KemenkopUKM Fasilitasi Ekspor UKM Rempah

Deputi Usaha Mikro Kementerian Koperasi dan UKM Eddy Satriya

JAKARTA-Kementerian Koperasi dan UKM mendukung pemberdayaan bagi pelaku Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) dengan melakukan penandatanganan nota kesepahaman atau Memorandum of Understanding (MoU) dengan Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM).

MoU ini berisikan tentang Pemberdayaan Koperasi dan UMKM di bidang Obat Tradisional, Kosmetik dan Pengolahan Pangan dengan ruang lingkup dalam MOU tersebut meningkatkan komitmen dan koordinasi dalam memfasilitasi Pembinaan dan Pendampingan serta Kemudahan penerbitan izin edar produk yang dikeluarkan oleh BPOM.

Deputi Usaha Mikro Kementerian Koperasi dan UKM Eddy Satriya dalam  talkshow  yang diselenggarakan BPOM mengatakan memiliki beberapa program di Kementerian KUKM khususnya terkait dukungan terhadap pemberian izin edar bagi UMKM selain pengganti biaya kepengurusan izin edar produk dari Badan POM.

Baca :  BPOM: 95% Bakan Baku Obat Masih Impor

“Khusus yang ada di Kedeputian Usaha Mikro terkait dengan Fasilitasi Pendaftaran Sertifikasi dan Izin Edar bagi Usaha Mikro, bagi skala  Industri Rumah Tangga Pangan (IRTP) kami menyelenggarakan penyuluhan keamanan pangan yang bekerjasama dengan Dinas Kesehatan di Daerah,” jelasnya.

Hal ini sebagai salah satu persyaratan yang penting dalam mendapatkan SPP-IRT.

Selain itu, untuk fasilitasi sertifikasi lainnya kami memfasilitasi pendaftaran sertifikasi halal dan sertifikasi merek dagang dari DJKI.

“Jadi pada intinya kami menyediakan dana pengganti kepengurusan bagi pelaku usaha mikro sehingga tidak memberatkan beban para pelaku usaha mikro dalam memperoleh izin edar bagi produknya. Namun tetap disesuaikan dengan ketersediaan pagu alokasi anggaran yang ada pada kami, yang Alhamdullilah tahun ini telah terealisasi,” ungkap Eddy.

Baca :  KOPITU Bersama BPOM Resmikan Rumah Informasi Registrasi Pangan Olahan

Disisi lain dalam mendukung program Indonesia Spice Up The World KemenkopUKM turut serta mempersiapkan UKM rempah di berbagai daerah.

Saat ini telah disusun strategi dan rencana aksi untuk percepatan terealisasinya program tersebut dengan melakukan identifikasi dan pemetaan terhadap rempah-rempah Indonesia.

“Sejumlah UKM komoditas rempah dipetakan, seperti jahe, kunyit, kapulaga, pala, dan cengkih. Pelaku UKM rempah ini akan dikurasi untuk mempersiapkan pelaku usaha bermitra dengan buyer atau restoran di luar negeri,” kata Eddy.

Untuk meningkatkan produktivitas, KemenkopUKM melakukan pendampingan, antara lain  melalui pengembangan rumah produksi bersama komoditas  jahe di Kalimantan Timur, kelapa di Sulawesi Utara.

Di samping itu, pemanfaatan lahan perhutanan sosial dalam pengembangan komoditas rempah melalui pengelolaan koperasi sebagai offtaker.

Bahkan juga dilakukan pendampingan Packaging, Quality Control, Prosedur Export (Perizinan, Sertifikasi), Pelatihan ekspor.

Baca :  KOPITU dan BPOM Adakan BIMTEK Online Pemenuhan Persyaratan dan Registrasi Izin Edar Pangan Olahan

Tahun ini,  Eddy mengatakan, pemerintah telah mempersiapkan keikutsertaan dalam Dubai Expo 2020 sebagai sarana memperluas pasar rempah Indonesia di pasar global.

Dalam pameran terbesar di dunia tersebut, akan mempertemukan UKM rempah yang telah dilakukan kurasi dan pendampingan dengan buyer potential di kawasan Timur Tengah.

“Untuk itu, dilakukan seleksi UKM rempah yang potensial yang telah memiliki standarisasi global dan mampu memperluas akses pasar khususnya di pasar Timur Tengah,” kata Eddy.

Ada 74  UKM rempah  yang telah difasilitasi oleh KemenkopUKM  dari 12 provinsi, yakni  Aceh, Bali, Banten, Yogyakarta, DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Babel, Sumatera Barat, Sumatera Selatan, Sumatera Utara.