Pefindo Tetapkan Rating TPIA di Level Double A Minus, Prospek Naik Jadi Stabil

peringkat idBBB juga disematkan pada Obligasi Berkelanjutan I yang diterbitkan PSAB.
ilustrasi

JAKARTA-PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo) menetapkan peringkat PT Chandra Asri Petrochemical Tbk (TPIA) di level idAA- (Double A Minus) untuk periode2 Juni 2021-1 Juni 2022, sedangkan outlook peringkat direvisi menjadi ‘Stabil’ dari sebelumnya di posisi ‘Negatif’.

Menurut analis Pefindo, Umar Hareddy dalam siaran pers Pefindo yang dikirim melalui surat elektronik, Senin (7/6), penetapan peringkat di level idAA- juga disematkan pada sejumlah obligasi yang diterbitkan TPIA, yakni Obligasi I-2016, Obligasi Berkelanjutan I-2017, Obligasi Berkelanjutan II-2018 dan Obligasi Berkelanjutan III-2020.

“Outlook peringkat telah direvisi menjadi ‘Stabil’ dari ‘Negatif’ untuk mencerminkan pandangan kami tentang kondisi industri petrokimia yang lebih baik dari perkiraan. Seiring dengan mulai pulihnya kondisi perekonomian, setelah sebelumnya menghadapi tantangan perang dagang global dan kekhawatiran terhadap dampak pandemi Covid-19,” ujar Umar.

Baca :  Pefindo Koreksi Proyeksi Penerbitan Surat Utang Korporasi di 2020 Jadi Rp110,95 T

Dia menyebutkan, akibat dari tantangan tersebut telah menyebabkan marjin yang lebih lebar antara harga bahan baku dan produk petrokimia, terlihat dari marjin EBITDA TPIA yang cenderung meningkat selama empat kuartal terakhir.

TPIA mengalami marjin EBITDA negatif pada Kuartal I-2020, namun marjin tersebut kembali menguat dan dibandingkan dengan sebelum pandemi menjadi 24,7 persen pada Kuartal I-2021.

Umar menjelaskan, obligor dengan peringkat idAA memiliki sedikit perbedaan dengan peringkat tertinggi yang diberikan, serta memiliki kemampuan yang sangat kuat untuk memenuhi komitmen keuangan jangka panjangnya dibandingkan dengan obligor lain di Indonesia.

Sementara itu, tanda minus (-) menunjukkan bahwa peringkat yang diberikan relatif lemah dan berada di bawah rata-rata kategori yang bersangkutan.

“Peringkat TPIA mencerminkan pandangan kami mengenai posisi terdepan TPIA dalam industri petrokimia di dalam negeri yang didukung oleh sinergi dengan mitra strategis,” papar Umar.

Baca :  TPIA Umumkan Penawaran Obligasi Rp1 Triliun Alami Oversubscribed

Selain itu, lanjut dia, peringkat TPIA juga didukung oleh operasi yang terintegrasi secara vertikal dengan fasilitas pendukung yang memadai, serta likuiditas dan fleksibilitas keuangan yang kuat.

Namun, ungkap Umar, sensitivitas terhadap siklus industri dan risiko terkait dengan ekspansi fasilitas petrokimia membatasi peringkat TPIA.

“Peringkat TPIA dapat diturunkan jika kami melihat ada penurunan secara terus-menerus dalam profil keuangan perusahaan, karena marjin laba yang lebih lemah dari perkiraan,” katanya.

Marjin laba yang lebih lemah tersebut merupakan akibat dari kenaikan harga bahan baku dan penurunan harga produk.

“Hal ini dapat diakibatkan dari permintaan untuk produk kimia yang lebih lemah dari yang diantisipasi, terutama di pasar domestik yang menjadi fokus TPIA. Selain itu, karena percepatan ekspansi kapasitas dari para pelaku industri, serta harga minyak yang lebih tinggi dari proyeksi,” tutur Umar.

Baca :  Pefindo Beri Peringkat Single A untuk Obligasi dan Sukuk BMTR Senilai Rp2 Triliun

Lebih lanjut Umar menambahkan, peringkat TPIA juga bisa berada di bawah tekanan, jika perusahaan melakukan ekspansi yang didanai dengan utang lebih tinggi dari proyeksi sebelumnya.

“Peringkat kami belum memperhitungkan rencana tambahan belanja modal yang didanai melalui utang untuk pembangunan konstruksi naphtha cracker kedua, karena masih belum terdapat keputusan investasi secara final,” ucap Umar.

Namun demikian, Pefindo bisa saja menaikkan peringkat TPIA, jika profil usaha perseroan semakin menguat secara signifikan dan perusahaan menyediakan diversifikasi produk dan pasar yang lebih baik, sehingga dapat mengurangi volatilitas marjin dengan tetap mempertahankan struktur permodalan yang konservatif.