diskusi terbatas di Jakarta, Senin (14/6).

Menurut Komisioner Komisi Informasi Pusat tersebut, proyek panas bumi di Indonesia bukan hal baru.

Baca :  Kementerian ESDM Siapkan Evaluasi di Delapan Lapangan Panas Bumi

Bahkan menjadi rencana pemerintah dalam rangka pengembangan energi baru terbarukan yang memang sedang digalakkan.

“Artinya di beberapa tempat di Indonesia sudah berjalan dan sesuatu yang sangat wajar bahkan sangat membantu bukan saja dari sisi elektrifikasi masyarakat tetapi juga dampaknya terhadap masyarakat lokal,” lanjut Romanus.

Dia meyakini, baik Gereja Keuskupan Ruteng maupun pemerintah punya niat dan keinginan baik untuk membantu masyarakat.

“Saya punya keyakinan, bahwa pemerintah memang sedang punya keberpihakan pada kita di Indonesia Timur utamanya NTT karena banyak proyek strategis dikerjakan di sana dalam pemerintahan ini. Dan tentu saja Keuskupan Ruteng saya yakini punya misi mulia untuk membantu masyarakat. Masa iya Gereja mencelakakan umatnya sendiri? Itu sangat tidak mungkin,” tegasnya.

Baca :  Kapasitas Terpasang Listrik Panas Bumi 7,2 GW Bukan Target Muluk

Namun demikian, dia meminta agar dalam proses sosialisasi proyek, masyarakat dipastikan dilibatkan secara baik.

“Ajak mereka terlibat penuh, transparansi juga sangat penting soal proyek ini, lalu penting juga memastikan Keberlangsungan kehidupan mereka akan jadi lebih baik. Ini namanya akomodasi sosial sehingga agenda pembangunan yang masuk tidak lalu menjadi asing bagi mereka tetapi mereka menjadi bagian yang justru tidak terpisahkan,” tukas Romanus.

Pada kesempatan yang sama Direktur Puspas Keuskupan Ruteng Marthin Chen menegaskan rekomendasi yang dikeluarkan oleh keuskupan Ruteng untuk melanjutkan proyek geothermal Waesano merupakan hasil kajian yang sangat lama sebagai jawaban atas keberatan masyarakat setempat dan penjelasan dari pemerintah.

“Artinya ini bukan asal beri rekomendasi tapi hasil studi lapangan kami, yang awalnya adalah respon kami atas keberatan masyarakat. Dan dalam prosesnya keberatan itu kami sampaikan kepada presiden lalu mendapat jawaban dan inti jawabannya adalah pemerintah siap menjamin semua keberatan masyarakat itu dijamin aman oleh pemerintah,” kata Chen.

Baca :  Potensi Panas Bumi di Indonesia Mencapai 29.000 MW

Aspek seperti kearifan lokal, dampak lingkungan, relokasi kampung, dan dampak lain yang ditakutkan masyarakat kata Chen sudah dijawab oleh pemerintah dan itu dijamin aman atau tidak akan terganggu sama sekali.

“Rasionalitas sikap Keuskupan Ruteng adalah jaminan itu dan pun jika dalam perjalanannya jaminan itu tidak terpenuhi tentu kami bisa punya sikap juga. Intinya kami juga bertanggung jawab agar mengawal semua komitmen itu. Catat saja, bagaimana mungkin Gereja mencelakakan umatnya? Tentu sangat tidak mungkin,'” pungkasnya.