Stok Porang Berlimpah, Yoyok: Perhatikan Kualitas Sesuai Spesifikasi Ekspor

Yoyok Pitoyo, Ketua Umum Komite Pengusaha Mikro Kecil Menengah Indonesia Bersatu (KOPITU)

JAKARTA-Budidaya porang dan industri olahanya di Indonesia mengalami kemajuan seiring berjalanya waktu.

Hal ini dimulai dari tingginya harga porang di market ekspor sehingga memancing petani dan pelaku usaha beroperasi sebagai IKM Chip porang secara otodidak.

“Dengan skala demikian, petani dan pelaku usaha tersebut hanya melakukan pengolahan dengan alat seadanya dan kontrol kualitas yang sangat rendah. Hal ini menyebabkan kualitas produk chip porang yang dihasilkan tidak sesuai dengan spesifikasi ekspor di Tiongkok. Akhirnya, produk chip porang Indonesia ditolak oleh pembeli di Tiongkok”, ungkap Ketua Umum Komite Pengusaha Mikro Kecil Menengah Indonesia Bersatu (Kopitu) Yoyok Pitoyo dalam webinar KOPITU di Jakarta 23 Juni 2021.

Melalui webinar yang diadakan oleh KOPITU dan Kementerian Pertanian, beberapa isu strategis diangkat dalam sesi diskusi dan pembahasan.

Webinar tersebut dihadiri oleh Gati Wibawaningsih selaku Ditjen IKMA Kemenperin, Supriadi Direktur Industri Makanan, Hasil Laut, dan Perikanan Kemenperin, Agus Suhendro selaku SME Business Group Head BSI, Indra Akbar Dilana selaku Analis Kebijakan Kemenperin, Totti Tjiptosumirat selaku Deputi PTN BATAN.

Hadir juga Wakil Sekretaris Jenderal KOPITU Artanto Salmoen Wargadinata, Wakil Ketua Umum KOPITU Bidang Pengembangan Pertanian dan Peternakan Prof. Mohammad Winugroho dan ratusan petani serta pelaku industri porang.

Baca :  KOPITU Beri Solusi Buka Hambatan Ekspor Porang ke China

“Penerapan standar sangat penting apalagi ketika kita berusaha melakukan penetrasi pasar di luar negeri dengan produk olahan pertanian”, ungkap Gati.

Menurut Gati, berbagai pelatihan dan sosialisasi perlu dilakukan untuk meningkatkan kesadaran dan komitmen pelaku IKM dalam menerapkan standar operasional produksi.

“Di sisi lain, penggencaran budidaya dan industri terus dilakukan berbagai pihak di Indonesia untuk memanfaatkan momentum yang ada. Misalnya seperti peningkatan lahan budidaya Kementerian Pertanian dari seluas 20.000 hektar menjadi 100.000 hektar”, ungkap Supriadi.

Hal ini mengindikasikan akan ada perubahan besar dalam wajah budidaya dan industri porang Indonesia.

Mulai dari perlunya stabilisasi ekosistem hulu pada sisi on-farm bagi para petani seperti pendampingan budidaya yang layak untuk menghasilkan produk porang berkualitas baik.

Hal ini termasuk pemilihan opsi budidaya menggunakan katak dan umbi, mengingat selisih waktu yang terjadi sangat jauh.

“Dalam hal ini, perlu dipastikan agar tidak ada kekosongan budidaya untuk menjaga supply umbi agar kuantitas yang beredar dapat terkontrol. Tugas ini tidak bisa lepas dari peran penting Kementerian Pertanian sebagai stakeholder utama dalam budidaya porang,” jelasnya.

Selain itu, perlu adanya sebuah rancangan sistem yang bersifat teknis bagi para pelaku IKM untuk dapat membuat secara mandiri alat dan mesin pengolahan.

Baca :  KOPITU dan BPOM Adakan BIMTEK Online Pemenuhan Persyaratan dan Registrasi Izin Edar Pangan Olahan

Hal ini merupakan rancangan yang dikeluarkan oleh Kementerian Perindustrian agar spesifikasi dan standar alat dan mesin dapat bersaing.

“Adapun yang sebaiknya diterima adalah dalam bentuk Detailed Engineering Design atau DED, dan Blueprint. Dengan demikian, ada peluang juga bagi para pelaku industri logam. Dengan demikian menambah peluang baru lagi bagi pelaku IKM di Indonesia. Sehingga rancang bangun dapat dilakukan secara lebih menyeluruh juga,” ungkap Yoyok.

Menurutnya, pemuliaan tanaman atau produk pangan dengan radiasi pengion menggunakan Gamma Ray bisa kita lakukan untuk memastikan produk pangan termasuk porang ini.

Salah satunya adalah menghilangkan jamur dan meningkatkan ketahanan tanaman.

“Bahkan jika memungkinkan, kita bisa juga mengatasi asam oksalat mulai dari benih agar mempermudah pengolahan selanjutnya,” ungkap Totti.

Sedangkan pada ekosistem hilir jelasnya, perlu ada perbaikan pada sisi pasar dan industri secara paralel.

Hal ini diperlukan mengingat beberapa pasar produk porang telah menolak produk dari Indonesia, sehingga dibutuhkan peluang pasar-pasar baru yang juga memiliki harga kompetitif.

Disamping itu, sisi industri perlu ada penguatan dalam proses manufaktur agar kualitas produk yang diekspor dapat terjaga sesuai standar dan spesifikasi yang berlaku.

Baca :  Ekspor Pertanian Luar Biasa, Ditjen TP: Kembangkan Keunggulan Pangan Lokal

Kementerian Perindustrian dalam hal ini memiliki peran penting dalam penguatan sentra IKM porang.

“Penerapan standar perlu digemakan pada seluruh pelaku industri porang agar kepercayaan pasar kepada produk Indonesia tidak akan luntur,” ungkap Yoyok dalam webinar.

Semua hal tersebut menjadi isu strategis dalam budidaya dan industri porang di Indonesia.

Momentum yang tengah berjalan saat ini perlu dikawal oleh pemerintah untuk mencegah adanya kerusakan ekosistem, seperti penurunan kualitas, penyusutan pasar, hingga penumpukan bahan mentah yang dapat berakibat anjloknya harga.

Karena itu, perlu ada kesiapan lebih jauh dari Kementerian Perindustrian dalam menangani industri porang yang akan meledak.

Jika hal demikian tidak dapat dicapai, maka harga porang akan segera anjlok dan momentum tersebut dapat dianggap telah hilang dan akan sangat sulit untuk mengembalikan momentum tersebut.

“Kami sangat mengapresiasi kegiatan semacam ini karena urgensi yang ada sebenarnya sangat besar dan perlu perhatian khusus. Kami sangat senang dengan adanya aktivitas produktif seperti webinar ini bagi para pelaku dalam budidaya dan industri porang. Tentunya kami juga berharap agar program-program kerja yang telah digagas dapat terlaksana dengan baik dengan bersinergi dengan para stakeholder baik pemerintah maupun non-pemerintah,” tutup Indra.