Pengembangan Energi Terbarukan untuk Substitusi BBM

Deputi Bidang Pengembangan Usaha BUMN, Riset dan Inovasi yang diwakili Asisten Deputi Migas, Pertambangan dan Petrokimia, Andi Novianto beserta staf mengunjungi PT ENERO

JAKARTA-Sumber energi terbarukan diperlukan sebagai sumber bahan bakar pengganti dari sumber energi fosil yaitu minyak bumi yang semakin menipis jumlahnya jika tidak dibatasi penggunaannya.

Indonesia juga perlu memperkuat sumber energi terbarukannya, agar bisa menghasilkan produk pengganti bahan bakar minyak (BBM), sehingga akan mengurangi impor minyak mentah (crude) untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri.

Sebagian besar impor migas didominasi oleh impor BBM jenis gasolin dan minyak mentah. Impor migas pada April 2021 mencapai US$2,0 miliar atau sekitar 12,5% dari total impor nasional (BPS, Mei 2021).

Untuk itu diperlukan pengembangan bahan bakar dari sumber energi terbarukan supaya dapat mengurangi impor migas tersebut.

Deputi Bidang Pengembangan Usaha BUMN, Riset dan Inovasi yang diwakili Asisten Deputi Migas, Pertambangan dan Petrokimia, Andi Novianto beserta staf mengunjungi PT ENERO menjelaskan perusahaan tersebut adalah satu-satunya produsen energi terbarukan yang berdedikasi untuk pengembangan etanol di Indonesia dengan berbasiskan molasses atau tetes tebu.

Baca :  Etanol Dari Molasses, Alternatif Energi Terbarukan

Perusahaan yang berbasis di Mojokerto tersebut merupakan anak perusahaan PT Perkebunan Nusantara (PTPN) X, dan berada dalam satu kawasan yang terintegrasi dengan Pabrik Gula Gempolkrep.

PT ENERO mengolah molasses menjadi etanol dengan tingkat kemurnian 99,5% sehingga sangat ramah lingkungan, serta memiliki angka oktan tinggi yaitu Research Octane Number (RON) sebesar 117 (i.e Pertamax Turbo mempunyai RON 98).

Etanol merupakan jenis utama dari alkohol yang mempunyai struktur CH3CH2OH, atau sering disingkat C2H5OH atau C2H6O.

Ada beberapa senyawa alam yang mampu diolah untuk menghasilkan etanol, dan salah satunya dari molasses (sisa pengolahan industri gula).

Pabrik ini dirancang khusus untuk memproduksi fuel grade etanol dengan kapasitas produksi 30 ribu kiloliter per tahun.

Baca :  Sub Holding dan Bengkaknya Subsidi

Saat ini, produksi molasses PT ENERO berasal dari kebun tebu rakyat (98%) dan kebun sendiri (2%).

Etanol produksi PT ENERO sudah diekspor ke beberapa negara, seperti Filipina dan Singapura.

Di Filipina, etanol tersebut dimurnikan kembali untuk kemudian dijadikan sebagai bahan baku produk kosmetik.

Namun, semenjak terjadinya ledakan di tangki pabrik etanol pada 10 Agustus 2020 lalu, aktivitas produksi etanol di PT ENERO menurun drastis.

Pada kondisi pandemi Covid-19 saat ini, PT ENERO menjaga kelangsungan usahanya dengan memanfaatkan sisa produk etanol untuk memproduksi produk sampingan seperti hand sanitizer dan pupuk hayati.

Karena pasar hand sanitizer sudah jenuh, maka pemasaran PT ENERO lebih diarahkan untuk memenuhi kebutuhan permintaan dari instansi atau Pemkab Mojokerto, serta masyarakat setempat.

Baca :  Perpres Feed In Tariff Baru Akan Atur Harga Berdasar Jenis EBT

“Ke depannya, bisnis etanol akan lebih menarik para pelaku industri, serta dapat mendorong pemulihan perusahaan di masa pandemi dan meningkatkan pemanfaatan energi terbarukan yang lebih ramah lingkungan,” pungkas Andi.